Previous Page of 4Next Page

Sepupu Cinta

Dedicated to
BundaFarhan
spinner.gif

Karel

Tidak mudah memahami dengan sungguh-sungguh hati orang lain tapi bukan berarti tidak bisa. Aku berusaha meyakini bahwa lambat laun aku akan bisa memahami hati Brina. My lovely wife. Aku tahu tidak mudah baginya untuk menerima apa yang sudah diungkapkan tante Kusno kepadanya namun ternyata dia tidak marah pada beliau.

Dia bilang dia sedih tapi bukan marah apalagi menyesal. Itu membuatku tambah salut pada kepribadian Brina. Aku mungkin malah lebih merasa tidak terima akan perlakuan tante Kusno pada Brina. Itu membuat aku juga merasa enggan dekat-dekat  dengan Anin.

Bukan sejenis dendam atau yang semacam itu namun aku merasa lebih aman jika kami benar-benar tidak lagi dekat dalam arti apapun. Itu aku, tapi beda lagi dengan pendapat Brina. Brina bahkan bertekad memenangkan hati tante Kusno dengan mempermudah fasilitasi perjodohan Anin dengan anaknya Oom Danu. Kejadiannya ketika ayah meminta kami mengantarkan undangan pernikahan ke beberapa kerabat dekat. Di rumah Om Danu kami berpapasan dengan mobil tante Kusno di gerbang besar halaman rumah Oom Danu yang seluas lapangan. Aku hafal betul mobil itu hanya saja tidak mengira kalau tante Kusno juga mengenal  Om Danu. Aku juga yakin beliau tidak mengenali kami karena hari ini kami tukeran kendaraan dengan Mas Raichan. Beliau butuh tigerku dan aku diminta menggunakan mobil mereka.

Jawabannya tercetus ketika beberapa saat kemudian om Danu cerita bahwa mereka sedang merancang perjodohan kedua  putra putri mereka. Perjodohan antara Anin dan Wisnu.

“Jadi, mereka belum pernah ketemu Om?” tanya Brina sambil duduk di samping tante Wita setelah membantu  mengeluarkan minuman untuk kami. Om Danu salah seorang kerabat ayah sehingga otomatis pula kami sama-sama mengenal beliau. Rupanya Brina juga sudah sangat akrab dengan tante Wita, jauh lebih akrab daripada aku yang memang kadang-kadang saja bertemu beliau.

“Ya. Wisnu sih sudah pernah tahu sekilas mengenai Anin. Dia juga sudah lebih dulu setuju kalau kami bermaksud mendekatkan mereka. Istilahnya bagi Wisnu hanya mempermudah urusan karena dia memang  ada hati sama Anin. Cuman..Anin itu..kenapa ya Ma?”tanya Om Danu ke tante Wita. Tante Wita melanjutkan.

“Engak..tante sama oom tadi cuma mengamati sepertinya Anin itu seperti tidak nyaman diajak  mamanya ke sini. Seperti ada yang sedang dipikirkan dengan berat gitu ya Pa?”

Deu..kalau saja tante dan oom tahu kalau yang membuat calon mantu mereka galau itu justru sosok yang ada di depan mereka.

Aku melirik sekilas ke arah Brina, nampaknya dia mengacuhkan begitu saja kata-kata om dan tante.  Belakangan aku baru tahu kalau ternyata saat itu Brina langsung terpikir untuk menjadi katalisator bagi hubungan keduanya. Maka, Brina juga yang memaksa untuk mengundang tante Kusno pada resepsi pernikahan kami.

“Biar mereka tambah akrab.” alasannya. Dia bahkan tetap kekeuh meskipun aku mengkuatirkan jika tante Kusno belum bisa menerima dengan ikhlas kenyataan bahwa aku dan Anin tidak pernah ada hubungan yang lebih dari sekedar pertemanan. Ayah dan ibu setuju-setuju saja dengan usulan Brina. Apalagi beliau juga tahu kalau selama ini kami berteman dengan baik tanpa beliau tahu bahwa tante Kusno pernah habis-habisan mencerca kami. Cukup  hanya kami dan Allah yang tahu kejadian memalukan itu.

Maka ketika akhirnya aku melihat kehadiran tante Kusno, Anin dan Om Kusno hadir di resepsi pernikahan kami aku sempat melakukan gerakan protective pada Brina. Bermaksud melindungi Brina dari serangan. Sejenak kemudian akal sehatku menang karena kemudian aku yakin tante Kusno pun tidak akan melakukan tindakan konyol yang justru akan mempermalukan  dirinya sendiri.

Beliau memang belum benar-benar  membuka hati terlihat dari ekspresi wajahnya yang belum sepenuhnya cerah tapi tak urung ucapan selamat terlantun juga pada kami di atas panggung. Anin tersenyum canggung ke arah kami di belakang mama papanya.

“Makasih kehadirannya om, tante, Anin…”ucap Brina ceria ketika mereka melewati tempat kami berdiri. Matanya sibuk mencari-cari Wisnu. Wisnu yang sudah menginap semalam di rumah sempat dipengaruhi Brina untuk menemui Anin di bawah panggung begitu mereka turun menyalami kami dan kedua ayah ibu kami.

“Semangat banget sih menjodohkannya…”bisikku pelan ketika mereka berlalu. Brina menoleh ke arahku dan nyengir.

Previous Page of 4Next Page

Comments & Reviews (21)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended