HESPER (SELESAI)

By imsummerona

170K 11.4K 3K

[BEBERAPA PART DIPRIVATE, FOLLOW DULU BARU BISA BACA] ⚠️UDAH SELESAI⚠️ Kita memang sama. Memiliki sinar cahay... More

PROLOG
1. Mulai Mengganggu
2. Gagal Lagi
3. Cewek Caper
4. Dapat!
5. Si Penjambak Rambut
6. Manis?
7. Berbalas Kata
8. Pecitraan
9. Ambigu
10. Masa Lalu dan Rindu
11. Pelaku dan Penyesalan
12. Jangan Benci
14. Sweet Seventeen
15. Maaf
16. Harapan
17. Salah Faham
18. Permintaan Maaf
19. Bocah Vs. Alien
20. Date
21. Dare
22. Ada Apa Dengan Dara?
23. Pertanyaan Tak Terjawab
24. Cemburu
25. Masalah Baru
26. Bintang Kebahagiaan
27. Bintang
28. Dihukum, Lagi
29. Fakta Dilema
30. Baikan?
31. Altara Pergi?
32. Altara Menjauh
WAJIB BACA !
33. Semakin Jauh
34. Angka Hilang
35. Perpisahan
36. Tara Pergi?
RAINKAR
SAHAJA
37. Dalang Utama
38. Rumus
39. Who Davie?
40. Paket
41. Massa Rindu
42. Altara Marah?
43. Bandung
44. Luka, Lagi
45. Keberuntungan Tara Habis
46. Tempat Khusus

13. Gak Rela Dibenci

3.3K 273 17
By imsummerona

Lagi lagi.

Di tengah malam yang sunyi.

Aku rindu kamu, di sini.

-Dari Tara untuk Altara.

( Hargai author dengan cara komen ya, readers sayang nan baik hati aku. Nanti aku balas kok asal jangan komen next doang. Janji. )

"Ada sekeping perasaan yang baru saja kamu runtuhkan lagi. Entah sengaja atau disengaja. Yang pasti dan yang benar benar aku tahu adalah, sekeping rasa itu aku. Tapi, entah mengapa, aku masih berusaha menyatukan perasaan itu kembali untukmu, lagi."

HESPER

Now playing music
Tega - Rossa

Hari ini, Tara berniat untuk mengembalikan jaket milik Altara. Namun, sebelum itu Tara meminta pendapat kepada Raya terlebih dahulu. Semacam konsultasi. "Eh, Ray, gue mau balikin jaket Altara, tapi kapan ya?"

Sebenarnya, tadi pagi, Tara sudah bercerita tentang kejadian kemarin sewaktu Altara mengantarkannya pulang. Awal awal, Raya tak percaya, tapi setelah terbukti ada jaket milik Altara, ya, jadi percaya.

"Gimana, kalau sekarang? Kelas Dara kan lagi jam olahraga. Berarti mereka, termasuk Altara lagi ada di lapangan. Kasih minum, Ra. Biar romantis gitu, haha."

"Iya juga, tapi, sekarang kan lagi belajar matematika, Ray?"

"Ah elah, biasanya juga lo alesan ngisi spidol kalo males belajar," cibir Raya.

"Aduh, lupa, efek kepentok cinta Altara. Udah yuk, ngisi spidol."

Dengan semangat, mereka berdua izin kepada pak Budin, guru matematika kelas sebelas, guru matematika terlucu dan tersantuy. Jadi, beliau membebaskan muridnya untuk keluar dengan alasan apapun. Termasuk mengisi spidol. Padahal, di dalam kelas juga bisa, kan? Tapi, untung yang ngajar pak Budin. Jadi, ngisi spidol sambil nyamperin doi, bisa.

"Aduh, Ray, gue deg-degan nih suer," jujur Tara saat mereka sudah berada di koridor dekat lapangan basket. Melihat Altara yang sedang bermain basket dengan lincahnya. Boleh saja Atara gak jago futsal, tapi dia ahli dibidang basket. Ga heran kalau doi tinggi.

"Aduh, Ray, doi ganteng banget lagi! Gue kan jimayu."

"Anjir, Ta, alay banget lo suer. Dulu, sama si onoh, lo ga sealay ini anjir," ledek Raya disertai tawanya.

"Ini tuh beda, Altara tuh sesuatu banget buat gue."

"Kalau gitu, cepet kasih anjir tuh mereka udah duduk tuh, pasti Altara capek banget. Ini waktu yang pas untuk lo nunjukin perhatian lo. Ayo, semangat!"

Tara melihat orang orang yang semula bermain basket sekarang sedang duduk sambil meminum air mineral yang mereka bawa. Altara duduk sambil menyender dan menutup mata. Di sebelahnya ada Samuel, yang entah mengapa bisa di sana dengan pakaian seragam biasa bukan olahraga, wajar anak kelas lain. Tapi Tara gak tau alasan Samuel bisa di sana padahal sekarang kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung.

Tara mengumpulkan keberanian, dia berjalan mendekat ke arah Altara sambil menenteng minuman dan tote bag berisi jaket, yang dia umpatkan di belakang badan sedari tadi, waktu izin ke pak Budin.

"Altara?"

Altara membuka matanya. Tanpa bersuara. Hanya menatap Tara dengan tatapan datar.

"Gue mau balikin jaket dari lo. Makasih, ya," ucap Tara, dia menaruh totebag itu di samping Altara.

"Udah?"

"Belum."

"Apalagi, sih?"

"Biasa aja sih, jadi orang nyatai dikit kali, Al."

"Gue gak punya waktu untuk nyantai sama lo."

"Lo aus kan tadi abis main basket? Gue bawa minum untuk lo, nih," kata Tara, dia menyodongkan tempat minum berwarna pink miliknya. Altara hanya menatap botol itu tanpa minat mengambil.

'prang'

"Lo bisa gak sih gak ganggu?" seru Samuel yang baru saja menjatuhkan botol minum itu ke bawah. Tara terkejut dengan apa yang baru Samuel lakukan. Untung, dia gak punya penyakit jantung.

"Gue gak punya urusan sama lo by the way. Ikut campur banget sih, jadi orang."

"Gue di sini sebagai juru bicara Altara. Karena, Altara gak tega sama lo yang ngemis-ngemis cinta ke dia. Lo itu penganggu."

Alis Tara menyatu, heran dengan orang gila satu ini. Mengaku aku jadi juru bicara Altara, kayak sedang berada di pengadilan saja. "Sinting ya lo? Altara itu punya mulut."

"Lo nyadar ga? Sikap lo itu bikin Altara risih. Lo itu punya otak gak sih? Lo ngasih jaket ini ke Altara di depan banyak orang. Bikin malu Altara doang tau gak sih. Biar apa? Biar semua orang tau lo dipinjemin jaket sama Altara? Dan, Altara gak butuh botol pink manja lo itu. Karena apa? Karena dia gak suka sama lo. Altara gak suka sama lo!"

Bagai pisau yang menyayat hati. Ribuan pisau sedang menyayat hati Tara saat ini saat mendengar penuturan panjang dari Samuel. Samuel, yang notabenya adalah sahabat Altara sedari sekolah dasar. Awalnya, Tara tak percaya namun karena Altara tak menyanggah. Dia jadi percaya sepenuhnya.

"Pemikiran lo itu terlalu negatif tau gak. Gue cuma niat ngembaliin, gak lebih! Lagian kenapa kalau Altara gak suka sama gue? Itu urusan gue sama Altara. Dan lo, gak usah ikut campur, kurang kerjaan banget sih."

Samuel yang mulai memanas, maju mendekat ke arah Tara. Tara menatap sengit Samuel di depannya. Dia tidak takut kalau tiba tiba Samuel bermain fisik. Cuma laki laki yang gak tau diri yang nyakitin perempuan dengan tangannya sendiri.

"Apa? Gak terima? Gue gak takut ya, sama lo. Jangan mentang mentang badan gede deh lo. Percuma punya badan gede tapi mental pecundang yang cuma bisa lawan cewe," jelas Tara.

Samuel maju selangkah, namun tiba tiba Altara menariknya. Jadilah, Altara yang kini berada di depan Tara. Cowok dengan mata tak berbinar itu lagi lagi menampakkan wajah datar. "Gue minta lo pergi, sekarang."

"Kenapa? Kenapa lo nyuruh gue pergi?"

"Karena, gue emang bener bener gak suka sama lo. Lo ngelakuin hal apapun juga hasilnya tetep sama. Gue gak akan suka sama pacar pembunuh Kejora," sarkastik Altara di depan banyak orang yang sekarang menatap mereka bertiga.

"Bima bukan pembunuh!"

"Terserah. Gue muak ngomong sama lo," ucap Altara kemudian melengang pergi begitu saja diikuti oleh Samuel sebagai ekor. Sedangkan, Tara masih berdiri di sana, dengan diperhatikan oleh orang orang di sana. Hingga akhirnya Dara dan Raya menarik paksa Tara agar pergi dari sana.

***

"Lo apa apaan sih, Sam, bilang gitu ke Tara?" tanya Altara yang mengacak rambut, terlihat frutasi dengan apa yang baru terjadi. Mereka berdua sedang berada di rooftop.  Duduk di sana sembari menikmati semilir angin yang lewat.

"Emang gitu kan kenyataannya? Itu kan yang lo pengin omongin ke dia? Gue cuma mau mengeluarkan hak suara lo. Biar itu cewek gak ganggu lo terus," jelas Samuel.

Altara mendesis, dia menyenderkan badan ke tembok sambil menatap ke arah langit. Wajah Tara tadi masih menjadi bayang bayang untuknya. Dia memang membenci Tara sebagai pacar Bima. Tapi kenapa dia justru gak tega saat melihat Tara tadi? Kenapa dia merasa bersalah telah melontarkan ucapan pedas tadi?

"Kalau Tara benci gue gimana?"

"Bagus dong, tuh cewek gak bakal deketin lo lagi. Dan lo bebas."

Setelah mendengar ucapan Samuel yang membuat campur aduk perasaaan, Altara pergi dari sana, tanpa izin kepada Samuel yang ditinggal pergi begitu saja.

Altara berjalan menuju lapangan basket yang sudah sepi. Mengambil botol minum berwarna pink milik Tara yang jatuh ke lantai lapangan indoor. Lalu meminum air itu hingga habis. Kemudian, Altara mengambil tote bag berisi jaket yang masih setia berada di kursi penonton, lalu memasukkan botol itu ke dalam tote bag.

Altara membawa tote bag berwarna biru tersebut ke dalam kelas, dan dia memasukannya ke dalam tas hitam yang kali ini milik dirinya sendiri bukan milik Tara, gadis yang baru dia sakiti hatinya entah sengaja atau tanpa sengaja. Bertepatan itu, Dara yang baru saja ganti baju duduk di bangku belakang Altara.

"Dar, Tara baik baik aja?"

Dara menoleh ke arah Altara. Melongo tak percaya mendekar pertanyaan Altara barusan. "Lo bego atau gimana? Jelas sakit hati lah pake nanya. Cewe mana yang dibilang gitu sama cowok yang dia suka tapi gak baik baik aja. Tapi tenang aja, Tara gak bakal ganggu lo lagi kok."

Altara terdiam, mencerna kata demi kata yang dijelaskan oleh Dara.

"Eh, kok lo tiba tiba nanya gitu ke gue?" tanya Dara.

"Bilang ke Tara, gak perlu ngejauh dari gue. Gue gak setuju."

"Hah? Lo bilang apa?"

"Lupain."

Altara pergi ke luar kelas, berniat mengganti baju sekaligus pergi dari sana untuk menghindari pertanyaan dari Dara. "Bego, ngapain sih bilang gituan segala?" tanyanya pada diri sendiri yang bisa bisanya berkata seperti tadi. Lagi juga, benar kata Samuel, kalau Tara benci dirinya. Tara akan menganggu dirinya lagi dan dia akan bebas.

CUWIWITAN AUTHOR

JANGAN LUPA KOMEN YA!!! BIAR AUTHOR SEMANGAT!!! MAKASIH SEMUAAAA ( :

Continue Reading

You'll Also Like

132K 11.2K 23
Woman loves woman "P'ling apa kau tau hal yg ku rasakan saat melihatmu waktu pertama kali kita bertemu?" Tanya orm "Tidak, memangnya apa yg kau rasak...
20.6K 6.7K 27
[BEBAS MEMBACA!] • [SELESAI] Semesta terkadang lucu mempertemukan dua manusia untuk saling menemani, saling memahami atau saling mengikhlaskan sebelu...
306K 10.1K 38
#1 teenlit indonesia [4/09/2019] (PART LENGKAP) Bagi gue, cewek adalah makhluk paling merepotkan. Tapi sial! Kenapa gue harus berurusan sama cewek s...
ANGKASA By Sephile

Teen Fiction

139K 12.2K 70
Angkasa, aku akan memberitahukan kepadamu betapa sulitnya mencintai seseorang yang sama selama dua tahun terakhir. Betapa lelahnya aku bertahan denga...
Wattpad App - Unlock exclusive features