Zara menoleh pada Risya yang sudah terlelap dalam mimpinya. Ia tersenyum.
"Makasih, Sya. Aku beruntung punya kamu," bisiknya.
Zara menunduk. Perlahan, air mata mengalir semakin deras di wajahnya. Tanpa disuruh, tanpa dipinta. Mengalir begitu saja.
Ia menahan Isak tangis yang hendak keluar dari bibirnya. Menutup matanya sebentar untuk menenangkan hatinya.
Zara kembali membuka matanya. Ia tersenyum tipis lalu berucap pelan, "kamu bener, Sya. Aku nggak mau dengerin diri aku sendiri. Soalnya aku nggak mau jadi gadis lemah di hadapan diri aku sendiri."
"Ini ... saakiit sekali. Sungguh menyiksa. Sungguh melelahkan. Maaf, aku. Maaf diriku. Aku sempat tidak mendengarkan kamu ...."
Isak tangis Zara terdengar. Sulit sekali rasanya menahan tangis yang hendak menderai. Sesak. Seperti ada yang hendak mendobrak. Mendorong dengan kuat di dada. Meronta hebat hendak dikeluarkan.
Rasanya air mata mengalir tidak bisa dihentikan. Ingin menjerit, namun justru semakin sakit. Semua terasa menghimpit.
Zara menarik nafasnya, lalu menghembuskannya pelan-pelan. Semua kejadian yang menimpanya bagai kaset kusut yang diputar ulang. Membuatnya begitu merasa sakit hati.
Sangat sakit. Namun ia tidak mampu berbuat banyak. Hanya inilah yang bisa dia lakukan. Pura-pura tidak tahu padahal tahu.
Ia tahu saat orang-orang disekitarnya membicarakannya. Ia tahu saat orang-orang di sekitarnya merendahkannya, meremehkannya. Bahkan juga kepada keluarganya.
Sakit? Tak perlu ditanya lagi. Sangat sakit. Menyiksa sekali. Ingin bisa berbuat banyak namun nyatanya tak bisa apa-apa.
Juga semakin lama, jantungnya terasa semakin nyeri. Soal ini, Zara benar-benar tidak sanggup.
Semenjak kakaknya bangkrut, lelaki itu tidak lagi membelikannya obat. Bahkan hingga sekarang, Zara tidak berani meminta dibelikan.
Obat-obatnya sungguh banyak dan tentu saja dengan harga yang tidak bisa dikatakan murah. Terlebih jika ia harus memeriksa lagi. Mungkin bisa jadi obatnya akan bertambah banyak.
"Aku ... tidak tau, Sya. Sampai kapan ... aku ... bisa bertahan." Zara berucap sambil menahan Isak tangis yang hendak keluar.
Ia sempat terdiam sangat lama. Sebelum kembali berkata.
"Nggak! Aku ... harus kuat. Untuk Mama, untuk kakak, dan untuk diriku sendiri! Aku ... pasti bisa!" Zara menyemangati dirinya sendiri.
"Sya," panggil Zara pada Risya yang sudah tertidur pulas.
"Sya," panggilnya lagi. Kali ini sambil menggoyangkan tubuh Risya.
"Hmm ...."
"Punya nomor Agung?"
"Em? Nggak tau Agung siapa. Nggak kenal. Mas Agung? Mas Siwon yah? Suju? Eh?" gumam Risya.
"Apaan sih?" Zara terkekeh pelan mendengarnya.
"Agung, Sya. Temen SMA."
"Oh ... si lelaki br*ngs*k ... itu? Liat aja ... di hp aku," jawab Risya setengah bergumam.
"Aku liat yah?" tanya Zara lagi.
"Hmm ...."
Zara meraih ponsel Risya. Ia langsung mencari nomor ponsel Agung. Tak ingin berlama-lama menggunakan ponsel Risya ketika gadis itu sedang tidur. Rasanya tetap saja tidak sopan.
Setelah menemukan nomor ponsel Agung lalu mengirimkannya pada nomornya sendiri, Zara mengembalikan ponsel Risya.
Zara memperhatikan angka terakhir nomor ponsel Agung di ponselnya. Lalu membuka aplikasi pesan. Memastikan nomor yang beberapa hari mengganggunya itu.
"Aku ... benar. Itu kamu, Agung."
Zara mulai mengetikkan sesuatu.
Ini Agung? Saya Zara.
Zara menatap pesannya yang baru saja terkirim. Ia menghela nafasnya. Mencoba meyakinkan dirinya lagi.
Ting!
Satu pesan masuk. Zara kembali membuka aplikasi pesan.
Iya.
Hanya itu balasan dari nomor Agung. Zara menjadi tidak yakin apakah benar itu nomor Agung. Namun buru-buru ia usir fikiran itu. Jelas-jelas tadi dia sendiri yang meminta nomor itu dari ponsel Risya.
Bisa ketemu besok? Ada yang mau saya omongin.
Zara kembali menghela nafasnya. Kenapa rasanya ia menjadi tegang begini? Sungguh membuatnya frustasi.
Bisa.
Zara menatap balasan Agung. Terlalu singkat.
Tempatnya mau kamu yang nentuin atau saya?
Zara menunggu balasan Agung. Namun setelah beberapa menit kemudian, dia menyerah. Malam sudah larut. Ia benar-benar merasa harus istirahat. Rasa kantuk tiba-tiba menyergap.
Zara meletakkan ponselnya di atas meja. Lalu memilih tidur.
"Terima kasih untuk hari ini, ya Allah. Alhamdulillah ...."
***
Zara baru saja selesai membereskan rumah. Kebetulan hari Minggu ia menjadi bisa lebih bersantai. Ia menghampiri mamanya yang tengah menyiapkan sarapan.
"Masak apa, Ma?"
"Nasi goreng. Udah kamu duduk aja. Ini biar Mama yang selesain," ucap mamanya disela-sela memasaknya.
Zara menganggukkan kepalanya. Ia memilih duduk di meja makan sambil menunggu mamanya masak.
Ting!
Notifikasi ponselnya berbunyi nyaring. Satu pesan masuk.
Ra, jam tangan aku ketinggalan. Titip yah. Nanti kalau aku ke situ lagi, aku ambil.
Zara terkekeh melihat pesan dari Risya itu.
Iya.
Hanya itu balasan darinya. Zara beralih melihat beberapa pesan lainnya yang masuk ke ponsel Zara. Tatapannya tertuju pada satu pesan. Ia segera membukanya.
Gw yang nentuin.
Dari Agung. Lelaki itu juga mengirimkan lokasi yang dia tentukan. Zara segera mengecek lokasi yang dikirimkan oleh Agung.
Zara menganggukkan kepalanya. Ia tau tempat itu. Setidaknya tidak begitu jauh.
"Ra, ayo sarapan. Kak Arkan mana?"
Ucapan mamanya membuat Zara mendongakkan kepalanya.
"Di kamarnya," jawab Zara sambil meletakkan ponselnya di atas meja.
"Kamu kerja hari ini?" tanya mamanya.
"Kerja. Cuma Nando bilang dia mau buka coffee shop agak siangan. Dia ada beberapa urusan," jawab Zara sekenanya.
"Nando kayaknya pekerja keras banget yah, Ra?"
Zara mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Yaudah Zara panggil kak Arkan dulu yah, Ma."
Zara berdiri. Hendak menuju ke kamar Arkan. Baru saja berbalik, ia melihat Arkan tengah berjalan ke ruang makan.
"Nggak usah dipanggil. Kakak di sini kok."
Arkan segera duduk di samping Zara. Zara pun kembali duduk.
"Makan yang banyak yah. Kalian tuh butuh banyak energi buat kerja," ucap Fatimah.
Zara mengangguk. "Iya, Ma. Mama juga harus makan yang banyak."
Fatimah tersenyum sambil menoleh pada anak gadis satu-satunya itu. Sudah banyak sekali yang mereka lalui. Ia tau semua ini berat. Hingga hal semacam ini saja Fatimah merasakan matanya panas. Menahan air mata yang hendak turun.
Semenjak beberapa bulan terakhir pun, ia dan dirinya jarang sekali berbincang. Bahkan untuk sekedar saling menanyakan keadaan. Mereka terlalu sibuk dengan usaha mereka untuk mengembalikan ekonomi keluarga.
Fatimah berkata dalam hati, lebih tepatnya berjanji. Ia akan mengajak Zara berbicara sewaktu-waktu.
"Ayo, dimakan." Fatimah mengambilkan piring untuk Arkan dan Zara. Lalu mengisinya dengan nasi dan memberikannya kepada kedua anaknya.
Arkan dan Zara mengangguk.
Mereka bertiga makan dalam diam. Menghabiskan dengan lahap makanan dihadapan mereka.
"Ma, biar Zara yang cuci piringnya yah." Zara yang sudah menyelesaikan sarapannya bangkit lalu mulai mengambil beberapa piring yang sudah kosong.
Fatimah tidak bisa mencegah Zara. Gadis itu sudah menuju dapur.
"Gimana kerjaan kamu?" tanya Fatimah pada Arkan yang juga sudah menyelesaikan sarapannya.
"Alhamdulillah lancar, Ma." Arkan tersenyum pada mamanya.
"Ma," panggil Arkan.
"Iya?" Fatimah menoleh pada Arkan.
"Mama berhenti kerja yah? Biar Arkan dan Zara aja yang kerja," kata Arkan dengan pelan.
Fatimah menghela nafasnya. "Nggak, Kan. Mama harus tetep kerja. Seharusnya Zara yang berhenti kerja, Kan. Mama nggak bisa ngeliat Zara kerja sampe kecapean kayak sekarang. Kita sama-sama tau penyakit Zara masih ada di tubuhnya dan nggak bakal hilang."
Arkan menunduk lalu menghela nafasnya berat. Benar perkataan mamanya. Sudah lama sekali dirinya dan mamanya tidak membahas soal Zara lagi.
Zara terdiam di dapur. Tentu saja ia mendengar semuanya. Pendengarnya masih berfungsi dengan baik. Hatinya sakit sekali mendengar pembahasan kedua orang yang sangat disayanginya itu.
Dadanya sesak. Hatinya bagai ditusuk ribuan jarum. Sedih karena ketidakmampuannya berbuat sesuatu. Ia justru membuat keluarganya khawatir.
Zara menarik nafasnya lalu menghembuskannya pelan-pelan. Setelah menyelesaikan tugasnya mencuci piring, Zara kembali ke meja makan.
"Mama kemana kak?" tanya Zara saat tidak menemukan keberadaan mamanya.
"Balik ke kamar," jawab Arkan.
"Ra," panggilnya.
Tatapan mata Arkan sangat membuat hati Zara terluka. Tatapan yang sejak dulu ada namun kali ini lebih dalam. Tatapan mata yang penuh kekhawatiran dan kesedihan.
"Zara baik-baik aja, kak. Kakak sama Mama nggak perlu khawatir. Serius deh, Zara baik-baik aja." Zara berusaha meyakinkan Arkan.
Namun tatapan kakaknya itu tidak berubah sedikitpun. Justru terlihat semakin sedih.
Zara sudah tidak tahan lagi melihat kakaknya. Hatinya bagai disayat.
"Zara balik ke kamar yah, kak." Zara pamit lalu pergi meninggalkan Arkan sendirian.
Arkan lagi-lagi menghela nafasnya.
***
Ditulis;
Selasa, 31 Maret 2020