—semua berawal dari hati—
××××××××××××
"Lalu bagaimana dengan statusku yang pemimpin pasar gelap ilegal dan juga pemimpin Mafia jangkauan Eropa dan Spanyol? Apa aku masih bisa mendapatkan agama Islam?"
Uhuk!
Uhuk!
Uhuk!
Sela sedikit tersedak dengan air putih yang sedang ia minum. Mendengar ucapan serius dari pria di depannya ini, membuat Sela pun melongo tidak percaya di buatnya.
"M-maksud mu?"
"Sekarang gunakan akal pikiran mu dengan baik. Mana ada, pria baik baik yang akan melakukan jual beli wanita. Termasuk kau, kau ku beli untuk menjadi budak sex-ku."
Sela bingung.
"Jadi... Tidak hanya aku yang menjadi korban?" tanya Sela dengan gumam kecil di mulutnya.
"Ya. Sudah banyak wanita seperti mu yang menjerit nikmat di ranjang denganku. Namun, sulit sekali untuk ku menaklukan mu."
Sela menggelengkan kepalanya mengusir segala pikiran buruk dan kotor di pikirannya.
"Atau, kau ingin melihat bagaimana caraku mengeksekusi para pengkhianat dan musuhku?"
Sela menggenggam gelas yang ada di tangannya dengan kuat.
"Kau akan melihat sisiku yang lain dan ku pastikan lebih menyeramkan dari yang kau alami." ucap Will dengan tatapan mata gelap.
"A-apa itu pasar gelap?"
"Kau ingin tahu? Akan ku tunjukan nanti, pulihkan tubuh mu dan makan."
***
Beberapa hari kemudian, setelah kejadian yang menakutkan kemarin. Sela mencoba untuk selalu patuh dengan Will seperti ucapan Mia tempo hari. Tapi, tidak untuk keinginan Will yang satu ini, sex.
Sekeliling rumah Will, selalu di jaga pria tinggi dengan pakaian hitam di sana. Sela pun selalu mendapati pria pria itu hanya berdiri diam mematung ditempat.
Seperti saat ini, Will memanggil Sela untuk naik ke ruang kerjanya. Sama, pria-pria itu tengah berdiri diam.
"M-maaf, Tuan Will, menyuruhku masuk."
Dia Ansel. Paham dengan yang Sela katakan, Ansel menggeser posisi awal untuk memberi jalan Sela masuk.
"Silahkan."
Sela mengangguk kecil.
Cklek!
Sela masuk perlahan, Ansel menutup pintu tersebut dari luar. Dapat Sela lihat, Will tengah duduk menggunakan kaca mata baca, tuxedo lengkap, dan laptop di depannya. Tak dapat Sela pungkiri, Will memang pria matang yang tampan.
Bulu - bulu lembut dan halus tumbuh di sekitar dagunya. Rambut yang sedikit berantakan namun membuat ketampanannya berlipat ganda.
Namun sayang, Will yang dari luar nampak seperti pria yang baik dan juga penyayang tidak seperti itu aslinya.
"Assalamualaikum," ucap lembut Sela kepada Will. Pria itu tersadar dan mengalihkan fokusnya kepada pemilik suara tersebut.
Will terpaku pada Sela kali ini. Gadis mungil itu, berpakaian panjang serba nuansa pink dan itu malah membuat Will bergairah. Entah mengapa, padahal Sela saat ini menggunakan hijab yang besar. Tidak seperti pertama datang yang hanya menggunakan scraf biasa.
Sela yang merasa di perhatikan intens oleh pria di depannya itu, canggung dan salah tingkah. "Ah... K-kau melihat apa, Will?"
Will tersadar dan langsung melepas kaca mata kemudian mengusap wajahnya. "Duduk lah."
Will merasa sangat bodoh saat ini di depan wanita. Baru pertama kali seperti ini. Ia ingin marah, namun seperti ada yang mengerem itu semua.
Sela perlahan duduk di kursi depan meja Will. Seperti biasa, Sela enggan bertatap mata lebih dengan Will yang bukan mahromnya. Itu salah satu dosa yang biasa manusia awam lakukan.
"Seperti janjiku tempo hari. Aku akan mengajakmu ke markas utama black market."
"Oh? Apa di sana aku akan melihat pembunuhan, mayat, darah, dan-"
"Aku rasa kau ini memang benar benar bodoh. Bukan kah aku sudah pernah mengatakan ini, jika aku akan membunuh orang yang berkhianat dan menganggu hidupku, maupun orang terdekatku."
Sela mengangguk dalam diam.
"Kau tahu pria yang berjaga di depan sana?" ucap Will sambil menunjuk pintu utama ruangan ini. Sela mengikuti arah tunjuk Will, seketika menggeleng.
"Pria-pria menakutkan di luar sana, aku pikir semua sama saja. Mereka berpakaian sama, bertingkah sama, dan juga... Berwajah sama, maybe?"
Will seketika terkekeh. Ucapan Sela tadi, membuat ia tertawa walaupun kecil untuk pertama kalinya karena seorang gadis.
"Mereka berbeda. Jadi, kau sudah siap?"
"Ahh... Ya. Bismillah."
Keduanya hendak beranjak namun,
"Wait!" sentak Sela yang mengejutkan, membuat Will kembali ke posisi duduknya.
"Why ?"
"Di sana, kau tidak akan menjual ku bukan? Atau membunuhku? Atau-"
"Stop it ! Mari kita berangkat.". ucap datar Will dan langsung melangkahkan lakinya keluar dari ruang kerjanya.
***
Berada di dalam satu mobil dengan pria asing membuat Sela lagi lagi canggung. Mereka duduk berjauhan.
Sela di sisi kanan dan Will di sisi kiri. Sela melihat pemandangan gedung-gedung pencakar langit di kota Cordoba ini lewat kaca mobil di sampingnya.
Hingga ia menangkap sosok objek.
"Bisa kita berhenti?!" ucap Sela tergesa-gesa.
"Kenapa? Kau mengalami sesuatu?"
Mobil mulai menepi saat sang pengemudi pribadi Will mendapat perintah dari sang atasan.
Ada apa dari sorot mata pria itu?
Apa dia khawatir?
Kepada gadis ini?
"Di sana. Aku ingin menemuinya. Hanya sebentar."
Kepala Will menengok kebelakang. Melihat siapa yang Sela maksud. Kini pria itu paham, Mark tengah berdiri di sana sembari berbincang bincang dengan seseorang. Rahang Will mengeras. Ia tahu, apa maksud Sela ingin bertemu dengan Mark.
"Tidak. Aku tidak mengizinkan mu. Ayo kita jalan." ucap Will yang kembali dingin.
"Will... Ku mohon," rengek Sela.
Will dalam sekejap langsung menatap Sela dengan tajam.
"Jangan buat aku untuk melakukan hal yang sama seperti kemarin pada mu." ancam Will dengan suara rendahnya.
Tangan Will yang semula memegang tab, kini di gunakan untuk memegang tangan Sela dan menariknya kuat. Hingga tubuh gadis itu terjerembab ke tubuh Will.
Dengan sigap Will langsung memeluk Sela dari samping. Tubuh Sela spontan menegang. Tak biasanya Sela mendapatkan perlakukan seperti ini dari seorang pria. Pria dalam arti bukan pria mahromnya.
"Kini, aku tuan mu. Kau harus patuh denganku jika tidak mau tubuh mu menjadi korban. Mengerti?" tanya Will dengan suaranya yang terdengar lebih tenang.
Sela mengangguk dengan ragu campur takut.
"Bagus." gumam puas Will.
***
Mobil sedan hitam milik Will, berhenti sesaat setelah memasuki sebuah gudang besar yang berada di sekitar laut. Ini, nampak seperti dermaga barang yang cukup aktif dengan kegiatan ekspor impor barang.
Namun, orang orang di sini nampak seperti robot yang hanya bergerak tanpa ada interaksi dalam bentuk apapun. Satu alat besar yang di gunakan untuk memindahkan barang ke kapal pun, berdiri tegap di sebelah bangunan besar tersebut.
Sela melihat keadaan sekitar. Matahari nampak menyilaukan mata gadis itu. Hijab dan gamis yang Sela kenakan bergerak ke sana kemari karena tiupan angin yang cukup kencang wajar, karena ini di pesisir pantai.
Will turun dari mobilnya. Kaca mata hitam bertengger di pangkal hidungnya. Jas yang ia kenakan seolah menari beterbangan karena tiupan angin. Dengan gagahnya, Will menghampiri Sela.
"Tempat apa ini?"
×××××××××××
Terimakasih sudah mampir membaca di storyku:D