The Gift

By suliskim

540K 39.9K 2.9K

YAOI. Kisah sederhana tentang Jung Yunho dan tiga putra kembarnya. Daehan, Minguk, Manse. Kisah tentang manta... More

The Gift prolog
Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Cuap cuap
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 18
Chapter 19
Chapter 20
Chapter 21
Chapter 22
Chapter 23
Chapter 24
Chapter 25
Chapter 26 Endding.
Epilogue
INFO.
Promo

Chapter 5

16.2K 1.2K 66
By suliskim

THE GIFT
Sherry Kim

Happy Reading...!

Cafe itu terlihat senggang pada jam dimana semua orang sibuk bekerja, alunan musik terdengar sayup sayup menyapa telinga pengunjung Cafe termasuk Dua pria yang masih betah membisu di salah satu sudut Cafe. Aroma Kopi memenuhi ruangan bercampur aroma manis cokelat panas mengepul dari meja di salah satu meja lantai dua dengan kedua Pria yang nyaman dengan keterdiaman masing masing.

Musang Yunho memperhatikan pria yang duduk di hadapanya dengan tenang, pria yang jauh berbeda dengan pria yang di kenalnya lima Tahun lalu. Tidak ada lagi Kim Jaejoong yang manis bertubuh kecil dan manja dengan rambut Almond yang suka bergelayut manja di lengan Yunho. Yang duduk diam di hadapanya ialah Jaejoong yang jauh berbeda dari bayangan dan ingatan Yunho yang terakhir. Tubuh pria itu terlihat lebih berisi dan berotot di setiap tempat dan lekukan yang seharusnya. Sungguh membuat Yunho iri dengan tubuh berotot yang sudah sangat lama tidak ia milikki.

Kaos hitam polos itu terlihat ketat di kedua lengan dan dada Jaejoong, bahkan Yunho sempat melihat otot perut Jaejoong ketika pria itu mengangkat kepalan tanganya untuk menghantamkan tinju kearah pria berjas hitam yang Yunho sendiri tidak tahu mengapa harus berurusan dengan Jaejoong.

"Kau tahu aku benci kesunyian." Jaejoong mulai mencairkan suasana yang beku. Ia tidak habis pikir, Yunho menyeretnya kesini apakah hanya untuk mendiamkanya atau karena alasan apa?

Pandangan Yunho sekali lagi menyapu wajah Jaejoong dan turun kebawah. Jemari lentik yang dulu sering menggenggam tangan Yunho itu masih tetaplah lentik ketika memegang Mug Coklat panas untuk Jaejoong nikmati.

Menghela nafas panjang Yunho sendiri tidak tahu harus memulai perbincangan ini dari mana. Ia terkejut mendapati Jaejoong di sini, di Korea dan apa yang pria itu lakukan belakangan ini atau tepatnya sejak perpisahan mereka lima tahun silam. Pernahkah Jaejoong merindukanya setelah kembali ke Jepang?

Setelah memilah kata akhirnya ia bertanya. "Bagaimana kabarmu?"

Bahu Jaejoong menggedik acuh. "Seperti yang kau lihat." Kekehan Jaejoong masihlah sama seperti dulu ketika Yunho sering menggoda pria cantik itu begitu merdu dan ringan. " Kau terlihat semakin gemuk." Mata cantik itu turun dari wajah Yunho yang sedikit tembam ke keperut pria itu.

"Ketiga putraku yang hiperaktif membuat nafsu makanku bertambah." Alis Yunho terangkat ketika menyadari tawa Jaejoong yang lenyap detik dimana ia mengungkit ketiga putranya.

"Anak anakmu terlihat lucu dan sehat."

"Kau harus melihatnya secara langsung untuk memastikan itu, mereka sangat menggemaskan." Tanpa sadar senyum Yunho mengembang ketika membicarakan putra kembarnya. "Selera makan mereka benar benar besar, sampai Changmin heran karenanya. Kau ingat adikku yang pernah berkunjuk Ke Asramaku dulu."

"Tiang listrik itu, tentu saja aku ingat. Dia menghabiskan makan malam kita untuk dirinya sendiri, itu membuatku marah." Jaejoong berdeham. Sepertinya ia terlali terbawa suasana yang di timbulkan Yunho ketika membicarakan Si kembar tiga. "Changmin juga semakin tampan, berapa usianya sekarang." Secerca rasa cemburu menyusup kehati Jaejoong ketika mengingat Triplets yang mampu membuat kebisuan Yunho menjadi berwarna. Ia pernah merasakan kebahagiaan dimana bisa melihat perkembangan ketiga putranya untuk beberapa lama, sampai ia terpaksa melepaskan mereka.

"Kau sangat marah waktu itu. Aku harus menenangkanmu dengan memberikan boneka Gajah agar kau mau berhenti menangis." Yunho mengingatnya, Jaejoong juga menginatnya. "Sudah berapa lama kau berada di Korea?"

"Hampir Lima Tahun kurasa." Dan selama itu mereka tinggal di negara yang sama bahkan Kota yang sama namun Yunho tidak tahu keberadaan Jaejoong bahkan pria itu tidak berniat memberitahunya.

"Selama itu, kenapa kau tidak mencariku? Atau memberiku kabar bahwa kau berada di Korea?" jadi Jaejoong berada di Korea sebelum Yunho lulus dari Oxford. Entah kenapa dada Yunho terasa penuh dan ingin meledak mengetahui pria itu berada disini selama lima Tahun lamanya tanpa memberinya kabar. Keterkejutan itu mampu Jaejoong lihat dari sorot mata pria itu saat menatap dengan musang yang tajam.

"Kau melarangku mencarimu, bukan? Apa kau lupa."

Yunho tercenggang. Jaejoong benar benar mendengarkan perkataanya waktu itu. "Aku hanya tidak akan memperkenalkanmu sebagai,,," ia terdiam. "Sebagai orang yang berarti bagiku, tetapi pintu rumahku selalu terbuka untuk seorang teman."

Jemari Yunho mencengkeram lengan cangkir Kopi miliknya, meneguk cairan hitam itu sedikit hanya untuk menenangkan kegugupan yang entah mengapa membuatnya tidak nyaman. Kopi itu terasa hambar ketika mengalir menuruni tenggorokan sebelum masuk ke lambung.

"Tetapi aku memang bukan temanmu," Jaejoong mengikuti gerakan pria itu dengan menegug Coklat panas miliknya, terdapat sisa cokelat di sekeliling bibir Jaejoong yang membuat Yunho menatap bibir pria itu sedikit lebih lama, bibir yang pernah menjadi candu untuknya. "Kita tidak pernah berteman sebelumnya." Dan itu benar adanya. Pertama kali bertemu mereka tidak saling sapa, kedua kalinya Yunho hanya melirik sekilas dan ketiga kalinya Jaejoong menyatakan perasaan pria itu.

"Boleh aku bertanya?" Yunho melanjutkan.

"Kau sudah bertanya banyak tentangku, kini giliranku." Pria itu masihlah sama seperti Jaejoong yang dulu. Tidak suka jika seseorang mengintimindasi dirinya, Jaejoong tidak suka jika Yunho lebih unggul di setiap tindakan maupun ucapan.

"Santai Yunho, aku tidak akan menerobos masuk rumahmu kemudian mengatakan kepada kedua orang tuamu yang kau banggakan itu kalau kita pernah memiliki sebuah hubungan yang indah." Seakan tahu adanya sisa Cokelat di sisi bibir miliknya, Jaejoong meraih Tissue untuk mengusap bibirnya yang basah. Gerakan pria itu masih terlihat anggun sama seperti dulu dan Yunho merasa dirinya mulai gila karena ia ingin menjilati bibir itu dengan lidahnya.

"Kau pernah mengungkit tentang Pria yang dapat hamil, apa kau mengingat itu." Sengaja Yunho tidak memberi Jaejoong waktu untuk melemparkan pertanyaan karena Yunho tidak boleh lemah sebelum apa yang ia inginkan menjadi jelas.

Menarik kedua tanganya kebawah meja Jaejoong menggenggam kedua tanganya semakin erat. Kegugupan itu tetap terlihat meskipun dirinya mencoba menutupinya."K...kau gila, mana mungkin pria bisa hamil." Ia barharap kata itu terdengar meyakinkan karena Yunho terlihat tidak mempercayai itu.

"Mungkin saja, setelah aku memikirkan umur dan berapa lama tahun dan waktu yang telah berlalu aku semakin yakin, kau ada hubunganya dengan si kembar."

"Tidak! Mereka lahir di bulan Maret dan jika dihitung sejak pertama kita berhubungan bukankah tidak ada waktu delapan bulan sampai mereka lahir." Sial. Jaejoong mengigit lidahnya sendiri, jawaban yang ia lontarkan hanya membuat Yunho semakin yakin dan entah apa yang di pikirkan pria itu Jaejoong tidak berani mempertaruhkan apapun. Ya Tuhan.

Kekehan Yunho terdengar laksana nyanyian setan yang membuat bulu kuduk Jaejoong meremang. "Kau bahkan begitu paham tanggal lahir dan umur putraku juga jarak kehamilan seorang wanita,,," pria itu menatap tajam kedalam mata Jaejoong. "Tetapi seorang pria jika memang benar bisa hamil aku tidak yakin, dan juga.." Jaejoong berpaling, ia tidak kuat menatap mata Yunho laksana belati di arahkan kearahnya dan mengoyak jantungnya. "dan kemungkinan mereka lahir prematur sangat besar karena aku sudah memastikan itu kerumah sakit dimana mereka dilahirkan."

Derit kursi beradu dengan lantai menggema di ruang senggang Cafe, Jaejoong berdiri di hadapan Yunho dengan wajah pucat nyaris mengerikan. "Kau sudah gila, kalau kau ingin mencari seorang ibu untuk tiga putramu yang kau banggakan itu kenapa kau tidak nikahi saja teman kencanmu yang Artis itu. Jangan mengganggu kehidupanku lagi Yunho."

Jaejoong melangkah pergi. Ia tidak akan kuat jika harus duduk lebih lama di hadapan pria itu lebih dari sedetikpun. Ia tidak mencintai Yunho, tidak juga mencintai Triplets dan tidak akan pernah.

Jalan kehidupan telah berbelok dengan Jaejoong memilih jalan berbatunya sendiri. Ia sudah melepas Tiga putranya pergi ketika melihat mereka di bawa Hankyung untuk dikirim kerumah keluarga Jung. Ikatan darah memang tidak terelakan tetapi ikatan darah akan memudar dengan berlalunya waktu dan akan tersamarkan jika bercampur dengan air laut.

.
.
.

Suara nyanyian anak kecil menggema di ruang makan Mansion Jung ketika Mrs. Jung kembali dari arisan sore dan mendapati ketiga cucu kecilnya sedang menyantap makan malam di temani sang Paman mereka, Changmin.

"Berhenti bernyanyi Minguk dan cepat habiskan makananmu sayang." Menuang segelas air putih untuj dirinya sendiri Mrs. Jung mengamati sekeliling dengan jengkel. "Dimana Ayah kalian, bahkan hari ini dia tidak masuk kantor dan juga kemana dia karena tidak menjeput kalian sore ini." Wanita paruh baya itu meneguk air putih dengan rakus.

"Aku pikir Hyung menemui wanita yang Umma bicarakan pagi ini."Changmin menyahut.

Kembali, amarah Yoori seakan disiram bahan bakar berbahaya dan semakin membuat amarahnya semakin berkobar ketika mengingat Putra pertamanya itu tidak datang kerestoran yang sudah ia pesankan untuk acara perjodohan mereka. "Jangan ingatkan aku tentang hal itu, kau tahu betapa malunya Umma ketika sahabat Umma mengatakan Yunho tidak datang ketempat dimana putrinya itu menunggu." Melemparkan diri di kursi Yoori menatap ketiga cucunya dengan sayang. Hilang sudah amarah yang baru saja membuat dirinya kebakaran jenggot kala melihat tiga beruang kecil Jung itu makan dengan kidmat. Mereka benar benar menggemaskan.

Minguk masih betah bernyanyi lagu Dinosaurus favorit mereka yang sesekali bersahutan dengan kedua saudaranya yang lain.

"Nenek, Samcon ingin mengajak Daehan, Minguk, Manse ke kebun binatang dan ingin melihat Dinosaurus." Manse melapor. Kedua saudaranya memekik bebarengan untuk menunjukan keantusiasan mereka dengan ajakan sang Paman. Sungguh suara mereka betiga melebihi pasar ikan pada pagi hari. "Bagus, cepat habiskan makanan kalian, atau Samcon akan membatalkan acara jalan jalan kalian."

Ketiga pasang mata bulat itu menatap Changmin tajam. "Samcon sudah janji."

"Kata Appa tidak boleh berbohong."

"Dinosaurus akan mengigit paman karena berbohong."

Changmin menatap Sang ibu karena menjelekkan namanya di depan sang keponakan. "Jangan dengarkan Nenek, Kita akan tetap pergi minggu ini." Mereka berteriak girang dan cepat cepat mengangkat sendok untuk kembali menyantap makan malam mereka.

"Kapan kau akan membawa mereka pergi?" Mrs. Jung bertanya kepada putranya.

"Minggu, karena Jessie juga ingin ikut. Anak itu selalu ikut ketika aku ingin memanjakan ponakanku sendirian."

"Aku tidak yakin kau tidak akan membuat mereka menangis. Kakakmu Jessi lebih memahami mereka."

"Demi Tuhan, Jessi hanya ingin majalah meliput dirinya bersama tiga ponakan lucunya sebagai sampul majalah gosip mereka. Sekali menyelam sambil minum air."

"Kakakmu sama sepertimu, menyayangi cucuku. Jangan kau anggap Jessi hanya menggunakan mereka untuk mengejar ketenaran sebagai model." Dengan senang hati Mrs. Jung mendaratkan tas mahalnya di atas kepala Changmin. Ketiga bocah kecil yang memperhatikan mereka terkikik senang melihat Paman mereka mengaduh kesakitan.

Yunho masuk keruang makan dan amarah Yoori kembali muncul kepermukaan. Sebelum sang Ibu menyemburkan api amarahnya Changmin menyahut. "Pergilah ke ruang baca atau manapun jika kau ingin menceramahi Yunho sampai kau puas Umma." Changmim merentangkan tangan lebar menahan sang Ibu yang sudah akan meledak detik itu juga ingin menerjam putra pertamanya.

Mengabaikan sang ibu Yunho mencium ketiga beruang kecilnya satu persatu. "Bagaimana hari kalian." Minguk berhenti mengarahkan sendok kemulut dan tersenyum, Daehan mengerutu karena makanan yang akan ia makan terjatuh di atas meja dan mengotori mejanya, Manse tersenyum cerah menyambut sang Ayah.

"Samcon menjemput kami dan membawa kami makan..." Teriakan Changmin membuat apa yang akan dibicarakan Minguk berhenti. Bocah nakal itu tertawa dan meneruskan ucapanya." ... Eskrim." ketiganya terkikik geli.

Mata bambi Changmin mengerjap melihat sang Kakak yang mengabaikanya. Pria itu hanya menatapnya sekilas dan kembali sibuk dengan ketiga putranya. Astaga, apa yang terjadi? Biasanya Yunho akan marah marah karena membawa mereka makan di luar dan memberi contoh yang buruk kepada keponakan Tampan nya.

"Kau baik baik saja." Changmin bertanya dengan nada khawatir. Ia tidak menghawatirkan kakaknya, hanya saja ia menghawatirkan balas dendam Yunho nanti yang akan jauh lebih menakutkan kalau tidak segera di ungkapkan sekarang.

"Tidak baik baik saja." Lee Yoori menyahut." Kau ikut denganku Jung Yunho."

Yunho bangkit tetapi tidak mengikuti sang ibu, pria itu berjalan menuju tangga besar untuk pergi kelantai dua. "Yunho." Suara Mrs. Jung sedikit lebih tinggi. Belum pernah sebelum ini Ketiga anaknya membantah dan mengabaikan perintah Yoori.

Wanita yang masih tetap cantik di usia yang sudah menginjak kepala enam itu mendekati sang putra dan ia melihat adanya noda hitam di balik Jas putranya.

"Apa yang..." Mata bulat wanita itu menatap Yunho ngeri kemudian menarik dan mengendus kemeja pria itu. "Darah! Kau berkelahi." Tidak butuh jawaban karena setelah diteliti ada luka di wajah Yunho yang mulai membiru.

"Aku tidak apa apa?"

"Siapa yang telah kau hajar dan dari mana kau seharian ini."

"Aku lelah Umma, dan aku butuh istirahat setelah hari yang panjang ini." Langkah kaki Yunho kembali terayun menaiki tangga.

Changmin keluar dari ruang makan dengan terburu buru. "Apa aku baru mendengar kata berkelahi, Hyung, berkelahi? Apakah pria atau siapapun yang ia hajar baik baik saja ?" Changmin tidak bisa membayangkan nasip korban dari ilmu bela diri Yunho. Sudah sangat lama sejak kakaknya itu terlibat masalah perkelahian.

Lee Yoori mengabaikan putra bungsunya untuk mengikuti Yunho yang berjalan begitu cepat melewati lorong panjang Mansion agar cepat sampai di kamar pria itu. Tangan wanita itu menahan pintu ketika Yunho sudah akan menutupnya. "Umma..." Pria itu merengek. Demi Tuhan, sudah sangat lama Putranya ini tidak merengek seperti itu.

"Katakan kepada Umma apa yang terjadi?"

Membiarkan pintu tetap terbuka Yunho melenggang masuk ke kamar besar dengan ranjang ukuran King berselimut seprai berwarna Caramel di tengah ruangan. Pria itu duduk disana untuk menatap Ibunya dengan pandangan yang membuat Yoori khawatir. "Dia kembali." Lirihnya.

Bulu mata lentik Yoori mengerjap indah dengan kerutan di kening. "Dia? Siapa?"

"Ibu dari Anak anak, aku tidak begitu yakin dia ibu dari Anak anak tetapi entah kenapa aku yakin dialah ibunya." Yunho menjawab.

Tubuh Mrs. Jung menyapa karpet tebal di lantai kamar Yunho, dengan wajah pucat pasi wanita itu mencoba berdiri dengan kedua kaki yang gemetar setelah beberapa saat mendapatkan kekuatanya kembali. "Aku akan menghubungi Ayahmu, dia tidak boleh membawa pergi Cucuku. Tidak setelah wanita itu membuang mereka di depan rumah kita dan kau Ayahnya berhak untuk mengasuh mereka lebih dari ibu yang tega membuang putranya sendiri di deoan rumah kita dalam derasnya hujan."

"Umma." Yoori sudah keluar dari kamar Yunho ketika ia akan menjelaskan bahwa Dia tidak menginginkan Triplets. Ya Tuhan, Yunho merasa kepalanya akan pecah memikirkan apa yang terjadi hari ini.

Kim Jaejoong, Pria itu sekali lagi berhasil membuat perasaan Yunho di aduk aduk antara marah dan tentang sebuah kenyataan yang indah.

.
.
.
INGGRIS

Sejak kejadian malam dimana mereka menghabiskan malam bersama pasangan Yunjae semakin di mabuk Asmara dan Yunho hampir saja melupakan fakta bahwa dirinya adalah pria Normal yang tidak menyukai Jaejoong.

Berkali kali ia mengatakan pada dirinya sendiri untuk berhenti dan melupakan apa yang telah terjadi di antara mereka namun berkali kali pula Jaejoong mampu membuat indra dalam tubuhnya bergetar ketika pria itu mulai menciumnya dan selalu berakhir bercinta di atas ranjang. Tidak peduli di Asrama ataupun di Apartemen pribadi Jaejoong yang tidak jauh dari Akademi Oxford mereka terlihat mesra setiap harinya. Hampir setiap malam selama bulan bulan terakhir Yunho menginap disana atau Jaejoong yang menginap di Asrama Yunho dan tidak terkecuali malam ini.

Jaejoong bergelung nyaman di sebelah tubuh besar Yunho yang sedang menonton acara olahraga favoritnya. Kekasih cantiknya itu semakin manja akhir akhir ini seperti seorang gadis yang genit ketika mereka hanya berdua di ruangan tertutup.

"Apa kau percaya jika seorang pria bisa mengandung?"

Alis Yunho menggeryit menatap Jari Jaejoong yang bermain main dengan ujung kaos bagian atas. "Jangan konyol, mana mungkin Pria bisa hamil. Itu hanya ada di dalam otak cantikmu, mungil."

"Jadi aku memang cantik, bagian mana saja yang cantik." Pria itu tersenyum lebar dan mengecup bibir Yunho singkat. Hidung mereka masih bersentuhan ketika tangan besar Yunho merambat dari kaki jenjang Jaejoong menuju paha mulus kekasihnya yang terbuka. Jaejoong selalu memakai celana Hotpant dan entah mengapa selalu berhasil membuat gairah Yunho berkobar ketika pria itu memandangnya, Jaejoong lebih sexy dari wanita manapun, kulit kekasihnya itu sungguh indah dan juga sangat sensitif hanya dengan sentuhan sentuhan ringan jemari Yunho.

"Bagaimana seandainya aku hamil anakmu," Kepala Yunho tertarik kebelakang untuk melihat wajah Jaejoong yang menatapnya dengan mata besar yang polos. "Apa kau akan menyangkalnya kemudian mengatakan aku pria aneh dan tidak mengakui anak itu."

Yunho tahu Jaejoong hanya bergurau, bagaimana mungkin seorang pria bisa hamil, tetapi ia tetap menjawab. "Aku akan mengakui anak itu kalau benar kau bisa hamil, tetapi kita tidak bisa menikah."

Jaejoong tahu, Yunho adalah pria yang selalu menjaga nama baik keluarga di peringkat no satu juga harga diri pria itu yang terlalu besar. Sepertinya ia salah berharap Yunho akan menerima dirinya dengan kekurangan dan kelebihan yang ia milikki.

"Baiklah, aku tahu! Aku tidak akan memintamu menikahiku. Bagaimanapun juga banyak pria lain yang bersedia menikah denganku jika kau tidak bersedia menikahiku."

Senyum di bibir Yunho lenyap detik dimana telinganya mendengar uraian kata yang memang ia akui ada benarnya. Jaejoong akan menjadi rebutan banyak pria jika mereka putus nanti. Sedikit ketidak relaan menyusup masuk kedalam hati Yunho. "Kau hanya milikku ketika kita masih bersama. Aku tidak ingin berbagi dirimu dengan orang lain disaat yang bersamaan." Jaejoong tahu itu. "Dan jika kau menginginkan pria lain tunggu sampai kita putus."

Enam bulan kebersamaan mereka memberi Jaejoong waktu untuk mengamati Yunho luar dan dalam. Dirinya terlalu hapal di luar kepala kebiasaan pria itu dan begitu juga sebaliknya. "Tidak usah serius seperti itu, aku hanya bercanda." Susah payah Jaejoong memasang wajah caria untuk mengembalikan Mood kekasih tampanya ini.

"Bolehkan aku main kerumahmu, di Korea ketika aku berkunjung atau liburan kesana suatu hari nanti?"

"Tidak?"

"Why? Kau tidak mencintaiku?"

"Aku tidak ingin ayahku jantungan dengan membawa kekasih yang memiliki jenis kelamin sama sepertiku." Suara tawa pria itu membahana di kamar Jaejoong. Syukurlah Mood Yunho sudah kembali.

"Kita Gay."

"Tidak! Kau iya, dan aku hanya menikmati ini sebagai hiburan."

Jaejoong tertawa mendengar ucapan kekasihnya yang memang ia kenal blak blakan itu. "Baiklah, sekarang cium aku dan nikmati malam terakhir kita karena kita akan berpisah besok pagi."

Mata musang kekasihnya itu menatap Jaejoong dengan terkejut. "Wisudamu minggu depan."

"Ayah membutuhkanku, mungkin aku tidak akan menghadiri wisudaku sendiri." Jaejoong tidak membiarkan kekasihnya itu berbicara lagi atau menolak apa yang akan ia berikan untuknya. Ia mencium kekasih tampanya itu dengan lapar dan memberikan kenikmatan surga dunia yang telah ia janjikan.

"Ku harap kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti." Bisiknya.

Jaejoong mendesah ketika ciuman Yunho turun kelehernya. "Apa kau tidak ingin melarangku pergi?" Lengan Jaejoong berpegangan kepada leher Yunho ketika pria itu mengangkat tubuhnya menuju kamar mereka. "Tidak! Ayahmu membutuhkanmu, itu lebih penting dari apapun." Kaki Yunho menendang pintu kamar mereka dan ia berjanji akan memberikan kenikmatan yang sama besarnya seperti janji yang Jaejoong ucapkan di malam terakhir mereka bersama.

.
.
.
*TBC*

Tepok Bang Chunchun

Ada yang bisa ngasih tahu aku antara Cokelat minuman sama warna Cokelat. Apakah nulisnya sama Cokelat atau coklat....???

Tell me.... Hiks.

Beritahu Sherry kalau ada kesalahan typo dan salah penaruhan kata. Kamsahamnida ~Bow~

PENGUMUMAN kami para Author kece(?) membawa Yunjae kedalam negeri dongeng. Dan di rangkum dalam sebuah buku oleh sepuluh Author kece lainya.

Judul : Yunjae Fairy Tales (Hard Cover)
Author : Nara Yuuki, Jaeho Love, Gothic Lolita, Misscelyunjae, Sherry Kim, My Beauty Jeje, Snow Queen BabyBoo, Yoori Michiyo, KimRyan 2124, dan Puan Hujan.
Harga : 109.000
Bonus : Tas lucu, Pin/ Ganci
Halaman : -/+ 450
Sinopsis : Menyusul
Paket souvenir : 135000 -edisi terbatas-

Harga belum termasuk ongkir.
minat hubungi Author.

Fb : Sherry kim
Line :Ziyakim
BBM : Lupa (?)

Batas PO 10 November

Membeli buku sudah termasuk donasi berbagi sebesar 5000 untuk mereka yang kurang mampu dan sekolah sekolah yang membutuhkan.

Continue Reading

You'll Also Like

43.7K 4.2K 23
Dari saat mereka kecil, sosok Jung Yunho dan Kim Jaejoong adalah rival. Permusuhan kedua orang tua mereka membuat keduanya membenci satu-sama lain. K...
25.6K 2.1K 7
Rated: M Main Cast: Jung Yunho, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin, Jessica Jung, choi seunghyun, Jo hyun jae, Jung jiyool, Jung mo...
18.5K 2.1K 13
Kisah dari dua orang pria, Jung Yunho dan Kim Jaejoong. Mereka adalah anggota dari sebuah grup idol terkenal, hingga menghilangnya Jung Yunho ditamba...
162K 14.6K 17
Kisah percintaan yunho dan jaejoong harus kandas mereka terpisah selama 15 tahun namun mereka kembali di pertemukan oleh takdir yang mengikat mereka...
Wattpad App - Unlock exclusive features