THE GIFT
Sherry Kim
Happy Reading...!
Langkah kaki Yunho berjalan masuk ke kamar anak anak yang berada di sayap kiri mansion, kamar bernuansa ungu yang terlihat berantakan akibat ulah tiga beruang kecil Jung. Tiga ranjang berselimut matras ungu dengan segala peralatan untuk tiga bocah bertebaran di mana mana, tetapi musang Yunho tidak melihat tiga beruang kecilnya disana.
Yunho memeriksa kamar mandi dan tidak menemukan mereka di dalam, bahkan tidak juga di kamar ganti dan di sela sela lemari pakaian yang biasa menjadi tempat persembunyian favorite mereka. Kemana mereka?
"Appa," Yunho memutar tubuh dan ketiga bocah nakal itu melempar tubuh mereka kearahnya tanpa welas asih, oh ia yakin akan patah tulang jika mereka bertiga menindihnya. Yunho kehilangan keseimbangan dan terjatuh di lantai berlapis karpet yang memang sengaja di pasang untuk menghindari sesuatu yang mungkin terjadi dan melukai tiga putra kembarnya yang hiperaktif.
Pekikan Yunho membuat tiga bocah nakal itu tertawa bahagia. Yunho menghela nafas lelah, Ya Tuhan dasar anak beruang nakal. Ia membatin. Terpaksa ia harus mulai merapikan diri lagi setelah diserang tiga putra nakalnya ini. "Anak-anak bersiaplah, Nenek sudah menunggu kita, dan Kakek akan marah kalau sampai kita terlambat."
Jessica muncul dari pintu bersama dua orang pelayan untuk mengamankan tiga beruang nakal itu. "Kalian membuat Appa kalian berantakan."
"Minguk yang mengacak rambut Appa." Manse menjawab.
"Daehan yang menarik kemeja Appa." Minguk kali ini berkata.
Daehan tersenyum lebar kearah Yunho. "Daehan yang menemukan ini di saku Appa." Putra pertama Yunho itu menunjukan Handphone miliknya.
"Anak nakal." Namun tak Ayal Yunho tersenyum dan menyimpan kembali Handphone miliknya kedalam saku jas. "Bersiap siaplah, Appa menunggu di luar."
"Nae." Teriak ketiganya bersama.
Ketiga bocah itu telah siap beberapa menit kemudian dengan celana kodok berbahan kain di padu kemeja soft blue, jangan lupakan rambut mereka tersisir rapi membelah ke samping. "Masuklah ke mobil dengan tenang Anak anak, semuanya sudah di Hotel menunggu kita."
"Aku harap jalanan tidak macet." Jessica duduk di samping kemudi dan menoleh kebelakang. "Kita berangkat." Teriakan yang membuat tiga bocah itu ikut memekik girang mengikuti intruksinya.
Mobil melaju dengan kecepatan lamban keluar dari pintu gerbang Mansion Jung. Yunho melirik kaca sepion untuk mendapati ketiga putranya menatap keseberang jalan, kebiasaan baru yang mereka lakukan beberapa minggu terakhir ini. "Kalian melihat sesuatu disana?"
"Tidak."
"Tidak ada siapapun."
"Tidak ada paman penjual permen ataupun paman tiger itu lagi." Ketiga bocah itu berkata bergantian.
"Appa sudah melarang kalian untuk tidak menerima apapun dari orang yang tidak kita kenal." Yunho menasehati. Ketiga putranya telah kembali duduk kembali di kursi Anak anak dengan tenang.
"Manse mengenalnya, dia paman yang baik."ujar Manse membela diri.
"Daehan juga, Minguk Juga." Tambah yang lain.
Jessica melirik Yunho dari tempat duduknya. "Apakah itu dia? Atau orang suruhanya." Yunho tidak perlu bertanya siapa yang di maksud 'dia' oleh adiknya.
Tidak seorangpun tahu siapa ibu dari Triplets, tidak juga Yunho. Bahkan Yunho sendiri tidak yakin bagaimana bisa dirinya memiliki putra kembar seperti mereka karena dirinya bukanlah seorang player atau pria yang suka bergonta ganti pasangan meskipun itu hanya untuk teman semalam.
Yunho hanya akan melakukan hubungan itu dengan kekasihnya dan dirinya tidak akan mempercayai Triplets adalah putranya kalau bukan tes DNA yang 99% menunjukan si Kembar tiga adalah putra kandungnya. Ya Tuhan, bahkan Yunho tidak yakin siapa ibu dari mereka dan bagaimana bisa mereka tiba tiba muncul di depan rumahnya seakan mereka turun dari langit dan kado dari para bidadari.
"Dia tidak menginginkan mereka, itulah sebabnya dia mengirim mereka kerumahku."
Jessica tidak menjawab. Karena ia sendiri tidak tahu menahu dengan masa lalu kakaknya itu. Yunho sangatlah rahasia tentang kehidupan pribadinya termasuk kekasih kekasih kakaknya dan ibu dari si kembar tiga.
Jessica pernah bertanya dan Yunho sangat marah dengan mengancam akan membawa si kembar pergi seandainya ia masih juga menanyakan siapa ibu dari Daehan, Minguk, dan Manse. Hey, ia sangat menyukai tiga bocah nakal itu. Sejak mereka datang, Mansion Jung tidak pernah sepi barang semenitpun saat ketiga Beruang kecil itu berada di rumah.
"Bukan berarti Ibu mereka tidak ingin melihatnya, bukan? Bagaimanapun sudah hampir tiga tahun berlalu dan sangat umum jika seorang ibu ingin melihat putranya. Dua setengah tahun, kurasa."
Yunho tidak menjawab. Ia sudah mencari tahu tentang ibu dari si kembar dan hasilnya nihil. Siapapun ibu mereka dia adalah orang yang hebat karena berhasil menutupi jejak mereka. Hal itu mengingatkan Yunho terhadap seseorang yang pernah menjadi bagian cinta dimasa lalunya saat ia masih menuntut ilmu di Oxford, cinta terlarang terhadap pria pintar cantik berdarah Jepang. Astaga, tidak mungkin dia karena dia seorang pria. Satu satunya orang dan pria yang tidur denganya.
.
.
.
2010 INGGRIS
"Aku mencintaimu Jung Yunho."
Mata musang Yunho menatap kearah pemuda cantik yang berdiri di depan meja kantin yang melempar senyum manis kearahnya. Yunho akui pemuda itu memang cantik, menarik dan memang menjadi buah bibir di kelasnya , Pemuda cantik terpopuler di Oxford.
Seorang Pemuda berdarah Korea Jepang jadi tidak heran kalau dia bisa berbicara Hanguk dengan lancar. "Mulai saat ini kau adalah kekasihku."
"Aku menolaknya." Yunho berkata tegas. "Aku masih normal untuk tidak menjadi Gay meskipun dengan namja cantik seperti dirimu Kim Jaejoong."
"Senangnya mendengar kau memujiku cantik." Pemuda yang memang Yunho kenal itupun tertawa dan menutupi bibirnya dengan punggung tanganya. Kim jaejoong adalah mahasiswa tingkat akhir, seniornya, pria itu satu tahun di atas Yunho meskipun umur pemuda itu seumuran dengan Yunho. Pemuda hebat yang mengambil tiga bidang sekaligus di Oxford.
"Kau menyukaiku, aku tahu."
Serigai Yunho begitu menawan sampai membuat pemuda cantik itu berubah tegang. "Bagaimana kau bisa tahu, sedangkan aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaanku terhadapmu?"
"Karena kau akan menerima ajakan kencanku, nanti sore sesudah pelajaran, ku tunggu kau di cafe seberang jalan utama Gedung Oxford. Kau akan datang. Aku yakin!" Pemuda itu mengedipkan sebelah matanya sebelum beranjak pergi.
"Namanya Kim Jaejoong, murit terpandai yang melompat satu angkatan di atas kita. Profesor sangat menyukainya dan dia memang sangat populer di antara para pria, terutama para gadis Korea." Kim Junsu duduk di sisi kiri Yunho dengan nampan penuh makan siang untuk dirinya sendiri.
"Ya, aku tahu! Aku pernah melihatnya beberapa kali, dia pemuda yang sangat..." Yunho memikirkan ungkapan apa yang cocok untuk pemuda itu. "Unik, hiperaktif dan juga lucu."
Junsu tertawa dengan pemilihan kata yang terakhir Yunho. "Dia sangat baik dan pintar. Pandai dalam segala hal, hanya saja dia Gay."
"Tidak ada yang salah dengan pria Gay bukan? Kau sendiri bukankah sama sama pecinta..."
"Cukup."Junsu menjejalkan roti miliknya kedalam mulut Yunho, Pria itu sudah terlalu banyak bivara. "Aku hanya menyimpang karena Yoochun, buktinya aku tidak menyukaimu."
Baru saja mereka membicarakan pria berjidat di atas rata rata itu, dan sekarang pria itu muncul di hadapan mereka dengan nampan penuh makanan sama seperti Junsu. "Kalian melupakanku, tidak setia kawan." Mendorong Junsu lebih kesamping Yoochun mendudukan pantatnya di kursi panjang yang sudah penuh oleh Yunho, Junsu dan beberapa murid lain.
Pria itu menatap Yunho dengan cengiran lebar. "Selamat kawan, kau mendapatkan tangkapan yang cukup bagus. Calon profesor Kim Jaejoong yang terhormat."
Yunho memuta bola matanya malas. "Kalau kau mau ambil saja."
"Tidak terima kasih, aku sudah memiliki pemuda manis di sisiku ini." Yoochun mengedipkan matanya kearah Junsu, dan demi apa, pemuda itu merona hanya dengan satu kedipan mata pria jidat itu.
Diam diam Yunho memikirkan ajakan kencan Jaejoong. Apakah ia harus menemuinya?
Sore hari, Yunho benar benar datang menenui Jaejoong, mengikuti kata hati yang entah mengapa ingin dirinya melihat apakah Jaejoong benar benar menunggunya.
Cafe dalam kondisi lenggang saat Yunho masuk kedalam dan mencari Jaejoong di antara para pengunjung lainya. Jaejoong tidak berada dimana mana dan Yunho berpikir betapa bodohnya ia karena datang dan mungkin saja Kim Jaejoong tidak serius dengan ajakan kencan ini, bahkan mungkin saja Jaejoong juga tidak mencintainya seperti apa yang di katakan pemuda itu tadi siang di kantin.
Berjalan keluar cafe, Yunho memilih untuk kembali ke Asrama ketika tiba tiba seseorang berjalan di sisinya. Yunho menoleh dan menemukan wajah Jaejoong tersenyum lebar kearahnya.
"Kau lihat, aku tahu kau akan datang." Pemuda itu menyelipkan tanganya di antara lekukan lengan Yunho, menarik tubuh yang lebih tinggi darinya mendekat.
"Kemana kita akan pergi, Yunho."
Seakan tersihir oleh senyuman bidadari di sisinya itu, Yunho menjawab tanpa berpikir. "Kemanapun yang kau inginkan tuan putri." Wajah Jaejoong merona dengan pujian Yunho barusan.
"Kita pergi ke Sungai untuk melihat matahari terbenam." Jaejoong menyeret Yunho untuk berlari bersamanya. Itulah awal mula sebuah cerita cinta terlarang mereka.
.
.
.
2015 Korea
Jaejoong berjalan menyusuri tepi jalan raya dengan perasaan bahagia. Baru saja ia menerima pekerjaan dari tempat yang ia idam idamkan selama ini, pria itu bersenandung riang di antara langkah langkahnya yang terasa ringan.
Pandangan matanya berbinar bahagia ketika menatap sekeliling jalan yang disinari lampu lampu toko juga lampu jalanan. Kebebasan memang indah. Dirinya sempat berpikir tidak akan dapat menikmati saat saat seperti ini dimana kau bisa berlari dengan bebas dengan angin menyapa wajahmu.
Langkah kaki Jaejoong terhenti di salah satu persimpangan di tengah pusat kota. Tubuhnya berubah tegang kala melihat sebuah layar iklan di sebuah gedung tinggi yang sedang memberitakan sebuah pesta besar pernikahan Jung Ilwoo dan istrinya Lee Yoori.
Tangan Jaejoong mencengkeram lengan tas punggungnya semakin erat kala layar itu memperlihatkan satu persatu keluarga besar Jung dari Jung Yunho sampai ketiga cucu tampan Jung yang mengemaskan. Ketiga bocah kembar itu terlihat sangat tampan dan tidak heran mereka menjadi anak anak populer, bagaimana tidak jika keluarga Jung memanglah terkenal pintar dalam segala hal juga mereka terlahir dengan tubuh dan perawakan yang mengagumkan, cantik untuk sang putri dan tampan untuk putra mereka.
Di mulai dari anak pertama Jung Yunho, Jung Jessica dan Jung Changmin adalah tiga putra dan putri Jung Ilwoo yang tampan dan cantik.
Jung Yunho. Pewaris tahta kerajaan perusahaan Jung, Jung Jessica Model sekaligus disainer dan Jung Changmin, pemuda yang lebih tinggi dari kakaknya itu masih menuntut ilmu di Oxford inggris. Jaejoong yakin, Changmin tentu sama hebatnya dengan kedua kakaknya.
Kamera mengambil gambar tiga putra Jung Yunho terlalu lama sampai Jaejoong tidak sanggup untuk mengedipkan mata dari mereka. Sungguh, hal yang sangat menakjubkan untuk dilihat dan sayang untuk di lewatkan karena mereka berada di tempat yang tidak terjangkau olehnya. Dunia mereka berbeda dan tidak akan pernah lagi sama.
"Lihatlah betapa lucunya mereka." Jaejoong mendengar pejalan kaki lainya juga mengagumi Daehan, Minguk, dan Manse sama seperti dirinya mengagumi ketiga bocah kembar itu.
"Sangat disayangkan, ibunya meninggal saat melahirkan mereka. Keluarga Jung tidak menyebutkan siapa wanita yang dinikahi Yunho di ingris dan melahirkan tiga putra yang begitu lucu dan tampan seperti Ayahnya."
"Pastinya wanita kaya yang sederajat dengan mereka, dan tentu saja cantik, kalau tidak bagaimana bisa mereka menerima wanita itu sebagai menantu mereka."
Jaejoong sudah mendengar berita itu berulang kali sejak dua tahun lalu. Pertama kali ia membaca koran yang diberikan temanya ketika menjenguknya di dalam sel penjara. Dua tahun di dalam sana tidak sedikitpun mengurangi pengetahuanya dari dunia luar.
Handphone Jaejoong bergetar di dalam saku. Menyadarkan dirinha dari lamunan. "Ya Hyung, aku sudah akan kembali."
"Tolong beli beberapa bahan makanan untuk besok pagi. Aku lupa membelinya, atau anak anak akan kelaparan karena tidak ada bahan makanan untuk dimasak. " Suara seseorang dari seberang sana.
"Baiklah." Jaejoong menutup Handphone model lama miliknya dan memasukan benda itu kembali ke saku celana. Untuk terakhir kalinya ia menoleh ke layar dan berita itu sudah berganti dengan berita lain.
Setidaknya Jaejoong tahu mereka baik baik saja. "Aku merindukan kalian." Ia mendongak untuk melihat bintang. Atau itulah alasan yang ia lakukan setiap kali air matanya akan keluar, ia seorang pria bagaimana bisa begitu cengeng oleh hal hal kecil ini.
Jaejoong melangkah pergi, sejauh yang ia bisa dan tidak dapat lebih jauh dari ini karena sebelah kakinya terikat oleh benang yang kasat mata di Seoul. Dirinya tidak dapat hidup seandainya harus bertahan di negara baru lagi dan ia menyukai Seoul. Karena Seoul adalah tempat tinggal orang orang yang ia cintai.
.
.
.
"Aku pulang."
"Mereka sudah tidur, dan dari mana kau seharian ini." Hankyung sibuk membersihkan ruang tamu yang berantakan karena ulah anak anak panti.
"Aku telah mendapatkan pekerjaan." Ia duduk di lantai dan menaruh bahan bahan makanan yang di pesan Hankyung.
"Kau bisa membantuku di toko, mengapa kau ingin mencari pekerjaan lain." Hankyung membuka kulkas dan memasukan barang barang kedalam sana. Ia meraih dua botok soju,dan mengambil tempat duduk di sisi lain meja.
"Kita rayakan kebebasanmu dengan ini, maaf tidak bisa membeli minuman yang lebih enak da mahal." Jaejoong menerima sebotol Soju yang telah dibuka, membenturkanya kearah botol Hankyung sebelum meneguknya tanpa perlu mengambil gelas.
"Aku sudah sangat berterima kasih kau mau menampungku,"
"Kita saudara, kau menyelamatkanku dulu dan aku membantumu. Kita impas, tidak ada yang berhutang kepada kita dalam hidup ini." Sekali lagi Hankyung bersulang dan tersenyum cerah. "Aku juga mendapatkan pesanan baru, sebuah pesta ulang tahun dari keluarga kaya. Aku berharap kau akan membantuku tetapi sayangnya kau sudah mendapatkan pekerjaan."
"Maaf tidak bisa membantumu. Tetapi aku bekerja hanya di sore dan malam hari, siang aku bisa membantumu."
Hankyung menatap Jaejoong dengan terkejut. "Dan pekerjaan apa itu?"
Meneguk kembali Soju miliknya, Jaejoong tersenyum penuh arti. "Sebuah restoran berbintang aku bisa bernyanyi di salah satu pub mereka di lantai bawah jika memiliki waktu luang, jangan khawatirkan aku. Aku selalu bermimpi bekerja di restoran dulu, tetapi Papa..." Jaejoong tidak meneruskan ucapanya. "...dia tidak pernah mengijinkanku."
"Kau bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari pelayan ataupun penyanyi Pub jika kau mau." Gelengan kepala Jaejoong menjawab pertanyaan Hankyung.
Selama empat tahun mereka saling mengenal mereka tidak memiliki rahasia apapun untuk disimpan. Jaejoong adalah pria terhebat yang pernah Hankyung temui, ia belajar banyak hal dari pria itu. Hankyung sendiri adalah anak dari pendiri panti asuhan tua di sudut kota Seoul. Orang tuanya sudah meninggal dan meninggalkan toko roti dan panti asuhan untuk Hankyung kelola. Tidak banyak anak anak yang tersisa karena Panti asuhan miliknya hanyalah panti asuhan kurang mampu yang tidak dapat menampung lebih dari sepuluh anak untuk sekarang.
Toko roti miliknya tidak terlalu besar ataupun terkenal, tetapi mampu menghidupi sepuluh anak yang saat ini tinggal juga dirinya dan Jaejoong. Mereka tidak pernah kelaparan dan kini Hankyung bernafas lega karena Jaejoong sudah kembali.
"Apa kau tidak ingin mengunjunginya?"
"Siapa." Tatapan Jaejoong menusuk Hankyung. Pria itu tahu tetapi pura pura tidak tahu."Ayahmu."
"Dia tidak menginginkanku, dia mengusirku dan mencoret namaku dari pewaris keluarga. Aku telah di buang, jadi untuk apa aku menemuinya." Jaejoong tidak mengira ia berkata sedikit keras."sampai kapanpun aku tidak akan mengemis kepadanya." Ia bangkit setelah menghabiskan sebotol soju. "Aku ingin istirahat, maaf."
Kenangan itu tidak akan pernah Jaejoong lupakan. Hinaan dan cacian Ayahnya yang melukai hatinya tidak akan pernah bisa di obati. Pria itu telah membuang dirinya dan berharap untuk tidak melihat Jaejoong seumur hidupnya. Dengan senang hati akan ia turuti, dan karena pria itulah ia kehilangan semuanya. Tidak! Ini adalah kesalahanya sendiri, karena dirinyalah yang memulai mala petaka ini.
Duduk di tepi ranjang Jaejoong mengeluarkan dompet dari saku jaket yang ia kenakan. Selembar foto yang tertinggal di mobil Hankyung. Foto itu hampir terbelah menjadi dua karena Jaejoong berniat merobek foto itu ketika menemukanya namun ia urungkan, biarkan ia menyimpan satu satunya kenangan dari masa lalunya ini.
"Daehani, Mingukie, Manse neun. Satu kesalahan yang tidak akan pernah aku sesali adalah kalian."
~TBC~
Pertanyaan setiap reader... Kenapa JJ di penjara? Sherry juga masih nyari alasanya hhhh *di cekik.
Dan hanya Tuhan YME dan sherry yg tahu. Itu rahasia cerita ini. Kalau di jawab gx kejutan nantinya.
Kebanyakan FF sherry gx bisa di tebak jadi jangan tergoda untuk menebak.