Jangan lupa Voment
Jadian..
K
ini jam menunjukkan pukul 06.10 ritual di pagi hari harus sarapan bersama dengan keluarga. Raila baru saja selesai memakai baju dan mengambil jaket Phoenix nya dan tak lupa tas yang isinya hanya ada dua buku kosong karena Raila yang tidak pernah mencatat. Membuka pintu dan bertepatan dengan Raka yang baru keluar dengan wajah segarnya.
"Pagi Twins!!" sapa Raka dengan wajah menyebalkannya. Raila mendelik tajam dan tak menyahut. Ini masih pagi.
"Aelah songong amat lo! Disapa saudara tuh nyahut!"
Raka berjalan cepat menyamai langkah Raila dan merangkul saudara kembarnya itu. Tinggi mereka hampir sama namun Raka sedikit lebih tinggi dan Raila hanya sampai telinga Raka.
"Jangan berisik! Masih pagi!" desis Raila tajam. Raka mengerjap polos. Dan mengecup singkat pipi Raila yang dengan cepat menghapus dengan tanganya seperti baru terkena debu.
"Raka! Lo nyebelin banget sih!". Teriak Raila di pagi. Raka acuh menjulurkan lidahnya dan menuju meja makan yang sudah diisi Papanya yang sudah rapi dengan Jaz kantornya dan Mamanya sudah rapi dengan Jaz dokter terlampir di atas kursi.
"Masih pagi YaAllah.. Jangan ribut deh". Lerai Mila kesal.
"Ma tadi malem Rai--- aws Raila setan! Sakit bangke!" Raka meringis merasakan denyut luar biasa di kakinya.
"Lo ya iblis banget!" Raka menatap Raila tajam dan Raila menampilkan wajah garang.
"Kenapa Raila tadi malam?" tanya Mila penasaran. Raila memelototi Raka yang hampir saja berbicara lagi.
"Gak Ma. Serem kayak macan tutul!" jawabnya asal tepat di depan muka Raila.
"Sarapan". Intruksi Bara yang sudah jengah melihat drama pagi hari keluarganya.
"Raka Raila nanti jangan bolos". Tegas Bara seperti tau isi kepala kedua anaknya. Raka dan Raila lemas seketika.
"Tapi pa". Rengek Raka.
"Mau Papa bongkar kolam berenang di belakang? Terus Raila mau Papa ambil semua buku Ensiklopedia kamu?" tanya Bara dengan datar. Keduanya menggeleng cepat. Bagi Raila Ensiklopedia sudah menjadi sebagian hidupnya.
"Gak pa!" jawab keduanya cepat.
"Gimana Les kamu Raka?" tanya Mila kepada putranya itu.
"Ma Raka mau nikah deh". Katanya Tiba tiba. Raila yang sedang minum susu pun tersedak.
Uhuk uhuk!!
Rasa perih meradang di tenggorokan Raila yang menatap Raka tajam. Yang di tatap hanya menampilkan wajah polos.
"Random banget otak lo!" desis Raila tajam. Raka mengangkat bahunya acuh.
"Kalian percaya gak tentang cinta pada pandangan pertama?" tanya Raka lagi. Raila memutar bola matanya malas.
"Gak!" jawabnya.
"Mama percaya". Kata Mila tersenyum kecil. Mengingat jika Bara menyukainya dari pandangan pertama.
"Papa juga. Karena Papa suka sama Mama karena pandangan pertama". Jawab Bara santai. Raka dan Raila saling pandang.
"Wajar sih. Mama kan cantik gini, siapa yang gak mau?". Monolog Raka.
"Mama emang cantik". Jawab Mila. Mengibaskan rambut panjangnya ke belakang. Ketiganya meringis melihat Kupercayaan diri tingkat tinggi Mamanya.
"Udah. Sarapan, habis itu sekolah". Titah Bara. Keduanya mengangguk.
*****
Motor Raila dan Raka memasuki kawasan SMA Cempaka, memarkirkan motor khusus parkiran untuk Phoenix. Raila membuka helm FullFace nya dan memperbaiki tatanan rambut nya. Keduanya menjadi tatapan pagi seluruh siswa siswi. Bahkan ada yang sampai terjungkal karena asik melihat duo kembar yang baru turun dari atas motornya itu.
Keduanya melangkah dengan tas di sampirkan di bahu kiri masing masing.
"Jangan cabut lo!" ujar keduanya bersamaan. Dan Raka terkekeh garing.
"Ngikut mulu lo!" sarkas Raila kesal.
Raka acuh dan mengantarkan kembaranya itu di depan kelas yang terkenal Horor.
"Selamat belajar Twins, masuk sono baru liat pintunya udah horor gue!" Raka bergidik ngeri.
MIPA SATU KHUSUS. begitulah tulisan selamat datang kelas Raila. Kelas khusus yang diisi oleh orang dan anak anak ambisius, bahkan dalam kelas tidak ada yang saling mengenal, tidak ada kebisingan dan tidak ada gibahan. Semua sibuk dengan buku masing masing. Maka karena itu di sebut kelas horor.
Raila membuka pintu bercat Hitam yang berbeda dengan kelas biasa. Jika kelas lain berwarna putih maka di kelas Raila bewarna hitam. Dan kelas dominan berwarna putih gading. Kelas nya berbeda karena dalam kelas Raila terdapat Toilet Khusus mereka agar para siswa tidak perlu keluar jika ingin ke toilet, guru sangat memanjakan kelas khusus Mipa karena kepintaran mereka tiada banding. Dan dalam kelasnya terdapat Loker khusus untuk mereka, serta perpustakaan kecil di belakang. Kelas khusus hanya ada satu dan hanya di kelas 12 saja.
Raila masuk dengan wajah datarnya. Dan seperti biasa hanya ada keheningan di dalam sana. Semua sibuk dengan urusan masing masing yaitu membaca buku. Raila duduk di sebelah gadis dengan rambut kuncir duanya. Sangat menggemaskan, salah satu orang yang bisa mendekati Raila yang beku.
"Raila udah ngerjain Kimia?" tanyanya dengan wajah polosnya. Raila mengangguk singkat dan menelungkupkan wajahnya dalam lipatan tangan.
"Raila, Afay mau cerita". Katanya antusias. Suaranya sangat kecil karena takut mengganggu penghuni kelas.
Raila duduk dengan tegap dan menatap Afay datar. Afay yang mendapat Respon memperbaiki duduknya menghadap Raila.
"Semalam Mama Afay kambuh". Katanya memulai. Raila menyimak dengan wajah datar.
"Terus?" tanya Raila karena lama Afay terdiam.
"Raila mau gak nanti anterin Afay?" tanya Gadis itu. Raila mengangguk.
"Nanti gue anter lo". Jawab Raila dan menepuk singkat pundak Afay.
"Lo tenang. Ada gue". Ujar Raila menatap Afay dingin. Afay tersenyum lebar.
" AAA MAKASIH Raila!!" teriak Afay dan mendapatkan tatapan tajam dari semua siswi. Afay terkekeh dan menunduk malu. Raila memutar bola matanya malas.
"Oiya Rai! Tadi Afay ditembak sama Cowok". Ujar nya memulai bercerita lagi.
"Terus Afay tolak. Eh dia marah marah malah bilang Afay sombong". Jelas Gadis itu mengembungkan pipinya sebal.
"Siapa?" tanya Raila singkat. Afay kembali berpikir.
"Hai Gue Devan. Lo mau gak jadi pacar gue. Gitu katanya". Jawab Afay menirukan perkataan Devan tadi.
Raila mengangguk singkat dan mengambil ponselnya. Mengetikkan sesuatu disana dan tak lama menyimpan ponselnya kembali.
"Gue ngantuk. Bangunin kalo ada guru". Kata Raila dingin dan menelungkupkan wajahnya kembali. Afay mengangguk cepat.
****
Istirahat telah tiba. Seluruh siswi kelas Raila pergi dari kelas, ada yang ke kantin dan perpustakaan.
Dan Raila memilih ke kantin karena perpustakaan sekolah sangat membosankan menurutnya. Raila berjalan beriringan dengan Afay yang menggandeng lenganya. Berjalan riang di sebelah Raila yang yang memasang wajah Flat.
Seluruh tatapan sinis di dapati Afay karena bisa berdekatan dengan Raila tentunya. Raila yang hanya memiliki satu teman wanita dan itu hanya Afay.
Seluruh siswa dan siswi berkumpul di deretan Loker khusus laki laki. Dan satu lelaki berdiri menegang dengan wajah pucat nya karena mendapati kartu merah di lokernya yang bertuliskan Phoenix. Itu pertanda bahaya.
Seluruhnya berkumpul dan saling berbisik, karena posisi kantin dan Loker sangat dekat membuat semua murid di kantin melihat dengan penasaran.
Raila dan Afay yang duduk anteng di meja khusus anggota Phoenix.
"Itu kenapa Rai?" tanya Afay menunjuk orang ramai. Raila menatap Afay dan tatapannya beralih menatap Gerry.
"Pesenin". Titahnya santai. Gerry yang baru akan duduk kembali berdiri.
"Pesen apa Rai?" tanya Gerry dengan wajah sedih. Baru duduk sudah di suruh.
"Mie Ayam, jus jeruk. Lo?"
Afay yang awalnya melihat apa yang terjadi di daerah loker menoleh ke arah Raila.
"Afay nasi goreng sama jus Alpukat aja". Jawabnya. Raila menatap Gerry memberi kode. Gerry mengangguk singkat dan pergi. Posisi kantin tempat meja Raila dan loker hanya berjarak taman kecil saja. Jadi mereka leluasa melihat yang terjadi.
Aron datang dan duduk dengan segelas Jus di tangannya. Raila mengambil dengan santai dan meminun tanpa beban. Aron hanya mendengus sebal tak membantah.
Dan dari tempat loker. Desta dan Alga datang dengan seember air. Dan Pria yang mendapat kartu itu menoleh dan mendapati Desta dan Alga.
Afay membulatkan mulutnya saat pria itu berbalik.
"Raila, itu Devan yang tadi pagi nembak Afay!" seru gadis itu. Raila mengangguk singkat.
"Dia dapat kartu dari lo?" tanya Aron. Raila mengangguk.
"Dia gangguin temen gue. Siapapun yang berurusan sama orang terdekat gue akan dapet akibatnya". Jelas Raila tajam. Afay tersenyum senang dan memeluk Raila di sebelahnya.
" AAA makin sayang deh sama Raila!" katanya memeluk Raila erat.
***
"Lo nyusahin banget!" kesal Desta karena pegal membawa satu ember Air.
"Gu-gue salah apa?" tanya Devan gugup.
"Salah lo? Karena gangguin Afay, bodoh banget sih lo. Ngaca woi muka lo kayak apa mau nembak bidadari. Ya bakalan ketolak lah!" sarkas Alga ngegas.
Devan menegak ludah kasar saat semua orang menatap nya sinis. Devan hanya diam membeku, salahnya mengatakan sesuatu tentang Afay.
"Gue mau hajar lo sih sebenernya. Tapi karena kata Raila gak usah jadi ya enggak". Jelas Desta santai. Alga mengambil air dalam gayung dan menyiram Devan yang memejamkan matanya.
"Ambil tepung nya terus siram ke nih bocah!" teriak Alga dan di soraki senang oleh semuanya. Seluruh siswi yang mendapat perintah mulai mengambil tepung yang tersedia berserta air membuat Devan hanya pasrah.
****
"Main lah yok gabut gue!". Ajak Desta karena jengah tidak melakukan apapun. Istirahat waktunya satu jam jadi masih lama untuk masuk mapel baru.
"Main apa?" tanya Alga ikut gabut.
"Main suit yok? Kalo kalah harus nurutin yang menang, ya?" tantang Gerry. Kelimanya mengangguk.
"Gue lawan Raila". Seru Gerry dengan semangat. Raila berdecak sebal.
"Mager". Ketus Raila.
"Ck. ayolah, sejarahnya kan lo gak pernah kalah gitu, jadi sesekali main mainan bocil". Jelas Desta. Alga Gerry dan Afay mengangguk membenarkan.
Raila berdecak malas lalu mengangguk pelan.
"Sampe tiga ya?" seru Gerry bersiap.
"Suit!"
Raila mendengus sebal karena baru awal dirinya sudah kalah.
"Suit!".
Shitt! Raila menatap tajam Gerry yang tersenyum kemenangan.
"Satu lagi Rai!" serunya bersemangat.
"Suit!".
Brak!
Raila menggebrak meja dengan kuat membuat sekantin terjengkang kaget. karena seumur hidupnya dirinya tidak pernah kalah dalam hal apapun itu dan kini harus kalah untuk pertama kalinya.
"Sumpah Demi dora si kang Nanyak! Raila kalah?! Beneran kalah main suit? Sumpah Demi jamur yang tumbuh di laut!!! PERDANA RAILA YANG GAK PERNAH KALAH HARI INI KALAH MAIN SUIT!!" Teriak Alga heboh.
"Berisik lo!" desis Raila tajam.
"Serius lo?" tanya Raka berdiri. Dan kemudian.
"HAHAHA! bangke lo kalah main suit? Beneran kalah?". Tawa Raka menggelegar. Raila menatap tajam kembarannya itu.
"Apa hukumannya?" tanya Raila jengah.
"Tembak cowok culun di kelas lo di tengah lapangan, dan jadian selama satu bulan!" kata Gerry dengan semangat. Raila mengangkat salah satu alisya. Dan melirik Afay bertanya.
"Itu Diego Dirgantara". Jawab Afay. Raila mengangguk paham dan berjalan menuju tengah lapangan.
"Cari Diego Dirgantara". Titah Raila pada Kenzie dan Kenzou. Keduanya mengangguk.
***
Kini Raila berdiri di hadapan cowok culun berkaca mata tebal, menunduk dalam menatap sepatunya. Raila sedikit mendongak dengan tangan bersedekap dada. Raila menatap angkuh cowok di depannya. Seluruh warga sekolah berkumpul dan melihat seorang Raila yang entah akan melakukan apa.
"Jadi pacar gue". Celetuknya tiba tiba tanpa beban.
Seluruh warga sekolah melongo tak percaya. Ada yang hampir pingsan dan banyak yang gerah kepanasan.
"Ma-maksud kamu apa?" tanya Pria itu dengan wajah terkejutnya.
"Jadi pacar gue. Lo gak tuli kan?". Tanya Raila dingin dan tajam.
"I-iya". Jawabnya takut.
Raila berbalik dan menghadap ke arah Gerry Desta dan Alga yang sudah susah payah menahan tawanya. Raila menatap tajam. Sedangkan Aron hanya bersedekap dada melihat permainan gila Sahabatnya itu.
Raila yang baru melangkah dua langkah seketika berhenti dan berbalik.
"Lo!" panggilnya kepada Pria yang baru resmi menjadi pacar pura pura nya. Pria itu berbalik dengan wajah polosnya.
"Nama lo?" tanya Raila dingin. Diego menunjuk dirinya bertanya.
"Aku Diego". Jawabnya pelan. Raila mengangguk singkat dan berbalik meninggalkan lapangan dimana semua orang masih dalam mode Ngango.
***
JANGAN LUPA VOMENTTT