Part 1

9 0 0
                                        

-Hi Guys! It's me-

Kamu memang popular, banyak yang mengincarmu dari sudut manapun. Sayangnya aku tak berani mengatakan hal yang kusimpan dari sejak dulu, terlalu banyak hal yang kutakuti tanpa kau ketahui, tapi aku suka itu.

-

Kali pertama aku menginjakkan kaki disebuah bangunan asing membuat hatiku sedikit ragu. Ragu, akan kah yang diharapkan oleh kedua orangtua bisa kujalani dengan baik atau tidak. Selalu saja seperti itu, entah apa yang berada dipikiranku kala itu.

1 tahun telah berlalu, sama seperti biasa tidak ada yang istimewa dalam setiap harinya. Selalu saja dipenuhi dengan kegiatan masing masing anak manusia. Kesibukan, keheningan, kebisingan, terkadang semuanya menjadi satu menyatu.

Malam tiba, menyapaku dengan angin khasnya. Terkadang aku selalu berpikir, apakah semuanya akan berbuah menjadi manis? Berapa banyak hal yang kulewatkan? Apakah hal yang aku lakukan sekarang adalah hal yang benar? Kapan semua ini akan berakhir? Sialan.

Kututup buku pengetahuan yang sedang kubaca itu. Segera aku kembali memasuki kamar, kamar yang sudah aku tempati selama 1 tahun ini mungkin memberikanku banyak pelajaran yang terkadang aku sadari. Tapi sayangnya aku terkadang tidak terlalu memperdulikan semuanya. Yang aku inginkan hanya satu untuk sekarang. Fokus. Fokus harus segera menyelesaikan apa yang sudah menjadi tujuanku untuk berada disini.

"Ra!" seseorang menepuk bahuku dari belakang.

Lantas aku yang sedang memasukan buku tadi langsung menoleh begitu saja, kukira siapa, ternyata Faida salah satu temanku.

"Ya? Apa kau membutuhkan sesuatu dariku?" ucapku to the point.

Dia yang kutatap seperti itu mendadak kaku. Tunggu, apakah aku membuatnya takut? Sialan, mengapa orang orang terus menganggapku orang yang menakutkan, itu sangat mengganggu sekali. Segera aku simpan buku yang tadi kubaca, dan segera menyelesaikan pembicaraanku dengan Faida.

"Guras manggil kamu, coba kamu datengin sekarang ke box kamarnya" ucapnya sedikit gugup. Akupun mengangguk dan segera mendatangi kamar Guras (Guru asrama).

Sebelum masuk tak lupa ku ucapkan salam terlebih dahulu, teman seasramaku menatap ke arahku yang akan memasuki kamar Guras. Ah itu sudah biasa bagiku, aku tidak peduli. Beberapa detik kemudian seseorang menjawab salamku, siapa lagi kalau bukan kakak Guras itu.

"Ayo masuk, Ra!" ucapnya ramah kepadaku. Segera kuturuti permintaannya tersebut.

"Duduk!" ucapnya kembali, begitupula aku menuruti permintaannya lagi.

"Kakak ga bakal lama lama, seperti biasa gimana perkembanganmu? Apa kamu masih susah untuk bersosialisasi dengan teman sekamarmu?" Tanya nya dengan hati hati.

Sebenarnya aku malas sekali untuk menjawabnya, sudah ratusan bahkan ribuan pertanyaan ini dilontarkan kepadaku. Tapi tetap saja nihil hasilnya. Terkadang aku sangat muak ditanya terus seperti itu, bahkan bukan hanya kakak Guras yang menanyakan itu, sampai kesantrian/kesiswaan menanyakan hal itu langsung kepadaku, membuatku selalu repot dan pusing ketika harus menjawabnya.

"Apa kakak tidak pusing? Setiap bulan oh bukan, setiap minggu terus saja menanyakan hal itu kepadaku" ucapku sedikit kesal.

"Bukan seperti itu Hadara Meenakashi! Maksud kakak, kakak khawatir kamu sampai lulus terus seperti ini tanpa ada perkembangan, yang kakak inginkan adalah kamu bisa bersosialisasi bersama teman temanmu, cobalah mulai dari teman seasrama, kemudian teman sekelas, lalu lanjut ke yang lainnya" ucapnya dengan sabar memberi tahu hal itu kepadaku.

Aku mendengus kesal, "Bukan kah saat ini aku sedang bersosialisasi bersama kakak?" ucapku jengah.

"Haduh Ra, Ra. Memang iya begitu, tapi jangan hanya bersama kakak saja bersosialisasinya cobalah bersosialisasi bersama temanmu, tidak harus semua mulailah dengan satu persatu" kata kata itu lagi, aku selalu bosan mendengarnya.

Daripada berdebat, dengan segera ku anggukan kepalaku. "Coba ya! Nanti kakak pengen lihat hasilnya" ucapnya sembari menyunggingkan senyuman khasnya. Sedetik kemudian akupun meminta izin ingin segera membereskan tugas yang kemarin sudah diberikan oleh salah satu guru dikelasku.

Baru saja keluar, teman temanku sudah menatapku seperti biasa, kucoba menyunggingkan senyum ke arah mereka, namun aku serasa malah seperti orang jahat yang sedang menyeringai. Sialan. Dengan segera aku memalingkan wajahku dari mereka.

"Hei!" seseorang kembali menepuk bahuku. Dan tanpa aku sadari aku berdecih dengan sedikit emosi. Seseorang yang berada disampingku itu kaget melihat kelakuanku seperti itu, segera aku meminta maaf agar tidak terjadi masalah besar, begitu pikirku.

"Maaf... kenapa?" ucapku sedikit kaku.

Sial, situasi macam apa ini. Batinku.

Diapun berdehem dan sedikit memperbaiki posisinya itu. "Ini, bukumu yang pernah aku pinjam dua minggu yang lalu" ucapnya sembari menyodorkan buku yang berjudul 'TA'LIMUL MUTA'ALLIM' itu. Segera ku ambil darinya dan menyimpannya kembali ditempat semula.

"Eh, Makasih ya udah minjemin bukunya" ucapannya membuatku mengangkat alis kiriku.

Dia menatapku bingung, sial, aku hampir lupa kalau aku sudah melakukan kembali kebiasaanku itu. "No problem, maaf aku harus pergi" ucapku kepadanya. Segera aku melangkah menuju kasurku yang berada diatas kasur milik Hannah. Beberapa diantara mereka ada yang memperhatikanku, seperti Faida saat ini. Dari sudut mataku aku bisa menangkapnya, bahwa dia sedang memperhatikan aku yang sedang menaiki tangga kasur. Entah apa yang sedang dipikirkannya, aku tidak terlalu memperdulikannya.

Semua teman temanku yang berada diasrama kini mereka sudah bersiap untuk tidur. Membuatku lebih merasakan keheningan yang sengaja kutunggu sedari tadi.

Ketika semua orang sudah terlelap, aku turun dengan perlahan dan segera melangkah kearah toilet asrama, dengan penuh hati hati aku selalu melakukan aktvitasku tanpa diketahui oleh orang lain.

---

Gimana guys?

Semoga seneng ya sama ceritanya. Yeah, I wish. Thank you!

See you Again di part 2. Jangan lupa buat vote and komen xixixi.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jan 17, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

DAZZLE eau de parfumWhere stories live. Discover now