Main cast:
Ayaka Dyara.
Narendra Zinan Putra
Aya Point of View
Gue berdiri lelah menatap laki-laki yang berdiri dihadapan gue sekarang, untuk sesaat gue masih berpikir keras, apa yang sebenernya ada dalam pikiran seorang Narendra?
"Ngapain Kakak nyusulin aku sampai kemari?" Tanya gue pada akhirnya.
Kak Rendra yang memang masih berdiri di ambang pintu kamar bergeser masuk lalu nutup pintu begitu mendengar pertanyaan gue, maunya apa sekarang?
"Kamu sendiri ngapain disini? Kabur?" Tanya Kak Rendra balik, gue tersenyum sinis dan berpindah duduk di salah satu sisi ranjang.
"Kenapa diem? Kakak tanya kamu, ngapain kamu disini?" Ulang Kak Rendra berjalan cepat berdiri di hadapan gue.
"Aku ngirim pesan ke Kakak kan? Kakak juga udah baca pesannya terus nanya kaya gini untuk apalagi?" Ngapain Kak Rendra sampai nyusulin kemari? Sejak kapan waktu berharganya itu rela dihabiskan cuma untuk ngurusin gue?
"Apa Kakak ngizinin kamu pergi?" Gue diam.
"Kalau udah tahu nggak ada izin, yang kamu pinter-pinter tetap pergi itu kenapa? Kebiasaan kabur kamu itu bener__"
"Aku cuma ikut liburan sama keluarga aku, apa itu nggak boleh juga?" Potong gue cepat, lagian mana ada orang kabur tapi ngirim pesan dulu? Berlebihan banget.
"Kamu sadar nggak kondisi kamu sekarang gimana? Inget nggak beberapa hari yang lalu dokter bilang apa?" Nada bicara Kak Rendra meninggi.
"Aku inget, jus__"
"Kalau inget kenapa kamu tetap pergi? Kalau bukan karena itu, apa kamu pikir Kakak bakalan rela nyusulin kamu sampai kesini?" Potong Kak Rendra masih dengan nada bicara yang sama.
"Justru karena itu makanya aku milih pergi, aku juga nggak butuh Kakak disini." Gue sadar banget kalau gue nggak sepenting itu untuk Kak Rendra, gue cukup tahu diri.
"Kamu pikir, Mama bakalan diam aja kalau tahu kamu pergi sendirian kaya gini?"
"Yang pergi sendirian juga siapa? Aku bareng keluarga sepupu aku, nggak usah dibikin ribet bisakan?" Capek banget gue ngadepin kelakuannya Kak Rendra yang makin hari makin aneh.
Gue capek, gue butuh waktu sendiri dan harusnya ini juga bisa jadi kesempatan bagus untuk Kak Rendra, dia nggak harus ngurusin gue, dia nggak harus ngadepin muka gue juga.
"Ribet? Yang bikin semuanya jadi ribet kaya gini sebenernya siapa? Kalau kamu pergi sendirian, kamu mau orang rumah mikir apa? Kamu mau mereka mikir kalau Kakak nggak peduli sama kamu?" Kak Rendra menggenggam lengan gue cukup keras sekarang.
"Tapi kenyataannya Kakak nggak peduli sama akukan? Kakak benci dan karena kebencian Kakak itu aku harus hidup menderita kaya gini."
Nggak usah berdebat tentang siapa yang nggak peduli sama siapa sekarang, gue sama Kak Rendra jelas tahu, siapa yang benci dan siapa yang sebenernya terus dipaksa untuk peduli.
"Udahlah Kak, aku capek, jadi tujuan Kakak kemari itu apa?" Gue mencoba lebih bersabar, nggak ada gunanya berdebat sama Kak Rendra.
Lagian tujuan Kak Rendra dateng apa cuma buat ngajak berantem? Apa nggak bisa dia ngasih gue sedikit waktu dan ruang untuk bernafas? Sampai kapan gue harus ngadepin kebenciannya? Apa seumur hidup?
"Mama khawatir sama kamu." Dan sekarang Mama yang dijadikan alasan.
"Kalau memang cuma karena itu, lebih baik Kakak pulang sekarang, nggak usah khawatir, besok aku bisa pulang sendiri." Lagian yang mau nganterin gue pulang besok juga banyak.
"Jangan bikin Kakak ngulang ucapan Kakak lagi, Kakak nggak akan beranjak kemanapun kalau kamu nggak ikut." Helaan nafas gue semakin terdengar jelas.
"Susah banget dikasih tahu, yaudah terserah Kakak, mau nginep atau bahkan tinggal disini sekalipun ya silahkan, asal bukan sekamar sama aku." Narik paksa lengan gue yang di genggam Kak Rendra, gue bangkit dari duduk gue sekarang.
"Kakak mau tidur dimana aja terserah asal bukan disini." Gue bahkan melempar tas Kak Rendra ke lantai dan berjalan masuk ke kamar mandi.
Gue mengusap wajah kasar sangking nggak habis pikir sama kelakuan Kak Rendra, ini orang sebenarnya mau apa lagi? Apa belum cukup dia ngancurin hidup gue?
Gue milih ikut kemari karena mau nenangin diri sebentar tapi bisa-bisanya Kak Rendra nyusulin dengan alasan yang nggak penting, Kak Rendra sebenernga mau apa lagi?
Membasuh muka dan narik nafas dalam, gue menatap pantulan wajah gue dicermin masih dengan pikiran menimbang, apa yang harus gue perbuat supaya Kak Rendra ngerti, gue nggak mau apapun dari dia, gue nggak akan nuntut apapun.
"Ay! Buruan bisa? Kamu nggak tidur didalamkan?" Panggil Kak Rendra dari luar yang masih bisa gue denger, apa Kak Rendra belum pergi juga?
Menggelengkan kepala mumet, gue membuka pintu kamar mandi dan mendapati Kak Rendra sekarang malah berbaring santai diatas ranjang kamar gue, apa Kak Rendra nggak ngerti bahasa Indonesia?
"Apa ucapan aku tadi kurang jelas? Kenapa Kakak masih disini?" Tanya gue mencoba sesabar mungkin.
"Apa kamu lupa ingatan? Dikamar mandi kepala kamu nggak sengaja kamu benturin ke dindingkan? Kenapa Kakak harus tidur dikamar lain kalau Kakak punya kamu?" Tanya Kak Rendra balik tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Ni orang beneran geger otak kayanya, dia yang begitu menunjukan kebencian tapi dia juga yang nggak mau jauh-jauh, alasannya ada aja, nggak jelas.
"Mana ada Kakak yang tidur sekamar bahkan seranjang sama Adiknya?" Gue lagi mencoba untuk sesabar mungkin.
"Kakak itu status yang kamu buat sendiri tapi kalau ikut kenyataan, Kakak juga suami kamu, kamu lupa kalau kamu istri orang sekarang?" Gue menghembuskan nafas pasrah.
Dan sekarang bawa-bawa kata istri, wah gue salut, alasan gebrakannya bisa banget bikin gue makin pusing.
"Sebenernya Kakak mau apa? Bisa nggak sehari aja Kakak cuti ngusik hidup aku? Aku beneran capek." Gue cuma minta waktu libur sehari, besok lusa gue juga langsung balik.
"Itu karena kamu yang lebih dulu ngusik hidup Kakak." Ini lagi yang di bahas?
"Nggak usah bahas soal suami istri di depan aku, Kakak tahu keadaan kita gimana jadi nggak usah di bahas kalau cuma buat ngajak berantem." Gue udah nggak punya tenaga sebanyak itu.
"Terus kamu pikir Kakak mau banget berantem sama kamu? Kamu pikir Kakak suka kalau harus sekamar bahkan seranjang sama perempuan modelan kamu? Jangan harap." Gue tersenyum sinis dan maju mendekati Kak Rendra, gue berdiri di hadapannya dan natap dia cukup dekat.
"Kalau memang Kakak sebenci itu sama perempuan modelan aku, kenapa nggak pergi sekarang juga?" Tanya gue lantang.
"Itu karena kamu kabur masih membawa calon anak kita."
.
.
.
Yuhu! Welcome back to my lapak manteman kwkwkw 😁
YOU ARE READING
The Marriage We Never Planned
RomanceAya tidak pernah menyangka bahwa sebuah pernikahan yang sejak awal direncanakan hanya untuk sementara akan mengubah seluruh hidupnya. Aya telah memiliki seseorang yang ia cintai. Sayangnya, hubungan itu tidak pernah mendapat restu dari kedua orang t...
