A/N: INI CERITA BOY X BOY. JADI JANGAN SALAH LAPAK, YA!
Yurio: kan di Deskripsi udah ada peringatannya, ngapain dikasih tau lagi? buang-buang energi aja lo
A/N: cuma ngingetin doang elah. lagian lo sewot amat dah
Victor: kalo gak sewot namanya bukan Yurio
Yurio: yurio who? gue yuri plisetsky
A/N: y.
Victor: anw, ada yang liat Yuuri gak?
A/N: BULOL HARAP MINGGIR
Yuuri: *nyengir kuda* Gomen gomen...
..........
Bagi seorang Victor Nikiforov, ice skating adalah hidupnya. Bagian dari jiwanya. Separo dari napasnya. Seolah tujuan pria bersurai kelabu itu lahir di dunia ini hanyalah untuk menghamba pada arena yang dilapisi balok-balok es sintetis. Seolah nyawanya bergantung pada seberapa tajamnya blade yang terbenam di sol sepatunya.
Bagi seorang Victor Nikiforov, hidup tanpa ice skating adalah mimpi buruk. Ketakutan terbesar. Hidup tanpa berseluncur di atas gelanggang adalah tekanan bagi batinnya yang serapuh kaca, penyiksaan tanpa wujud, penderitaan yang tak berkesudahan. Sakit, tapi tak berdarah. Tersayat, tapi tak berbekas.
Bagi seorang Victor Nikiforov, ice skating adalah hidupnya. Ice skating adalah segalanya, dunianya. Victor Nikiforov bukanlah apa-apa tanpa sepatu seluncurnya, tanpa lompatan quadrrupel flip -putaran empat kali lipat- yang menjadi gerakan andalannya, tanpa liukan elok penuh gaya dari tubuh maskulinnya yang proporsional.
Victor Nikiforov bukanlah apa-apa tanpa ice skating.
Tapi sayangnya, ice skating jugalah yang membuatnya jenuh. Hampa. Tak bergairah.
Jujur saja, lima kali memenangkan Final Grand Prix berturut-turut tak membuat pria berkelahiran Rusia itu merasakan euforia yang pernah dirasakannya saat pertama kali melangkahkan kaki di dunia ice skating. Seakan kebahagian telah melenceng dari porosnya, tersedot dan menjauh secara perlahan dari rongga dada. Menyisakan ruangan kosong melompong yang mengisi relung hatinya.
Bagi seorang Victor Nikiforov, ice skating adalah hidupnya.
Tapi, itu sebelum dia diperkenalkan oleh dunia baru yang tak pernah diketahui Victor eksistensinya. Sebelum takdir mempertemukan dia dengan seorang lelaki berbingkai kacamata biru yang memohon padanya untuk menjadi pelatihnya di perjamuan makan malam setahun yang lalu. Sebelum untaian benang merah tak kasat mata yang tersemat di kelingkingnya membimbing Victor menuju jalinan takdir.
Sore itu, saat Victor tengah bersantai dengan Makkachin, anjing puddle kesayangannya, dia menemukan perasaan itu lagi kala melihat pria berkelahiran Negeri Sakura itu berseluncur di atas es, meniru programnya dengan sangat apik, tanpa celah, tanpa cacat. Seolah tubuhnya terhubung dalam senandung musik, menyatu bersama lagu yang menggelitik indra, mengalun syahdu sampai-sampai Victor terhanyut dalam buai.
"Vi-Victor?"
Bulan april. Jepang. Kyushu.
Pemandian air panas di Yu-topia serasa menenangkan saraf yang semula tegang, merilekskan pikiran yang semula mengganggu benak, meluruhkan lelah seiring dengan kubangan air yang menenggelamkan separo tubuhnya.
CITEȘTI
VICTORY II Yuri on Ice Oneshoot
Proză scurtăA Victuuri Fanfiction Hanya ingin mengeluarkan imaji yang bersarang dan mulai menumpuk dalam kepala. Sebelum berdebu menjadi abu. Sebelum terlupakan dan berakhir teronggok membisu di suatu tempat di dasar otak. ⚠DISCLAIMER⚠ PERLU DIINGATKAN KALAU I...
