Matahari belum berangkat sempurna ke atas kepala, tapi jiwanya ditarik paksa untuk tersadar di kala embun menusuk kulit dengan dinginnya yang tidak manusiawi. Tapih tipis berwarna biru yang dibelinya tahun lalu bahkan tidak dapat membantu. Bibir itu menggigil sesekali, sementara kedua tangannya bertaut menghangatkan satu sama lain. Tidak ada perapian, tidak juga penghangat ruangan, melainkan lahar yang menyembur dari bibir ranum seorang yang ditunggu—mimiknya gelisah. Jelas sekali inginnya menolak, tapi ia terima. Naif? Manusia.
Gunung merapi akan purna kalau mendengar katanya. Melahap jiwa manusia bulat-bulat tanpa menyadari kalau ia adalah seorang kanibal yang termanifestasi dalam wujud ibu peri. Tidak ada yang menyadari, termasuk dirinya sendiri, terkecuali seseorang yang jiwanya telah hangus binasa menyisakan raga yang kontras sebab perannya belum usai.
Pada akhir cerita, ia akan tenang. Itu pintanya pada Yang Kuasa, lain-lain kalau garis tangan membawanya pada panggung lain yang harus ditekuri. Peran palsu pemuas hasrat yang tiada habisnya melingkahi otonomi yang bukan miliknya. Ia, pemeran utama yang dialihkan menjadi pemeran terbelakang yang hanya sesekali dipastikan kehadirannya, menghela napas sepelan mungkin. Debu saja masih tampak, tetapi ia tidak. Takut-takut bernapas dianggap tak beradab.
"Kalau tak mau, jangan," ingatkannya yang sudah terduduk tidak tahu harus apa. Suaranya masih terdengar jelas. Namun, gempa berskala kecil mengguncang suaranya. Pundaknya tegap, nyalinya tahangkup(1).
Lawan bicaranya menaikkan satu sudut bibirnya. Sorot matanya tidak terlihat sebab keduanya berada di lain ruang yang terhubung oleh lorong tanpa pintu. "Seperti anak kecil," desisan itu jelas sekalipun jarak terbentang di antaranya.
Gempa itu bermetamorfosis menjadi luapan yang tidak dapat ditahan. Perwujudan bening yang mengalir di pelupuk mata terlalu berat untuk diendapkan pada kantung mata yang juga menyerah. Jawabannya dapat lebih baik, tapi manusia selalu menyerupai penggoda Adam yang membuatnya diusir dari surga. Menjadi baik kedengarannya tidak sebaik itu.
"Aku bisa tidak peduli pada hubungan darah kalau-kalau ..."
Kalaunya belum usai, perandaiannya masih tergantung bak anai, tetapi satu kalimat memotongnya lebih dulu, "Kau sudah besar. Sudah kuliah kau. Jangan seperti anak-anak." Rupanya pendidikan dijadikan tarif kesabaran seorang dewasa ini. Anak-anak pun terkena imbas yang selalu dianggap "kecil". Padahal, seorang yang telah melahirkan anak dari rahimnya saja tidak demikian. Labelisasi subjektif—entah bagaimana manusia selalu merasa dirinya paling bijak pada suatu titik, merendahkan yang lain yang melihatnya tidak lebih dari seorang berhati pinyik.
Rendah. Direndahkan. Bukan sesuatu yang baru saja terjadi. Manusia berlomba-lomba untuk mencapai puncak tertinggi dengan menekan yang di bawahnya, tanpa menyadari dirinya tidak lagi menjadi manusia ketika melakukan itu—wujudnya tidak berubah, lain dengan jiwanya yang dirasuk superioritas penguasa.
Pada akhirnya, seorang mundur dari kompetisi. Ia, yang perandaiannya terpenggal, melarikan dirinya ke dalam kamar. Ruangan petak segi empat yang paling aman untuk bersembunyi, setidaknya dari dunia yang terus berputar tanpa kepastian. Lebih-lebih penghakiman yang selalu menyudutkan. Laharnya meluap—panas di sekitar matanya tak terbendung ketika wajahnya berubah menjadi sembab dalam hitungan detik. Sulitnya menjadi yang harus mengalah, menangis pun akan tetap salah. Hanya kipas angin yang terus berputar menyaksikan air matanya yang terus membasahi pipi merahnya seiring bibirnya digigit keras menahan segukan yang akan terlepas. Bersuara layaknya manusia biasa saja tidak dibenarkan, apalagi ia yang menangis—bisa-bisa dianggap drama layaknya pemain sinema—padahal luapan emosi adalah wajar, kan?
Dengan tangan yang menutupi mulutnya, ia berjalan ke hadapan cermin yang memantulkan gambaran gadis berusia delapan belas tahun. Baru kemarin orang itu—yang membungkamnya dengan posisinya sebagai anak—merayakan usianya yang bertambah satu, baru kemarin ia memasuki perkuliahan yang tidak bisa dilaksanakan secara luring. Padahal, kampus adalah satu-satunya alasan untuk melarikan diri dari penjara tanpa jeruji. Bangunan berjendela yang dihuni empat kepala. Ia, yang perandaiannya terpenggal yang suaranya dibungkam, terkurung bersama tiga kepala manusia yang dalam pandangannya bergerak tanpa hati, seperti kuyang(2) yang melayang. Bahkan, kuyang hanya berkeliaran di malam hari. Tidak setiap hari di mana posisinya berubah menjadi pembantu, "Anak gadis dilahirkan untuk bersih-bersih. Untuk apa punya anak gadis kalau tidak bisa membantu?"
Pertanyaan untuk apa seolah menjadikannya objek yang harus memiliki fungsi. Tak apa, ia adalah benda mati yang dititip dalam raga yang bergerak seperti anjing mematuhi tuannya. Hanya saja, hatinya masih manusia.
Kepalanya menggeleng karena tangisnya yang tidak kunjung berhenti. Katakan saja emosinya tidak stabil, tetapi merapi saja akan meluap sewaktu-waktu. Bagaimana rasa yang tertimbun selama delapan belas tahun hidupnya tidak boleh dimuntahkan?
Lelah. Sedih. Dua kata yang tertera pada bola mata kanan dan kirinya. Ia ingin didengarkan, sesekali dibiarkan lahar itu meluap tanpa dimarah, sekalipun anak kecil akan dilekatkan padanya ... anak kecil saja kalau menangis akan dibujuk, kenapa ia tidak? Apa dirinya yang sudah delapan belas tahun—ia, yang sudah berkuliah—tidak wajar ketika merasa sedih, lelah, hendak menangis? Egois. Suatu waktu manusia ingin didengar, lain waktu ia tak mau dengar orang lain yang hanya butuh satu telinganya saja untuk dihargai.
"Tidak usah sembahyang. Buat apa kau sembahyang? Surga kau di kaki aku, tak kau hargai."
Oh, oh ...
Sekarang surga dan neraka pun jadi hak manusia?
Ia, yang perandaiannya terpenggal yang suaranya dibungkam yang kini tak boleh juga sembahyang sebab neraka adalah tempatnya pulang, berbisik dalam hati menjawab, "Aku bahkan tidak sembahyang benar. Lebih baik daripada aku kecewa nanti karena sudah sembahyang tapi setan tak juga musnah dari hadapku."
"Coba lah kau begitu terus. Diam. Kau tak tahu bagaimana jadi aku."
Sudah dikatanya kalau surga tidak untukku, sekarang diam bukan hakku? Tidak ada lagi yang tersisa selain nyawa yang menunggu Izrail dengan segala kerinduan. Sebab pongah sekali manusia meminta yang lain membayangkan menjadi dirinya, untuk apa setiap orang dilahirkan masing-masing kalau tempatnya saja harus dicoba oleh orang lain untuk dirasai?
Banyak tanya sekali. Kalau-kalau kau, yang membaca ini, berpikir begitu.
Ia, yang perandaiannya terpenggal yang suaranya dibungkam yang kini tak boleh juga sembahyang sebab neraka adalah tempatnya pulang yang diam adalah haram untuknya, tidak pernah bertanya sebegitu lancang. Biar tulisan ini mengungkapnya. Barangkali puan bersedia menjawab, lalu matanya dapat tertutup mudah kalau Izrail tiba sebab semuanya tertumpuk—rasa dan tanya yang tak pernah diluapkan, sekarang membeludak meminta dimuntahkan. Namun, ia tak kuasa sebab ia tak punya tempat. Diamnya pun tidak diperkenankan. Mungkin, dalam liangnya, ia bisa bercerita pada dua utusan Tuhan tentang lahar yang membentuk jelaga selama ia bernyawa.
——
(1) terjatuh; terjerembab
(2) hantu wanita yang melayang dengan kepala dan lambung
Hari ini, hari Ibu. Sayang, aku lebih suka menyebutnya hari perempuan—sebab bukan hanya sang pemilik surga di telapak kaki yang harus dipuja—dan kamu, regardless you are little girl, teenage, woman, patut dihargai. Selamat hari pemberdayaan perempuan!
YOU ARE READING
Jelaga Rasa
Short StoryThis story is written at the moment when things are messed up. No guarantees, this will not be as mess as life. I hope you, your jelaga rasa, can be told. DMs open.
