"Allahuakbar.. Allahuakbar...". Lantunan azan terdengar ditelinga gadis cantik yang baru saja lulus dari bangku SMA tersebut.
Sungguh hatinya sangat gembira dikarena dia berhasil meraih nilai UN tertinggi disekolah nya dan mendapatkan beasiswa untuk kuliah menjadi seorang dokter.
"Afsha Azizah....!!!". Ayah gadis tersebut memanggil nama anaknya dari bilik ruang salat keluarga.
"Iya ayah, Afsha lagi ambi sajadah" sahutnya.
"Cepat nak, kita berjamaah, jangan lupa panggil abang mu,sedari pagi hanya bermain game saja". Ayah nya memang sedikit kesal dengan anak angkat laki-laki nya itu karena sering sekali bermain game hingga lupa waktu.
*Di kamar Abang*
Tok..tok... ..
" Bang, ayoo cepat. Aku cabut ya WiFi nya.." dan kabel itu pun diputuskan begitu saja oleh Afsha.
"Woy, ah sinting kau." Pintu itu pun terbuka dengan keras dan terlihat seorang gadis yang sudah mengenakan mukenah.
"APA?! ,Mau marah? , Coba aja klo kamu berani" Afsha akan selalu berani jika tindakan yang dilakukan oleh nya benar
" Eh...nggak dek, enggak . Ampun dek " Melihat wajah sang adik yang sudah penuh amarah, tentu abangnya menjadi ciut. "Ini Abang ambil wudhu sekarang ya cantik.." Goda Habib kepada sang adik.
" Cepetan, kau selalu saja lupa waktu karena game sialan itu !" Afsha pun pergi dari hadapan sang Abang dan berjalan ke ruang Salat.
Lalu Ayah,Umi ,Afsha dan bang Habib pun melaksanakan salat dengan khusyuk
.
.
.
"Apakah aku pantas mendapatkan ini semua ya Allah, rasanya aku belum menjadi hambamu yang bertakwa. Tapi anugerah-Mu sungguh luar biasa. " Gadis itu bermonolog sambil melihat kertas beasiswa yang ia terima dari Universitas Ternama di Indonesia
Tring.. tring.. trin. *Handphone nya berbunyi
"Assalamualaikum,halo ini dengan siapa?" Tentu sebuah nomor yang tak dikenal sering menghubungi nya. Terkadang salah sambung tapi yang paling sering adalah lawan jenis satu sekolah nya yang "modus "atau ingin PDKT dengan Afsha. Ya gadis ini tidak pernah berpacaran seumur hidupnya,karena dia tidak mau tujuannya menjadi dokter terganggu hanya karena rumitnya percintaan anak muda.
"Halo.. Selamat sore, Saya Maria Simanjuntak. Saya adalah Mahasiswa kedokteran beasiswa yang akan datang, sama seperti kamu. Kebetulan saya mendapatkan nomor telepon kamu dari panitia beasiswa,karena anak beasiswa hanya kita berdua seperti nya, dan aku dari pelosok desa. Bisakah kita saling kenal? Agar aku punya teman nanti saat di kampus." Tutur Maria saat ditelepon
Afsha terdiam beberapa saat,ada sedikit rasa canggung dan bingung, terlebih orang yang ditelepon tersebut tidak menjawab salamnya.
" Oh iya tentu boleh Maria. Saya Afsha Azizah. Salam kenal ya. Kalau boleh juga kamu bisa follow IG,Tiktok,sama Subscribe YouTube aku,klo kamu mau sih". Afsha tak lupa menyebutkan akun sosial media nya, ya gadis satu ini sangat aktif didunia maya.
"Tanpa kau minta, aku sudah melakukan nya Afsha. Di kampung ku kau cukup terkenal hahah" Afsha sedikit terkejut namun sekaligus senang, ternyata konten motivasi dan edukasi yang dibuatnya tidak sia sia
"Baiklah Afsha , sampai berjumpa minggu depan di kampus. Aku tutup ya ,selamat sore"
"Sore Maria"..
Duar... Duar... Duar..
Terdengar suara tembakan cukup jelas di telinga nya setelah menutup obrolan nya dengan Maria.
Afsha berlari untuk keluar rumah melihat kegaduhan apa yang terjadi. Namun tiba-tiba ada yang menarik lengannya dari pintu dengan kuat sehingga dia tertarik masuk lagi kedalam rumah.
"Nak, kamu ini kenapa malah mau keluar. Di sana bahaya nak" Ummi Afsha sangat panik melihat anak perempuan nya yang malah kepo dengan suara tembakan tadi
"Emangnya, diluar itu kenapa Ummi?, Afsha ingin tau Ummi!!."
" Ternyata selama ini kita bertetangga dengan teroris nak. Ada beberapa bom dirumah nya,dan rencananya dia akan mengebom 3 rumah ibadah non muslim."
Afsha sungguh kaget dengan penjelasan umminya. Karena yang dia tau, tetangga nya selama ini sangat baik, dan tidak terlalu sering bergaul namun sering ke Masjid bersama ayahnya, dan Afsha juga sering bertemu dengan anak tetangga nya yang dinilainya tidak ada kecurigaan bahwa keluarga tetangga nya adalah seorang teroris
" Bagaimana bisa ummi?, Apa yang mereka pikirkan?" Mata Afsha mulai berkaca-kaca sekarang.
"Entahlah, ummi pun tidak mengerti, malah katanya aksi mereka adalah bom bunuh diri".
Ummi pun bergegas memeluk Afsha yang sudah semakin deras mengeluarkan tetesan air matanya. Dia takut,tapi juga sedih dengan peristiwa ini,dari balik gorden dilihatnya polisi dan densus 88 yang sudah siaga, dan membawa keluarga tersebut keluar dari komplek mereka.
"Sudah sayang, hapus air matanya. Ingat nak, dan dengar pesan Ummi. Wahai anak ummi yang cantik, dimana pun nanti kamu berada dan bagaimanapun sulitnya hidup. Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasulnya. Dan ingat juga Islam tidak suka kekerasan,Islam itu cinta Damai. Kamu tidak boleh sombong ke sesama manusia hanya karena berbeda kepercayaan, bertemanlah dengan semuanya, ciptakan Toleransi dengan baik. Ummi bangga sekali jika kamu bisa hidup dengan seperti itu. " Sambil memberi nasihat tersebut ummi mencium kening Afsha dan memeluknya kembali.
"Baik ummi, Afsha janji akan menuruti nasihat ummi.
"Oke kalau begitu untuk sementara jangan keluar rumah dulu ya, tunggu sampai ayah pulang dari kantor.. Dan ayo kita masak !!"
"Siap ummi ayo." Afsha langsung berlari menuju dapur. Putrinya ini sangat bersemangat jika disuruh memasak, padahal tak jarang karena kecerobohannya tangannya sering teriris pisau.
*Di dapur*
"Argh..sakitnya " lagi dan lagi tangan gadis itu teriris tajamnya pisau.
" Pelan pelan sayang, kamu ini selalu saja ceroboh " ummi nampak kesal karena kecerobohannya Afsha.
"Maaf ummi, tapi ummi boleh gak Afsha minta telpon ayah. Afsha gak tau kenapa tiba-tiba kepikiran sama ayah" tuturnya yang terlihat gusar sambil menutupi darah yang mengucur dari tangannya.
"Kamu ini kenapa?, Itu tangannya diplester dulu. Baru telpon ayah". Ummi yang masih memotong bawang sangat tak mengerti dengan pikiran putrinya sekarang.
"Baik ummi"
Tring.. tring.. tring
"Biar ummi angkat telpon dulu,kamu obati luka kamu dulu sendiri ya sayang."
" Iya ummi."
"Assalamualaikum, maaf saya berbicara dengan siapa?" Sebuah nomor tak dikenal masuk ke hp ummi
" Wa'alaikumussalam,benar ini dengan salah satu keluarga Pak Sulaiman?"
"Iya pak,benar" sahut Ummi
" Maaf sebelumnya, saya adalah anggota kepolisian,mau memberi tahu keluarga bahwasannya....
.
.
.
Next...
YOU ARE READING
Coz, we are different
Teen FictionPerbedaan bukan alasan untuk saling membenci. Justru sebaliknya. Perbedaan akan membuat segala hal menjadi lebih indah dan berwarna. Afsha Aziza,Eriko Hwan, Devi Dillon, dan Maria Simanjuntak. Kisah mereka lah yang memperkenalkan bagaimana sulitnya...
