Prolog

25 3 0
                                        

"Gue udah menikah."

Ketiga sahabat Tiara terdiam memandang satu orang sahabatnya yang baru saja mengatakan hal yang membuat mereka terdiam.

"Tiga bulan yang lalu."

"What?!"

"Apa?!"

"Kok bisa?!"

Ketiga sahabat Tiara terkejut bukan main saat Tiara bilang pernikahannya sudah menginjak bulan ke tiga.

Tiara pun mulai menceritakan bagaimana dirinya bisa menikah secepat ini, diusia 22 tahun. Sedangkan dari ke empat gadis itu hanya Tiara yang tidak pernah digosipkan dengan laki-laki manapun. Jika ditanya, gadis itu lebih suka kehidupannya yang tanpa kekasih dibanding seperti ketiga sahabatnya yang masing-masing sudah memiliki kekasih. Baginya, laki-laki itu merepotkan.

"Lo udah ada tanda-tanda belum Ra?" Tanya seorang sahabat Tiara yang tingkat ke kepoannya akut, Reni namanya.

"Tanda-tanda apa?" Tanya Tiara dengan mimik kebingungannya.

"Kalau pagi mual-mual misalnya," sambungnya lagi membuat Tiara tersedak minumannya sendiri.

"Lo sih kalau tanya aneh-aneh aja Ren," ujar Aqila yang sedang menepuk punggung Tiara.

"Kan wajar ya Ras kalau gue tanya begitu sama wanita yang sudah menikah," ujar Reni tak mau disalahkan, sedangkan Laras memilih menggedikkan bahu.

"Jadi gimana Ra?" Laras membuka suara.

"Hamil maksud kalian?"
Ketiga sahabatnya mengangguk dengan antusias, siapa tahu sahabatnya itu memang sudah mengandung, ponakan baru on the way kan.

"Gimana bisa hamil, kita tidur aja gak sekamar," ujar Tiara lirih kemudian memasukkan roti bakarnya ke mulut.

"Apa Ra?" Tanya ketiga sahabatnya serentak.

"Eh gak. Itu... masih ikhtiar kita hehehe," ujar Tiara bersyukur karena ketiga sahabatnya tidak mendengar ucapannya tadi.

"Hmmm ikhtiar ya Ra," ujar Reni dengan muka mesumnya.

"Btw waktu pertama kali anu sakit gak Ra?" Sambungnya seketika mendapat toyoran dari Laras di kepalanya.

"Auchhh! Sakit Laras bego," adunya membuat Tiara dan Aqila geleng-geleng kepala.

"Nanti kalian bakal ngerasain sendiri, dijamin nagih. Apalagi kamu Ren gak mau berhenti pasti," ujar Tiara dengan mimik absurdnya.

"Seriusan Ra? Gak sakit? Kan katanya malam pertama itu sakit banget," tanya Aqila yang sudah bergidik ngeri membayangkannya.

"Bohong itu mah, gue aja kurang kalau satu ronde," sahut Tiara, padahal dalam hati sudah merasa mual dengan ucapannya.

"Lo sama laki lo biasanya berapa ronde Ra?" Tanya Reni sahabat paling mesum pikirannya diantara mereka berempat.

"Gue?"

"Erm... pokoknya dari pagi sampai pagi lagi juga gue ayok aja," ujar Tiara dengan suara pelan.

Ketiga sahabatnya langsung bersorak riang mendengar penuturan Tiara. Terutama Rena, sudah dibilang kan kalau otaknya dia berisi 21+ makanya dia yang paling banyak kepoin Tiara.

'Gue ngomong apaan deh. Bisa-bisanya dari pagi sampai pagi. Kalau kenyataan gitu mah gue gak sanggup kayaknya,' Tiara bergidik ngeri.

Tok tok

"Saya masuk ya Mas."

Tiara berjalan masuk ke kamar Dean yang ternyata tidak terkunci, niatnya ingin mengambil pakaian kotor sang suami untuk ia cuci.

Sejak pindah ke rumah Dean mereka memang memiliki kamar masing-masing. Kecuali jika orangtua Dean atau pun orangtua Tiara menginap, mereka akan terpaksa tidur sekamar memandang mereka menikah karena 'kecelakaan'.

"Sedang apa kamu?"

Tiara terkejut dan menjatuhkan keranjang berisi pakaian kotor milik suaminya ketika mendengar suara boriton yang cukup dikenalinya terasa dekat dengan dirinya, bahkan napas laki-laki itu terasa hangat di telinga Tiara.

"I..ini sa..saya mau ini," ujar Tiara terbata-bata. Dirinya tidak sanggup melihat langsung ke arah suaminya yang masih berbalut handuk sebatas pinggang.

"Kalau ada orang ngajak ngobrol itu dipandang orangnya."

'Ya Allah ini kenapa suaranya Mas Dean sexy begini sih kalau pagi, ditambah cuma pakai handuk doang lagi. Kalau handuknya melorot... eh apaan sih' batin Tiara yang tadi sempat mencuri pandang ke arah Dean. Tiara langsung menggelengkan kepalanya saat pikirannya mulai traveling kemana-mana. Kejadian yang membuatnya harus menikah dengan Dean pun terlintas seketika dipikirannya saat ini.

"Kenapa geleng-geleng hmm?" tanya Dean yang semakin lama semakin memajukan dirinya, sedangkan Tiara menunduk sambil terus memundurkan tubuhnya berusaha membuat jarak dengan Dean.

"Anu.. eh itu Tiara kesini mau nyuci anunya Mas, eh bukan!" ujar Tiara gerogi melihat langkah Dean semakin dekat dengannya.

"Anu saya?" Tanya Dean dengan sebelah alisnya yang terangkat.

'Duh kok jadi anu sih, nih mulut emang suka error kalau dekat sama Mas Dean deh.'

Dean semakin mendekat ke arah istrinya membuat Tiara berjalan mundur hingga mentok di depan almari pakaian Dean.

Sebelah tangan Dean sudah berada disisi kanan pundak gadis yang saat ini gemetar tak karuan.

"Mau coba anu saya tidak?" Tanya Dean dengan suara sensual di dekat telinga Tiara. Sedangkan gadis itu langsung kaku mendengar ucapan Dean barusan.

"M..ma..maksudnya?" Tiara dengan perasaan takutnya bertanya kepada Dean.

"Saya kalau sudah main susah berhenti," ucapnya lagi.

"Oh iya kamu juga kuat kan kalau kita main dari pagi sampai pagi lagi?" Kali ini Dean sengaja berkata dengan menatap manik hazel milik gadis yang sedang berdiri kaku di depannya. Tak lupa seringai khas Dean ia tunjukkan untuk gadis yang tingginya hanya sebatas dada laki-laki tersebut.

'Apaan? Kayak kenal tuh dialog. Tapi dimana ya? Astaghfirullah jangan-jangan Mas Dean..' batin Tiara kemudian bibir bawahnya ia gigit.

Tiara langsung menatap manik legam laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu. Terkejut dengan ucapan Dean. Mungkinkah malam itu Dean mendengar obrolannya dengan ketiga sahabatnya. Tapi bagaimana bisa?

Untuk sesaat pasangan suami istri itu saling pandang. Tiara dengan wajahnya yang sudah merah seperti kepiting rebus dan Dean dengan senyuman mesumnya justru menatap bibir mungil merah alami itu. Tanpa sadar mulai mengikis jarak keduanya. Wajahnya sudah dekat seinci dengan gadis itu. Tiara yang sering melihat keadaan seperti yang dialaminya sekarang dari drakor yang sering ia tonton, perlahan menutup matanya, tahu apa yang akan suaminya lakukan sebentar lagi.

5 detik

10 detik

30 detik

Bukan ciuman yang Tiara rasakan, justru sebuah sentilan di dahi ia terima dari Dean.

Ctak!!

"Auch!"

"Mikir apa kamu hmm?" Tiara malu bukan main saat ini. Wajahnya lebih merah dari sebelumnya.

"Minggir saya mau ngambil baju."

'Dean sialan. Kenapa Allah menakdirkan gue menikah dengan dia!!!'

Ex CousinWhere stories live. Discover now