Sejak matahari baru setengah timbul, kamar di samping lumbung jerami sudah harus menyala. Seorang penjaga bertubuh besar datang kesana untuk mengecek, memastikan seluruh pelayan telah bangun sebelum tuan mereka turun dari kasur.
Tumit tebal si penjaga beradu dengan lantai kayu, suaru debum pelan tapi instens memenuhi lorong. Membuat remaja yang bangun paling akhir lantas menggulung kasur. Menyalakan lilin, bersiap mengantri kamar mandi.
"Cepat, Jaejoong! Jangan sampai kau dihukum!" Si penjaga berwajah lebar berteriak. Dibukanya kain yang jadi sekat antara laorong dan kamar Jaejoong.
"Baik!"
Jaejoong hanya punya sedikit waktu untuk dirinya. Selepas membersihkan diri, remaja itu sudah bergumul dengan uap dan rempah-rempah di dapur.
Meski Jaejoong bukan gadis belia yang pandai meramu masakan, ia dipercaya untuk betugas di dapur membantu pelayan wanita. Jaejoong tentu tidak pernah menolak. Bahkan ketika wajahnya memerah karena uap panas atau matanya basah saat memotong bawang, Jaejoong tidak pernah mengeluh.
Selain karena memang tugasnya, Jaejoong jadi punya banyak kesempatan untuk berjumpa dengan tuan mudanya. Anak sulung keluarga Jung.
"Makanan sudah siap. Bibi istirahat saja. Biar aku dan Junsu yang antar ke ruang makan!"
"Yasudah, lekas antarkan ya!"
"Eung!" Jaejoong mengangguk semangat, segera ia pergi menyusul yang lain. Di tangannya ada dua nampan besar penuh makanan.
"Pagi ini kita makan apa?" Junsu berbisik ketika mereka menyusuri lorong. Sayang, suarnya terlalu keras hingga pelayan lain berdeham sebagai teguran sebelum Jaejoong sempat membalas.
Jaejoong mengerling jahil, mengejek Junsu yang merengut kesal.
"Kami hendak mengantar sarapan," ucap pelayan senior pada pengawal yang berdiri di sisi kanan dan kiri pintu. Jaejoong dan yang lain mengamati dari baris belakang. Semuanya menunduk.
Setelah kedua pengawal tersebut menyingkirkan pedang mereka dan membuka pintu, mereka mulai masuk. Tentu saja tuan rumah telah menunggu di ruang makan. Ada empat kursi dan semuanya penuh. Jaejoong sudah tahu Yunho yang mana hanya dengan melihat kaki kursi.
Satu per satu makanan dipindah ke meja. Sambal meletakkan nampan, Jaejoong melirik sebentar sekali. Berusaha melihat wajah Yunho yang balas meliriknya.
Ah, setidaknya Jaejoong sudah melihatnya hari ini.
"Bawa lagi dua nampan ini untuk kalian makan. Berbagi dan nikmatilah," ujar Sang Imam. Dengan santun, mempersilahkan pelayannya membawa kembali makanan ke dapur.
Rasa takzim memang tak pernah luput dari hati siapapun kala mendapati sikap sang Imam. Dia adalah cahaya. Dan Jung Yunho serta Jung Jaehyun, adalah pendar yang siap bersinar. Yang lahir dari manusia paling suci.
Tentu para pelayan itu senang. Berkali-kali mengucapkan terimakasih, lalu kembali ke dapur dengan kabar baik. Bahwa pagi ini mereka punya daging sapi untuk disantap.
.
.
.
.
.
Kebenaran tak mesti diungkap lewat terang. Matahari tak mesti mampu membuat segalanya terlihat. Itulah mengapa dalamnya hati manusia, tak ada yang tahu. Karena siang pun tak mampu menjangkau dan mengungkap apa yang ada disana.
Siapa yang sangka jika budak belian dapat bercumbu dengan anak imam kalau tidak jadi tanda petaka. Disaksikan bulan lewat petak jendela, Jaejoong keluar dari kamarnya. Mengendap, berjingkat menuju ruang doa.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE HOLY MAN'S DILEMMA [YUNJAE]
Fiksi PenggemarSiapa yang sangka jika budak belian dapat bercumbu dengan anak imam kalau tidak jadi tanda petaka. Disaksikan bulan lewat petak jendela, Jaejoong keluar dari kamarnya. Mengendap, berjingkat menuju ruang doa.
![THE HOLY MAN'S DILEMMA [YUNJAE]](https://img.wattpad.com/cover/249770042-64-k799816.jpg)