Api-api abadi dari ratusan tahun lamanya
Membakar jiwa dan menghangatkan hati yang beku
Para arwah duduk menyesap teh bersama para manusianya
Dan leluhur melihat mereka dengan mata berkerling bagai bintang kejora
Permen dan gula-gula yang terbuat dari rumput manis
Anak-anak berlarian dan berhati-hati agar tak terjerembab benang merah
Di Agni, ada api abadi yang membakar jiwa ratusan tahun lamanya
*
Ibu tua itu mengambil sekeranjang air dengan tergesa-gesa kemudian berlutut disamping sang pendeta perempuan. Ditangan pendeta berambut hitam legam itu, dahi anaknya yang berpeluh diusap dengan lembutnya. Bibir merahnya merapal doa, kelopak matanya yang merona terpejam khidmat. Sang Ibu hanya terus menerus memeras sapu tangan tanpa guna sambil berharap-harap cemas. Seorang laki-laki tua menggenggam tangan istrinya yang juga keriput itu dan membelainya lembut.
"B-Bagaimana Nona Pendeta, apakah ini benar-benar kutukan dari leluhur?" suaranya yang serak dan berat bergetar dihadapan sang pendeta.
Mata pendeta perempuan itu masih memejam,
"Leluhur tak akan membuat kerusakan dan penderitaan, paman.
Tapi benar adanya bahwa apa yang menimpa anak kalian bukanlah penyakit biasa."
"Apa yang harus kami lakukan? Kami akan memberikan segalanya untuk anak kami. Mohon selamatkan dia, Nona Pendeta!" sang Ibu sudah menangis dan terisak.
Tubuh kecil itu masih menggigil dan bibir bocah laki-laki itu terus mengatup seolah-olah menahan suaranya sendiri. Keringat dingin terus mengucur dari tubuh mungilnya yang terbakar demam tinggi hingga jubah tipisnya basah kuyup.
Nona Pendeta memandang itu semua tanpa simpati. Kedua matanya yang kosong dan kelam masih menyisir redup anak laki-laki yang terbaring di depannya.
'Kalau saja kalian tak bermain-main dengan arwah..'
*
Sunyi.
Hanya ada suara embun salju yang jatuh di tanah berakar. Semuanya beku meski daun-daun momiji berkilauan diantara semerbak salju.
Pintu kayu itu bergeser dengan persisten yang telah terlatih.
Gadis berambut cerah bagaikan matahari benderang di dalam kamar terperangah pun tidak. Tubuhnya yang gemulai tak bergeser sedikitpun dari teras, menghadap kearah kolam ikan yang telah mengeras menjadi es.
Seorang pelayan wanita membungkuk saat pintu kayu itu terbuka. Kepalanya tertunduk dan terus merendah dalam.
Tak ada yang boleh mengangkat wajahnya dihadapan putri mahkota tanpa disebut namanya.
"Tuan putri, air hangat untuk untuk anda telah siap. Ijinkan saya menanggalkan baju tidur anda."
Tapi pelayan itu tetap tak bergeming.
Tak ada yang berhak bergerak sebelum Aelin mengisyaratkan.
Sebuah hembusan napas panjang dan ringan. Wajah cantik dan tajam itu masih terpatri pada hamparan halaman luar yang putih.
"Tidakkah sayang, menurutmu?"
Suara lembutnya yang menyihir akhirnya terdengar.
"Kemana perginya ikan-ikan koi indah kita, Muara?"
Muara, sang pelayan perempuan tetap menunduk khusyu. Hanya mendengar celotehan indah Aelin di pagi hari, dirinya merasa telah terberkati hingga sore menjelang.
"Kau telah melayaniku selama 20 tahun, Muara. Angkat kepalamu."
Muara mengangkat kepalanya dan tersenyum simpul.
"Hati anda terlalu suci dan lembut, Tuan Putri. Adalah sebuah kehormatan bisa melayani anda sedari saya kecil."
YOU ARE READING
The Tales of Agni
FantasyMenjadi manusia memang selalu terpusat pada diri sendiri. Padahal jika benar-benar dilihat sekeliling, yang meliputi lapisan bumi jengkal demi jengkal bukan hanya makhluk ini. Maka dari itu adalah salah jika manusia berpikir bahwa mereka hanya tingg...
