"INSECURE”
Karya: Nayla Silvia Maharani
“Hoam.” Acha bangun dari tidurnya. Ia merenggangkan otot-otot tubuhnya. Berharap saat ia menarik otot tubuhnya, tubuhnya akan sedikit memanjang.
Ia berjalan menuju cermin. Menatap poster-poster yang tertempel rapi di dinding kamarnya. Mulai dari Natasha Willona, Kylie Jenner, Taylor Swift, hingga Lisa Blackpink yang terjajar rapi di dinding kamarnya. Ia menatapnya sambal berdecak kagum.
“Kapan aku bisa tinggi seperti mereka?” ia bertanya pada diri sendiri di cermin. Menatap tubuh mungilnya. Acha adalah gadis yang pendek, tinggi tubuhnya hanya mencapai 148 cm.
“Astaga, memikirkan hal ini membuat kepalaku pusing.” Acha lebih memilih mengambil handuk lalu berjalan menuju kamar mandi.
Selesai mandi, ia duduk di meja makan. Menyantap menu sarapan andalannya yaitu Instant Oatmeal Quacker.
Ting Tong!
Bel rumah berbunyi, tanda ada seseorang yang berkunjung. Ia segera berjalan keluar untuk membukakan pintu.
Seorang pria berdiri di depan pintu, membawa sebuket bunga mawar putih, dengan senyum indah yang selalu menghiasi wajahnya.
“Dito!” teriak Acha senang. Ia segere berhambur memeluk pria itu.
“Kangen,” ucap Acha bergelayut manja dalam pelukannya. Bahkan kepala Acha hanya sampai di perutnya.
Dito adalah kekasih Acha, seorang pria berwajah tampan dengan tubuh yang tinggi. Tinggi badannya mencapai 175 cm. Dan ia berprofesi sebagai fotografer.
Dito tersenyum tipis lalu mengacak puncak kepala Acha gemas. “Aku juga,” balasnya.
“Ini buat kamu,” ucap Dito sambal menyerahkan bunga itu kepada Acha. Acha menerimanya dengan senang hati. “ Makasih sayang!” ucap Acha sambal tersenyum riang.
“Ayo masuk,” ajak Acha.
Kini mereka sudah duduk di meja makan. “Dito udah makan?” Tanya Acha. Dito menggeleng pelan.
“Mau Acha masakin?” tawar Acha. Dito terkekeh pelan. “Emang kamu bisa masak?” tanya Dito ragu. Karena sejauh yang ia tau, Acha tidak bisa memasak.
Acha menyengir kuda, “Hehe, enggak,” jawabnya tak berdosa.
“Acha Cuma bisa masak mie instant,” ucap Acha lesu. Ia merasa bersalah karena tidak bisa membuatkan sesuatu untuk kekasihnya itu.
“Eh? Kenapa jadi sedih gitu? Apapun yang kamu masak, pasti aku makan,” tanya sekaligus jawab Dito.
Acha tersenyum senang. “Oke, Dito tunggu sebentar ya, Acha bikinin dulu,” ucapnya sambal berlalu menuju dapur.
Tak lama kemudian, Acha kembali ke meja makan dengan semangkuk mie di tangannya. Ia meletakkannya di meja makan. “Kenapa Cuma satu? Kamu nggak makan?” tanya Dito.
“Nggak. Nanti Acha jadi gendut,” jawab Acha.
“Ya sudah, aku makan dulu ya,” ucap Dito.
Baru beberapa suap saat makan, Dito melihat Acha memperhatikannya makan, sambal beberapa kali menelan ludahnya.
“Kamu beneran nggak mau makan?” tanya Dito ragu.
“Eh, enggak kok. Udah Dito makan aja,” jawab Acha.
Dito menghela nafas pelan. “Makan aja Cha, nggak bakalan gendut kok,” ujar Dito.
Mata Acha berbinar senang. “Beneran?” tanya Acha. “Iya,” jawab Dito.
Acha mengambil alih mangkok mie tersebut lalu memakannya dengan lahap. Dito hanya bisa geleng-geleng kepala sambal menahan senyumnya. “Acha-Acha,” ujarnya pelan. Acha memang seorang gadis polos dan kekanakan. Ia selalu mengatakan bahwa dirinya ingin diet, tapi melihat sedikit saja makanan yang enak, imannya langsung goyah.
