Pendidikan Akhir Zaman

82 9 0
                                        

Pada malam yang gelap itu ramai hujan menembus kesendirian dalam telinga. Dari balik jendela rumah, aku diam dan memandang langit yang kini diselimuti kubah tembus pandang. Menghabiskan waktu hanya dengan melihat hujan buatan dan menghirup udara segar yang telah dicampur vaksin yang aman dikonsumsi tubuh. Ngomong-ngomong tentang kubah yang menjulang seantero negeri, itu merupakan kubah besar yang diproyeksikan pemerintah untuk melindungi masyarakat dari serangan virus dan menghindari meledaknya pandemi yang terjadi 30 tahun lalu.

Karena tepat 30 tahun yang lalu, tercipta sebuah virus yang berasal dari limbah manusia yang telah melampaui daya tampung bumi. Semakin hari ekosistem bumi terpangkas peradaban dan keserakahan manusia yang membuat habitat hewan maupun tumbuhan tercemar. Ekosistem darat, laut, dan udara menunjukkan ketidakseimbangan. Hingga pada puncaknya, pencemaran itu berbalik pada manusia melalui hewan-hewan yang mereka makan.

Perlahan tapi pasti, virus itu menyebar dan meracuni manusia. Dalam diam merusak organ-organ vital dan membunuh tiap orang yang tidak menjaga dirinya dengan baik. Satu demi satu virus tersebut menyerang tanpa memilih, membawa pesan dari bumi bahwa ini hasil dari keegoisan makhluk permukaan. Menegur jutaan penduduknya bahwa peradaban sudah berada diujung tanduk dan mengajak lebih dari sepuluh juta jiwa tak bersalah bertemu liang lahat tiap harinya. Tiga tahun menjadi waktu yang cukup untuk menghilangkan rasa kemanusiaan dalam hati manusia dan memperlakukan manusia lain layaknya limbah. Mereka menyebut virus ini dengan nama chuldy (child downfall quality) virus.

Berbagai macam cara telah dilakukan. Mulai dari yang paling bijak hingga yang paling hina, dari belajar mengikhlaskan hingga menculik rakyat jelata sebagai bahan percobaan. Berbagai isu konspirasi pemerintah dan ilmuwan menjadi konsumsi publik sehari-hari. Pemberontakan bukanlah hal aneh lagi. Namun ujung dari pemberontakan tidak jauh beda, pada akhirnya mereka lebih memedulikan perut sendiri dibanding perut orang lain. Gerakan perubahan dan persatuan untuk mengembalikan rasa kemanusiaan tidak lagi dipercaya masyarakat. Kini tiap wajah manusia memiliki dua sisi, dan tampaknya pelajaran untuk dapat menjilat dengan baik dan benar harus diajarkan sejak dini untuk menyelamatkan masa depan anak cucuk manusia yang diharapkan dapat menjadi agen perubahan dan melanjutkan estafet pendahulu mereka.

Terlebih lagi dana pemerintah yang berasal dari pajak masyarakat makin lama makin tidak transparan, seolah-olah ingin menyelimuti kercitan tikus mereka dalam lubang-lubang janji yang keluar ditiap sanubari pidato publik. Padahal ekonomi rakyat sedang berada dititik terendah, apalagi setahun lebih tak berpenghasilan, untuk pergi dan bekerja sebagai tenaga asing tidak akan menjadi solusi, bahkan banyak berita yang bilang itu sama saja bunuh diri, karena pasti tak akan kembali. Mati kelaparan adalah teman main manusia masa itu. Bahkan untuk bisa mendapatkan sepiring makanan saja, cara apapun akan dilakukan walau harus menjual diri. Membuat yang miskin semakin miskin, dan akal sehat menjadi kebutuhan yang dicoret dari kamus peradaban.

Sinar mentari datang silih berganti dengan dinginnya rembulan, menunggu sesuatu yang tak pasti, hingga akhirnya secercah harapan pun muncul kembali, sebuah vaksin hasil penelitian selama bertahun-tahun oleh para peneliti terkemuka dunia berhasil tercipta dan siap disebarluaskan. Meskipun awalnya banyak yang meragukan kebenaran tersebut, karena salah satu cara bertahan hidup dimasa itu adalah menipu atau ditipu, tapi kekuatan vaksin yang membutuhkan persiapan waktu, percobaan, dan tingkat ketelitian yang dahsyat, terlebih karena virus chuldy yang dapat berevolusi tiap harinya, membuat penyempurnaan vaksin itu butuh waktu yang lama.

Harapan untuk merajut kembali kemanusiaan mulai tumbuh. Vaksin yang dapat meringkus virus ini menjadi penopang hidup manusia dan menjadi anugrah yang membanjiri kekeringan jiwa. Meski secara alami manusia yang berhasil bertahan dalam 3 tahun pandemi ini berarti manusia pilihan yang memiliki antibody yang lebih kuat dan menjadikan mereka manusia-manusia yang berhasil melewati seleksi alam. Tapi vaksin ini dapat mengetahui kekurangan yang dibutuhkan tubuh manusia dan dapat melipat gandakan nutrisi tersebut hingga terpenuhi. Kasarnya, manusia seperti memiliki dua mesin ganda dalam satu tubuh dan membuat fisik mereka tahan dalam berbagai situasi lebih baik dari sebelumnya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 25, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

THE NONEStories to obsess over. Discover now