Suara petikan gitar memenuhi seisi kafe, muda-mudi yang sedang menikmati malam minggu nampak terbuai dengan suara merdu sang penyanyi. Beberapa dari mereka nampak antusias saat sang penyanyi hendak menyanyikan lagu Chrisye berjudul Pergilah Kasih.
"Kenapa harus lagu ini sih." Rengek Nadya. Seketika Merry dan Giana tertawa melihat sahabatnya itu misuh-misuh saat intro dari lagu pergilah kasih mulai mengalun.
Tak pernah 'ku sangka ini terjadi
Kisah cinta yang suci ini
Kau tinggalkan begitu saja
Sekian lamanya kita berdua
Nadya menutup kedua telinganya, bibirnya gatal ingin memaki penyanyi itu.
"Move on dong Jon, udah dua tahun loh." Giana yang duduk di depan Nadya menatap iba pada gadis cantik yang kini mulai meneteskan air matanya.
"Gimana mau move on, orang tiap weekend kita ketemu." Gerutu Nadya disela tangisnya.
Merry mengambil tisu dari sling bagnya, "Bangsat banget emang si Abi itu. Pacaran hampir tiga tahun sama elo eh nikahnya sama Mbak Dinda."
Giana mengangguk setuju dengan ucapan Merry. Mereka berdua menjadi saksi hancurnya seorang Nadya Andara Maheswari saat mendengar kabar bahwa Abi melamar Dinda yang notabennya adalah kakak tiri Nadya dari pernikahan Ayahnya. Merry dan Giana sempat melabrak Abi dan memaki laki-laki itu. Mereka berharap ada penyesalan yang laki-laki itu rasakan, namun nihil. Abi malah tertawa seraya memberikan undangan pernikahannya dengan Dinda.
Dinda? Kakak tiri Nadya itu bahkan tidak tahu jika laki-laki yang menikahinya adalah pacar sang adik. Walaupun Abi sering datang ke rumah untuk bertemu Nadya, Abi hanya mengatakan bahwa ia teman kerja Nadya. Diam-diam dibelakang Nadya, Abi mendekati Dinda.
"Salah lo juga sih Jon, coba waktu itu pas Abi main ke rumah lo kenalin dia sebagai pacar lo." Giana memelotoi Merry. Namun gadis cantik yang memakai dress putih gading itu hanya mengedikan bahu sebagai isyarat bahwa ia tidak peduli dengan ucapannya yang terkesan menyindir Nadya.
"Lo tau sendiri Ayah gue pasti langsung nanya 'kamu serius gak sama putri saya' waktu itu gue belum siap nikah. Arghhss, emang dasar si Abinya aja yang kegatelan." Gerutu Nadya sambil mengusap air matanya.
Pergilah, kasih, kejarlah keinginanmu
Selagi masih ada waktu
Jangan hiraukan diriku
Aku rela berpisah demi untuk dirimu
Semoga tercapai segala keinginanmu
Nadya melempar tisu bekas ingusnya dan mengenai wajah Merry. Ia tertawa melihat wajah kesal Merry, begitupun Giana.
Merry hendak memukul Nadya namun urung saat dua orang pemuda menghampiri meja mereka. Salah satu pemuda yang memakan kaos berwarna navy mencium puncak kepala Merry.
"Bang Adam sama Bang Egi ngapain ke sini sih." Gerutu Nadya.
"Kenapa sih Nad?" Tanya Adam. Pemuda itu duduk di samping Giana.
"Lagi sentimen Bang gara-gara lagu yang dinyanyiin dia." Giana menunjuk penyanyi yang kini tengah memetik gitarnya.
"Jangan bilang kepikiran mantan lagi?" Tebak Egi.
"So tau kau." Sanggah Nadya dengan logat kampung halaman Egi, Medan.
Tak kusangka cepat berlalu
Tuk mencari kesombongan diri
Lupa segala yang pernah kau ucapkan
Kau tinggalkan daku
Nadya bangkit dari duduknya seraya memasukan ponselnya ke dalam sling bag mini berwarna peach miliknya.
"Loh Nad, mau kemana?" Tanya Giana.
"Mau ngadem. Disini udaranya udah gak baik buat kesehatan hati gue."
Nadya berjalan menuju parkiran, beberapa pasang mata memerhatikan Nadya. Namun gadis cantik itu sama sekali tidak mempedulikan sekitar. Nadya menekan tombol smart key, mobil Porche ceyyene berwarna merah itu memberi respon. Saat hendak membuka pintu mobil ia tak sengaja menginjak sesuatu.
'Dompet'
Nadya mengambil dompet itu dan melihat sekitar, barangkali ada orang yang mencari dompetnya. Namun di parkiran itu hanya ada Nadya dan tukang parkir.
Nadya ingin bertanya pada tukang parkir itu. Tapi ia ragu, bagaimana jika tukang parkir itu mengaku-ngaku kenal dengan pemilik dompet dan tidak mengembalikan dompetnya pada sang pemilik. Nadya akhirnya memutuskan untuk masuk ke mobilnya dan menunggu pemilik dompet di sana.
Untuk membunuh jenuh, Nadya memutar lagu Love milik Nat King Cole. Mata Nadya terpaku saat seorang pria tampan berambut cepak berjalan ke arah mobilnya. Fokus Nadya terarah ke otot kekar yang tercetak indah dibaju polo t-shirt pas badan berwarna hitam yang dikenakan pria itu. Kini jaraknya kurang lebih satu meter, Nadya bisa melihat dengan jelas wajah tampan itu yang ternyata lebih indah jika dilihat dari dekat. Alisnya yang tebal menaungi mata sipit pria itu. Perfect!
"Oh my god." Lirih Nadya.
Pria itu berdiri di samping mobil Nadya seperti mencari sesuatu. Nadya menekan tombol power window, semilir angin menerpa wajah cantiknya saat kaca itu terbuka.
"Mmm sorry, Mas nya nyari ini?" Nadya mengacungkan dompet pada pria itu.
"Iya itu dompet saya. Terima kasih Mbak." Pria itu mengambil dompetnya.
Nadya menganggukan kepalanya seraya tersenyum.
"Sama-sama Mas."
Jantung Nadya berdebar kencang saat melihat senyum pria itu. Debar yang pernah Nadya rasakan saat Mas Abi menyatakan cinta padanya. Dan kini ia merasakan debar itu lagi.
Love is all that I can give to you
Love is more than just a game for two
Two in love can make it
Take my heart and please don't break it
Love was made for me and you
***
Tepat pukul sebelas malam Nadya sampai di rumah. Saat melewati ruang keluarga Nadya melihat Papanya sedang menonton televisi.
"Papa belum tidur?" Tanya Nadya.
Irwan tersenyum hangat pada sang putri. "Belum."
Hati Nadya menghangat, Nadya tau Irwan sering tidur larut saat Nadya pulang malam entah main atau urusan kerja. Pria paruh baya itu selalu menunggu Nadya dan memastikan putrinya sampai tanpa luka sedikit pun.
Bahkan dulu ketika Nadya pertama kali lembur, Irwan menunggunya di lobi kantor dan masih mengenakan seragam tentaranya. Irwan beralasan sehabis piket malam, namun mama nya bilang piket malam Irwan setiap malam minggu.
Nadya duduk di samping Irwan, tangannya terulur memeluk bahu lebar sang papa.
"Papa kenapa belum tidur?"
"Belum ngantuk. Kamu tidur gih, udah malam." Nadya mengangguk seraya melepaskan pelukannya.
Cup!
Nadya mengecup pipi Irwan. "Good Night Pa."
***
Minggu pagi di kawasan stadion Gelora Bung Karno dipadati orang-orang yang berolahraga. Beberapa prajurit Tni nampak berlalu lalang, entah ada acara apa Nadya tidak peduli. Yang ia pedulikan sekarang adalah rasa kantuknya yang kian menjadi. Untung saja ia memakai kacamata hitam, orang-orang tidak akan tahu dibalik kacamatanya ia berusaha menahan kantuk. Jika bukan karena Papanya yang memaksa Nadya untuk ikut, Nadya saat ini mungkin sedang berkelana dialam mimpi.
Nadya memutuskan mencari tempat sepi untuk meredakan kantuknya. Kaki Nadya sampai di stadion akuatik yang hanya ada beberapa pengunjung di sana.
Karena rasa kantuk yang sudah tidak bisa ditahan, Nadya merebahkan tubuh langsingnya dikursi tribun paling atas dengan beralaskan tas.
Tas?
Nadya mengedikan bahunya acuh sembari membenarkan letak kacamata hitamnya, matanya mulai terpejam tak lama kemudian Nadya sudah berkelana ke alam mimpi.
***
YOU ARE READING
Swimlove
General FictionNamanya Nadya, sering dijuluki JONI, Jomblo ditinggal Nikah oleh kedua sahabatnya. Ia ditinggal nikah oleh Abi, pacar pertamanya. Suatu hari Nadya bertemu dengan Galang, atlet renang yang membuat Nadya jatuh cinta pada pandangan pertama dan membua...
