Happy Reading
--
"Kenapa Pak?."
"Ah, mobilnya mogok Neng, sepertinya akan lama," timpal seorang pria paruh baya di hadapannya.
Mulan mengatupkan bibirnya, jari jemarinya tidak berhenti digerakkan. Perasaannya sudah berkecamuk sekarang. Sudah sangat larut, ia belum tiba di tempat yang dituju, ditambah mobil taksi yang ditumpangi mogok sekarang.
"Neng mau ke Komplek Indira kan?" tanya sopir itu dengan setengah kepala yang masuk ke dalam mobil melalui jendela.
"I..iya Pak," jawab Mulan gugup. Ah, gadis ini benar-benar ketakutan, tangannya tidak berhenti mengusap layar ponselnya, menghubungi seseorang yang ia butuhkan sekarang. Namun panggilan yang ia tuju tidak menjawabnya sama sekali.
"Neng tinggal jalan lurus, ikutin jalan besar, setelah lewat gerbang berwarna biru Neng tinggal cari nomor rumahnya." Bapak sopir itu menjelaskan.
Mulan mengangguk paham, kemudian membuka pintu mobil dan mengambil koper yang barusan sopir keluarkan dari bagasi.
"Apa perlu saya temani?" ujar bapak itu menawarkan.
"Ah, tidak perlu pak," balas Mulan sedikit canggung. Bagaimana bisa Mulan menerima tawaran bapak sopir ini, sepanjang perjalanan di mobil tadi saja, ia sudah melontarkan doa berulang kali, supaya tidak ada sesuatu yang buruk terjadi kepadanya.
Ini tempat yang belum pernah Mulan kunjungi sebelumnya, gadis itu terus waspada dengan suasana sekitarnya.
Angin malam terus membelai tubuhnya perlahan. Mulan hanya mengenakan dress pendek selutut. Angin itu berhasil membuatnya sedikit kedinginan.
Mulan melangkahkan kakinya, mencoba mengikuti saran yang di berikan sopir tadi. Tangan kanannya menarik koper berwarna silver supaya terus mengikutinya di belakang, sedangkan tangan kirinya sibuk menghubungi orang yang sedari tadi tidak kunjung menjawab dan membalas panggilannya.
Manik matanya memeriksa satu persatu papan nomor yang menempel di setiap rumah, membandingkan dengan papan nomor alamat yang ia tuju.
Sampai akhirnya langkah kakinya terhenti di depan rumah dengan cat berwarna putih. Mulan menghembuskan napasnya perlahan, sederet senyuman tipis terukir di wajahnya.
Sepi. Rumah ini terlihat tidak berpenghuni, tapi memang betul ini rumahnya. Gadis ini sangat yakin, tidak mungkin ibunya memberi alamat yang tidak sesuai.
Membuka kunci pagar dengan perlahan, beruntung pagar ini tidak di kunci. Tangannya sibuk berganti, menarik koper, meletakkan ponselnya di saku, dan kembali menutup pagar, setelah dirinya sudah berada di pekarangan rumah itu.
Mulan sudah berada didepan pintu besar rumah ini. Tangannya mengepal, kemudian mengetuk dinding pintu.
Tidak ada balasan sedikitpun, sepertinya benar dugaannya, rumah ini sedang tidak ada penghuninya. Matanya kini tertuju ke arah sofa berwarna abu-abu tua.
Duduk menunggu disana, sampai sang empunya rumah tiba, tidak masalahkan?.
--
Seru ngga?
kalau kalian merasa udah pernah baca cerita ini di lain author, yap betul sekali. Cerita ini pindah. Aku pengen banding gitu lho, tanpa promosi di instagram story cerita ini banyak yang baca atau ngga.
Terima Kasih
KAMU SEDANG MEMBACA
Fortunate
Teen FictionSuatu keadaan buruk menimpanya. Membuat Mulan yang tinggal di pedesaan kini memutuskan untuk menumpang tinggal bersama seorang wanita yang merupakan teman ibunya saat sekolah dulu. Siapa yang menyangka, ternyata wanita itu mempunyai seorang anak lak...
