1. Malam Panjang

23 3 3
                                        

Ketika langit telah nampak gelap gulita tanpa secercah cahaya jatuh dari sang rembulan, pohon-pohon tinggi menjulang memenuhi tiap meter perjalanan. Kakiku terus berlari meski setiap langkah terasa sangat menyakitkan. Sakit, salah satunya telah patah, tersayat sebuah benda tajam serupa panah yang terus dilontarkan oleh sesosok di belakangku dengan ribuan benda hijau berpendar. Aku tidak memiliki waktu untuk menoleh ke arahnya, yang jelas dia menyerangku dengan tanpa alasan. Merasakan kakiku yang sudah diambang batas, tubuhku terperosok dan dengan cekatan aku berguling dan bersenbunyi dibalik pohon besar. Aku terduduk menahan suara nafasku yang tersengal-sengal. Keringat dingin membanjiri pelipisku, mengrenyit menahan rasa sakit pada kakiku yang patah, heran karena itu tak segera pulih seperti biasanya. Aku mencoba memfokuskan pada proses pemulihan. Jantungku berdegup kencang ketika cahaya hijau itu sudah mulai mendekat, berjalan kesana-kemari untuk mencariku. Kuharap dia tak segera menemukanku. Seketika, darah yang mengucur dari kakiku menguap dan kulitku yang robek mulai menutup. Kenapa baru sekarang??

Suara lesatan anak panah mendadak terdengar di belakangku. "Krakk!!" aku terdiam ketika anak panah dengan cahaya hijau yang berpendar itu berhasil menembus lenganku. Dia menemukanku! Kehadirannya sama sekali tidak bisa kurasakan. Sosok itu datang dan berjalan kearahku, melihatku meringkuk menahan rasa sakit di daerah lengan kiriku. Perlahan dia mengangkat tubuhku dengan tangan tak kasat mata. Tubuhku melayang diudara dan mendekat kearahnya, kini aku melihatnya dengan jelas meski terbalut kegelapan, sesosok pria dengan mata berpola unik yang salah satunya tertutup oleh surai hitamnya yang menggantung ke depan. Pria tinggi berjubah hitam dengan ribuan anak panah melayang di belakangnya. Matanya berbinar melihatku terpesona. "Makhluk apa, kau?" Ucapnya dengan suara berat khas laki-laki dewasa, menyentuh telinga berbuluku. Ia mulai menyeringai, rambutnya melambai-lambai seiring banyaknya gerakan darinya, tampak  telinga runcing menyembul dibalik rambut hitam itu. Matanya bercahaya dan dia mulai berteriak gila "SUDAH LAMA KITA TIDAK BERTEMU". Merasa dalam bahaya, aku mengayunkan cakarku ke dadanya dengan cepat. Dia langsung melemparkanku hingga membentur pohon. Sialnya seranganku hanya mampu merobek jubahnya. Dirinya terdiam, menatapku dalam-dalam dengan tatapan membunuh "AKU PENASARAN KENAPA MANUSIA MAMPU MEMBUAT MAKHLUK SEPERTI INI" . Aku tersentak, insting melarikan diriku menyambar cepat merasakan aura tak menyenangkan darinya. Kakiku yang setengah pulih bergeser mengambil langkah seribu, kali ini kupacu langkahku dengan lebih cepat. Pria itu kembali mengejarku. Aku tak akan berhenti, aku tak akan berhenti! Pria itu ingin membunuhku, kami tidak pernah bertemu tapi mengapa dia menginginkanku? Baru kali ini aku merasakan takut yang luar biasa dari seseorang yang baru kujumpai. Seiring berjalannya waktu aku berlari, hawa keberadaanya segera hilang bersama pendaran cahaya hijau yang kian memudar.

Kakiku terus melaju menyusur malam, dan tak terasa mulai melambat. Pandanganku membaur, tubuhku mulai mati rasa. Perlahan fisikku lunglai dengan cakar dan telinga yang semakin mengecil, aku jatuh terlentang diatas rerumputan dingin. Pria itu sudah tidak mengikutiku. Nafasku tersengal-sengal, menatap kilauan bintang di cakrawala. Pria itu dan pertanyaanya sama persis dengan pertanyaanku. Pertanyaan yang selalu menghantuiku selama ini. Ya. Aku ini apa? Malam itu, semua ingatanku kembali hilang dan hal terakhir yang kuingat adalah cahaya rembulan di atas langit cerah.

Você leu todos os capítulos publicados.

⏰ Última atualização: Jun 09, 2022 ⏰

Adicione esta história à sua Biblioteca e seja notificado quando novos capítulos chegarem!

Purple LightHistórias para pegar e não largar. Descubra agora