Jarum jam berdentang dua belas kali menandakan tepat tengah malam. Di atas tempat tidur ukuran king size sepasang mata masih terjaga. Meski pemiliknya berusaha keras masuk ke alam mimpi tetap saja ia gagal.
Tubuh kurusnya bolak-balik sambil mendekap guling warna abu-abu kesukaannya. Padahal suhu AC sudah rendah, tetapi peluh mengalir di pelipisnya. Ia beringsut meraih selimut di ujung kaki dengan tangan sedikit gemetar. Setelah memegang ujung selimut cepat-cepat ia menariknya hingga menutupi dada.
Seperempat jam berlalu, rasa kantuk tidak kunjung datang. Ia menyerah. Membawa tubuhnya duduk menyender di kepala ranjang. Merasa tenggorokannya kering tangannya berusaha menjangkau gelas di atas nakas.
Praaang...!
Belum sampai dia meminum isinya, gelas tergelincir dari pegangan tangannya menghantam lantai. Tak urung gelas itu pecah berkeping-keping. Serpihannya berserakan di lantai.
Melihat itu, ia menutup mata dan telinga dengan bahu bergetar.
Tidak perlu menunggu lama terdengar suara langkah buru-buru menuju kamarnya. Kamarnya sengaja tidak dikunci agar memudahkan anggota keluarganya masuk.
"Abang!" Suara lembut bercampur cemas memasuki indra pendengarannya.
"Iy-iya, Ibu," jawabnya sambil memasang kacamata tebal yang berhasil bertengger di hidung mancungnya.
"Ya Allah! Abang demam," ujar wanita cantik itu menampilkan raut wajah cemas.
"Tidak ...tidak Ibu, aku hanya emm, tidak bisa tidur," ujarnya menundukkan kepala.
"Sayang, kau tidak bisa tidur karena demam, badanmu panas." Wanita itu mengambil punggung tangan remaja laki-laki itu menempelkan ke dahinya sendiri. Remaja itu langsung mengernyit. Wajah polosnya terlihat lucu.
"Pa-panas Ibu!"serunya sambil meraba kembali dahinya.
"Tunggu Ibu ambilkan obat. Tapi jangan turun dari tempat tidur, pecahan gelas ini bisa melukai kakimu. Nanti Ibu bersihkan."
Setelah mengatakanya dengan pelan, wanita itu bergegas ke dapur.
Lima menit kemudian wanita itu kembali membawa segelas air putih dan obat di tangannya.
"Abang, minum obat, ya, ayo buka mulutnya!"
Anak itu menggeleng keras. Ia menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala.
Alih-alih marah wanita itu justru tertawa melihat tingkah sulungnya yang tidak berubah dari kecil. Susah kalau diminta minum obat. Ada saja alasannya menghindari hal satu itu. Ia ingat dulu, suatu hari si sulung bersembunyi di bawah tempat tidur ketika diminta minum obat. Semua orang panik mencari dan meneriakan namanya. Jika bukan karena bola si bungsu menggelinding ke bawah sana, mungkin orang tuanya akan ke kantor polisi.
"Abang, ayo, minum obat! Kalau tidak nanti demamnya buat Abang susah tidur, loh," bujuknya sambil menarik pelan selimut di atas kepala anak lelakinya tersebut.
"Ibu, aku mau berdoa saja agar Allah sembuhkan. Biar tidak demam lagi, aku ... aku tidak suka, obat itu pahit," ujarnya dari balik selimut.
"Berdoa juga, Sayang. Minum obat bagian dari ikhtiar, Bang. Obat memang pahit, tapi insyaallah mampu menyembuhkan."
Berhasil. Setelah selesai mengatakan itu sesosok wajah tampan campuran Sunda-Manado tersembul dari balik selimut dengan wajah innocentnya.
"Baik Ibu. Bismillah." Akhirnya drama minum obat berakhir juga.
Wanita itu beranjak mengambil sapu dan tempat sampah ia mulai membersihkan pecahan gelas di lantai. Setelah selesai, ia kembali melihat ke atas tempat tidur. Memastikan putranya baik-baik saja. Ia tersenyum, terdengar dengkuran halus, sudah tidur batinnya.
Selesai solat subuh, Miranda, wanita yang tak lain ibu dari remaja lelaki itu bergegas ke dapur membuat sarapan untuk keluarga kecilnya. Sejak menikah empat belas tahun lalu Miranda perempuan kelahiran Manado itu memilih tinggal bersama suaminya, Dede di Bandung, meninggalkan kota asalnya. Mereka telah dikarunia dua orang putra, sulung diberi nama Ammar Fathee karim dan bungsu Faris Miqdad Nazeeh
YOU ARE READING
Sebening Cinta
SpiritualAmmar sering dibilang idiot oleh teman-temannya dan dipandang sebelah mata kebanyakan orang. tapi Ammar dengan segenap hati menerima kekurangannya Dia paham bahwa itu qadha dari Allah. Ia beryukur memiliki keluarga yang begitu menyayanginya. Hingga...
