Aku mengerjap. Tengkukku terasa sakit, punggungku juga seperti bersandar ditempat yang kasar. Kubuka mataku perlahan, menerima cahaya yang masuk kedalam retina.
Dimana ini?
Semilir angin menggesekkan daun-daun menimbulkan bunyi berisik, burung-burung berkicauan diatas ranting sana. Aku mendongak, apa aku tertidur di dibawah pohon? Benar saja, badanku sedikit pegal karena terlalu lama duduk dengan bersandar di batang pohon.
Aku beranjak dari sana sambil membersihkan baju yang kotor sedikit basah karena bekas duduk di tanah berumput. Aku menatap sekeliling. Tempat ini terlalu asing, seingatku pohon ini juga tidak ada disekitar rumah ataupun kampung, pohon ini seperti beringin hanya saja lebih besar dan terawat. Dimana ini sebenarnya? Apa aku tersesat? Aku baru saja pulang sekolah, itupun langsung ke rumah, seingatku, sebelum akhirnya aku malah tertidur dibawah pohon besar ini ternyata.
Baiklah! Saatnya pulang.
Aku mengambil tas, buku dan alat tulis yang berserakan di tanah sebelah tempat aku duduk tadi. Sungguh! Aku tidak ingat jika tadi belajar disini. Hari masih terlalu pagi untuk waktu pulang sekolah, namun karena rapat mendadak para guru dan staf sekolah membuat semua KBM berakhir lebih cepat. Semua murid senang, ada yang langsung ingin bertemu gadgetnya atau sekedar nongkrong ria dengan temannya. Namun bagiku, pulang itu menyeramkam, karena rumah itu bagiku seperti--
"AYANA...!!!"
Bahuku menegang. Itu suara Anggi! Kenapa dia disini? Bagaimana ini? Aku harus kabur secepatnya.
"Ayana!"
Anggi mempercepat larinya seolah ingin mencegahku untuk segera pergi. Aku waspada, ternyata dia membawa dua temannya.
"Ayana, huh... huh..."
Anggi dan dua temannya mengatur nafas setelah berlari untuk mencegatku pulang. Aku harus bagaimana? Apa mereka akan berbuat sesuatu lagi denganku? Seharian ini aku tidak bertemu mereka di sekolahan, apa Anggi dan genknya berniat menggangguku diluar sekolah? Berbagai praduga negatif memenuhi memenuhi pikiran, aku memejam, memeluk tas punggungku erat.
"Ayana, jalan-jalan yuk!"
Spontan, kubuka kedua mataku.
Jalan-jalan?
"Kudengar di alun-alun pusat kota ada festival kuliner sama wahana permainan lho. Kesana yuk!" Anggi antusias.
Bagaimana jika mereka hanya menjebakku saja?
"Ngga usah mikir-mikir lagi, mumpung masih jam sembilan, sia-siakan kalau langsung pulang." bujuk Rena, salah satu teman genknya Anggi.
"Karena ini hari spesial, jadi Anggi yang bakalan traktir." tambah Mezzy, teman satunya lagi.
Aku harus bagaimana? Ayah akan marah kalau aku tidak langsung pulang, tapi aku akan dikira bolos karena pulang sepagi ini, kalau kujelaskan juga Ayah tidak akan mendengarku. Lagipula, Anggi, Rena dan Mezzy adalah anak-anak nakal, bagaimana jika aku hanya dibohongi?
"Ayok!!"
Anggi dan Rena menarik tanganku, Mezzy mendorong punggungku. Percuma menolak, langkah kakiku mengikuti mereka.
Semoga nanti baik-baik saja.
●●●●●
Benar saja, di alun-alun kota sedang ada festival kuliner yang ramai oleh ribuan orang, berdesak-desakkan mencari makanan berbeda dari satu stand ke stand lain yang memang sengaja dijual dengan harga miring. Ada juga wahana permainan seperti pasar malam, tapi sepertinya baru akan dibuka sore nanti karena masih dirakit yang kelihatannya akan membutuhkan waktu lama.
YOU ARE READING
My World
Short StoryBahkan diam pun dirinya masih salah. Apa jadinya jika ia bersuara? Sesaat gadis itu merasakan dunia yang aneh, musuh berdamai dan keluarga yang baik. Sedikit aneh untuk dirinya yang biasa hidup di lingkungan yang keras. "Bagi siapa pun, tolong jang...
