Di malam yang sepi dan dingin, aku beranjak turun dari tempat tidur menuju jendela sambil menatap bintang-bintang dan bulan di langit, air mata hangat mengalir di pipiku yang dingin mengingat bahwa aku sudah hampir 18 tahun di rumah ini, malam ini mungkin malam terakhir aku di rumah ini. Sangat berat rasanya untuk pergi jauh dimana tempat kita di besarkan. Sangat banyak kenanganku di rumah ini bersama ibuku, dan kamar ini adalah hadiah terindah dari ibuku saat aku berumur 5 tahun, dan hal yang tidak bisa kulupakan saat aku kecil adalah sejak aku baru mulai bisa berjalan, ibuku sering bertanya.
"Rachel, kau mau terbang?"
"Kau bercanda ya, mom? Tentu saja aku mau terbang, aku ingin terbang mencapai bintang di langit"
lalu ibuku memegang pinggangku dan melemparkanku ke udara. Kepalaku terdongak ke belakang dan aku melesat mirip roket menuju langit. Aku akan berseru kegirangan, seperti saat menaiki wahana roller coaster.
Tok tok tok Rachel...
Seseorang mengetuk pintu kamarku, aku mengenal suara itu, itu adalah suara Ayah. Aku menyeka air mata, dan lari menuju pintu kamar untuk membukanya.
"Ayah masuklah, aku baru selesai saja membereskan barang-barangku."
ucapku dengan sedikit tersenyum.
"Apakah buku-buku mu sudah kau bereskan semua?, jangan sampai ada yang ketinggalan besok kita akan berangkat pukul sepuluh pagi." Ucap ayahku dengan khawatir akan ada barang-barangku yang ketinggalan.
Dia adalah ayahku, namanya Firman seorang dokter ahli bedah di RS. Bogor, dia orang yang sangat sibuk tetapi dia selalu memiliki waktu untuk mengobrol denganku meskipun itu hanya di hari minggu, tapi aku sudah sangat senang. Dia adalah sosok ayah yang sangat lemah lembut dan penyayang, semenjak ibu meninggalkan kami 1 tahun yang lalu, Ayahku lah satu satunya keluarga yang kumiliki, aku anak tunggal. Saat ini yang ku inginkan adalah membuat ayah bangga padaku, tetapi itu sangat sulit.
"Jika semuanya sudah kau bereskan, istirahatlah jangan sampai besok kau telat bangun" ucap ayahku.
"Baik ayah, selamat malam" kataku.
"Iya selamat malam"ucap ayahku.
Pagi mulai menyapa, cahaya matahari mulai masuk melalui jendela kamarku, tebalnya gorden berwarna kecoklatan nyatanya tak bisa menghalangi cahaya itu masuk ke ruangan. Kebisingan di lantai bawah mulai terdengar. Nyatanya bukan hanya cahaya matahari yang membangunkanku, tapi juga obrolan orang-orang di bawah. Aku mengenal suara itu, itu adalah suara ayah dan bibi.
Akupun beranjak turun dari tempat tidur, menuju lantai bawah.
Ternyata benar ayah dan bibi Nia sangat sibuk mengatur barang-barang yang akan di bawah pergi.
Bibi Nia adalah pengasuhku sejak masih bayi,sudah hampir 18 tahun dia bersama kami di rumah ini, dia sudah ku anggap sebagai ibuku, umurnya sekitar hampir 50 tahun. Dia sangat baik ,ia memiliki hidung mancung, berambut pendek hitam, kulitnya sudah agak keriput, ia sudah bercerai dengan suaminya 10 tahun yang lalu, aku juga kurang tahu masalah dia dengan suaminya hingga bercerai, aku juga tidak mempertanyakan itu padanya aku takut dia merasa sedih, sebenarnya dia sudah tidak cocok untuk bekerja jika di lihat dari umurnya, tetapi aku tidak ingin dia pergi dari rumah ini, aku juga tidak ingin jauh darinya. Itulah sebabnya dia tetap tinggal bersama kami.
Zara--cucu bibi Nia duduk dimeja makan dengan memakan sepotong roti selai kacang. Dia anak yang imut, dia memiliki hidung mancung seperti bibi Nia, berkulit putih, mata yang indah, berambut panjang yang selalu di kuncir. Dia berumur sekitar 5 tahun, aku sangat dekat dengannya, dia baru saja datang ke rumah kami 2 minggu yang lalu, ayah dan ibunya pergi merantau di Medan, jadi terpaksa bibi Nia yang merawatnya.
"Non, silahkan sarapan dulu." Ucap bibi dengan memberikan senyuman manis kepadaku.
Aku pun menuju meja makan dan membuat sepotong roti selai kacang.
Sementara Ayah sangat sibuk mondar mandir mengatur barang-barang yang akan dibawah pergi. Setelah sarapan aku pun bersiap-siap, air mata terus saja mengalir dipipiku aku tidak menyangka bahwa aku benar-benar akan pergi dari rumah ini setelah hampir 18 tahun.
Aku menarik koperku dan berjalan menuruni tangga, aku juga melihat kesedihan dimata ayah, matanya berkaca-kaca tapi dia berusaha menahan tangisnya.
Aku juga melihat bibi Nia menetaskan air mata, dan aku melihat Zara yang kebingunan mungkin dia belum mengerti apa yang terjadi karena dia masih kecil. Ayah langsung memelukku dan berkata.
"Jangan menangis, suatu hari nanti kita akan berkunjung lagi kesini," ucap ayahku.
aku rasa kalimat yang baru saja ia ucapkan hanya untuk menenangkan diriku. Tidak lama kemudian taksi yang ayah pesan akhirnya datang, satu persatu barang-barang mulai di naikkan ke mobil, Kami pun berangkat menuju bandara.
*****
Vote dan komen yah :)
Tunggu Part selanjutnya...
Terima kasih :)
Follow ig : Dian_1124
Twitter : Dian_1124
KAMU SEDANG MEMBACA
RACHEL
Fiksi RemajaKisah seorang gadis remaja, tetapi bukan tentang persahabatan yang selalu mengundang canda tawa. Bukan pula tentang keluarga yang harmonis, apalagi penuh kebahagiaan. RACHEL AZMIRA Mungkin orang-orang mengenalnya deng...
