Jisung

14 3 0
                                        

Jisung sedang berada di kamarnya, sendirian. Entah apa yang ia tuliskan, tangannya sibuk menuliskan banyak hal pada sebuah buku tulis biasa.

Tanpa ia sadari, air mulai menetes dari matanya. Tapi dengan cepat dia langsung menggigit tangannya sendiri, sehingga tidak ada suara yang keluar dari bibirnya, meski air matanya tak kunjung berhenti keluar.

Saat tangisannya berhenti, dia merasa sangat pusing. Jisung menyimpan buku itu di lemari dan membaringkan tubuhnya pada kasur miliknya. Diapun terlelap, tidak ada mimpi buruk ataupun indah, hanya gelap.

Keesokan paginya, Jisung dibangunkan oleh ibundanya untuk pergi sekolah. Jisung memberikan senyuman paling indah pada ibunya dan sebuah kecupan di pipi.

Mandi lalu bersiap berangkat sekolah. Jisung menaiki motornya menuju sekolah tanpa semangat, tapi dia harus sekolah.

Walau masih 13 tahun, Jisung sudah bisa mengendarai motor. Bagaimana lagi, mau tidak mau dia harus membawa motor sendiri untuk ke sekolah. 9 kilo itu cukup jauh, apa lagi jalan pulang ke rumahnya menanjak.

Tidak ada yang menarik di sekolahnya, dia baru saja dipindahkan ke kelas baru karena kelasnya di renovasi.

Alhasil dia harus ikut bergabung dengan anak kelas lain yang tidak dia kenal sama sekali. Padahal dia baru saja akrab dengan teman sekelasnya yang lama. Melelahkan.

Teman sekelasnya yang baru tidak ada yang menyambut kehadirannya. Semuanya berinteraksi seolah Jisung tidak ada. Bahkan teman sebangkunya langsung pergi ke kantin bersama orang lain saat istirahat tanpa mengajaknya.

Akhirnya waktu pulang tiba, akhirnya Jisung bisa pergi menjauh dari orang-orang baru itu.

Begitulah kesehariannya, dia lalui dengan bosan tanpa semangat. Seolah jiwanya sudah hilang, hanya raga yang bergerak karena keharusan.

Trauma masa lalunya, suatu kejadian di masa kecilnya sudah membuat rasa pada dirinya hilang. Rasa bahagia, rasa percaya, rasa takut. Saat ini hanya ada kebencian yang entah sudah berapa dalam dan seberapa lama ia tahan seorang diri.

Satu-satunya hal yang ia sayangi di dunia ini hanyalah ibunya. Satu-satunya orang yang membuatnya masih berada di sini sekarang. Masih menapakkan kaki di bumi dan menghirup udara sampai sekarang.

Serendipity (MinSung)Where stories live. Discover now