0 | Beginning

249 31 2
                                        

"I know you're imbecle— imbecyle—?"

Niki meringis sejenak sambil menyipitkan matanya untuk meneliti satu kata yang terus menerus menyandung kelancaran membacanya sejak tadi.

"—imbeciyle?"

Pelafalannya yang makin kacau membuat Niki mengerang frustasi. Ia melempar jauh-jauh buku berbahasa Inggris itu, kemudian membanting punggungnya ke atas hamparan rumput hijau nan empuk di belakangnya. Insting anak tujuh tahunnya meraung-raung, memicu reaksi instingnya yang terkubur dalam-dalam untuk mengamuk dengan kekanak-kanakan pada tanaman hijau di sekitarnya. Tapi, suara kecil—yang entah bagaimana bergema dengan amat keras—di dalam pikirannya mengingatkannya untuk bertindak dengan semestinya di tengah wilayah umum.

Ia menggelengkan kepala, menepis jauh-jauh keinginan untuk melempar temper tantrum yang melonjak-lonjak di dalam dirinya. Alih-alih mengubur dalam-dalam gejolak emosinya, Niki memutuskan untuk melempar buku Inggrisnya dengan kencang ke sembarang arah sebagai bentuk amukannya. Bukunya mungkin saja akan rusak, tapi paling tidak amarah terpendamnya dari beberapa minggu belakangan ini dapat disalurkan dalam satu lemparan.

Anak laki-laki itu menunggu suara jatuh teredam muncul, namun hanya ada keheningan ganjil yang menyapa indra pendengarannya. Ia menoleh ke arah lemparannya dengan sepasang alis tertaut, merasa heran karena buku menyebalkan itu tidak kunjung mendarat di atas tanah juga. Barangkali bukunya tersangkut di dahan pohon—sepertinya bukan—ia tidak merasa melempar benda tebal itu ke atas beberapa saat yang lalu.

Saat itulah manik obsidiannya bertemu dengan sepasang manik cokelat cedar yang tengah menatapnya datar. Sang pemiliki manik itu adalah seorang anak perempuan—yang nampaknya seusia dengan Niki—berambut hitam eboni.

"Ini bukumu?" tanyanya, suara anak itu nampak sama datarnya dengan tatapannya.

Ia bertanya-tanya apakah si rambut eboni dibesarkan untuk menekan emosinya sejak dini, atau monotonitas ini memang digunakan sebagai 'topeng' di situasi tertentu.

"Be aware of those who wear a mask and suppressed their emotion."

Nasihat kerabat dekatnya yang berdarah blasteran terngiang di dalam benaknya.

"Um— iya." jawabnya pendek, agaknya merasa gugup karena belum pernah menghadapi tipe orang seperti si rambut eboni. "Terima kasih."

Anak perempuan itu nyaris tidak bergeming, bahkan mungkin Niki akan menyangka kalau si rambut eboni tidak mendengar ucapannya. Ia menatap buku bahasa Inggrisnya yang masih dalam keadaan terbuka, sadar bahwa tatapan si rambut eboni masih terfokus pada buku itu.

"I know you're imbecile, short-tempered, and stubborn. I get the point that it's the sign of your bad earlier life. But don't you have love for us, brother? Are you this selfish even when it involves us?"

Si rambut eboni menutup bukunya, menaikkan sebelah alis pada reaksi kebingungan yang ditunjukkan Niki. "Pelafalannya im-bi-sel, bukan im-bi-sail. It's imbecile."

"Uh, oke. Terima kasih....?" Niki berucap ragu-ragu.

Si rambut eboni— ah, bukan. Ia tidak bisa menyebut anak itu rambut eboni terus.

"—Taki."

"....apa?"

Anak perempuan itu menatapnya dengan tatapan tidak terkesan, lalu menetralkan rautnya sesaat setelahnya. "Namaku Taki. Hanya Taki, tanpa nama belakang. Salam kenal, Nishimura Riki."

Lafal dan intonasinya begitu familier dengan logat penduduk di tempat lahirnya hingga mata Niki nyaris melonjak dari tempatnya. "A-a-ah, ya. Salam kenal, Taki-san." ucapnya setengah gagap. "Omong-omong, dari mana kau tahu namaku? Seingatku kita belum pernah bertemu sebelum hari ini."

Sekelebat memori mengawang-awang di dalam pikirannya. Niki mendadak teringat akan sesuatu. Pantas saja si rambut eboni—Taki—terlihat familier di matanya.

Air muka anak perempuan itu tidak banyak berubah, hanya sepercik rasa terhibur yang muncul sekilas di kedua manik cokelat cedar itu. Ia meringis dalam hati, sekentara itukah perubahan emosinya sejak tadi?

Nampaknya Niki benar-benar harus melatih pengendalian dirinya lagi. Kalau ayahnya sampai tahu, pasti ia akan dikenakan pelajaran bisnis dua kali lipat dari jumlah awal. Memikirkannya saja sudah membuat otak Niki berkedut. Karena terakhir kali ia memutuskan untuk belajar habis-habisan, kepalanya langsung berasap saking pusingnya (tidak secara harfiah, tentu).

"Aku duduk di pojok belakang kelas, tepat di belakang Song Jina. Kau mungkin sulit melihatku karena terhalang olehnya."

Song Jina, anak tambun nan tinggi yang duduk agak ke belakang—Niki tidak terlalu memperhatikannya, meski begitu ia masih ingat pada eksistensinya yang amat mencolok apabila ditempatkan di bangku tengah. Anak-anak di sekitarnya akan protes dan (atau) berusaha menelengkan kepala serta bergeser-geser dari tempat duduknya kalau pandangan mereka terhalang oleh tubuh bongsor Jina. Untunglah Niki duduk di lokasi yang strategis, jadi ia tidak perlu repot-repot.

Dan Taki—ia meringis lagi membayangkan kesengsaraan yang anak itu alami karena harus duduk di belakang Jina. Kasihan sekali.

Tapi.... kenapa Taki tidak mengajukan protes seperti anak-anak lain yang salah posisi tempat duduk?

"Oh." Ia membalas penjelasan singkat si rambut eboni, sadar bahwa jeda sebelum responnya telah berlalu sedikit terlalu lama. "Begitu, pantas saja aku hampir tidak pernah melihatmu. Kau ini murid baru, ternyata."

Sudut bibir Taki berkedut sedikit. Niki memutuskan untuk menganggapnya sebagai reaksi positif.

Tatapan anak perempuan itu tinggal pada Niki untuk beberapa saat, sebelum akhirnya berpindah pada buku bahasa Inggris di genggamannya. "Aku.... belum pernah belajar dan bertukar pendapat dengan anak lain. Apa kau mau belajar bersamaku?" tanya Taki, terselip keraguan di antara nada bicaranya yang datar.

Niki—tentu saja—langsung menerima tawaran itu tanpa berpikir panjang. "Tentu! Ayo duduk di sini." kata Niki dengan bersemangat sambil menepuk-nepuk area kosong di sebelahnya. Ia menghiraukan suaranya yang terdengar sedikit terlalu ceria untuk ukuran seseorang sepertinya.

Sejak saat itu, hidup Niki yang awalnya berputar-putar dalam lingkaran monoton berubah menjadi lebih berwarna dari sebelumnya.

Mars and EarthWhere stories live. Discover now