By: Zaskia & Nafa
"Ma, ke mana semua orang pergi saat mereka mati?"
"Hm? Maksudmu?"
"Maksudku ... apa mereka berada di satu tempat yang tidak terlihat? Ma, tahu ... seperti Kakek kemarin. Terkadang aku merasa Kakek masih di sini. Tapi nyatanya, dia tidak ada di mana pun."
Ma berhenti menulis. Ia memindahkan kertas dan pena ke atas nakas, lalu berpikir sebentar. Lantas setelahnya, Ma menjawab dengan suara yang pelan, "Kamu pasti sangat rindu Kakek, ya. Sampai-sampai melihatnya," komentar Ma, alih-alih memberikanku jawaban. Beliau mencubit pipiku dan tertawa.
Aku mengangguk, "Itu benar. Aku memang merasa seperti Kakek ada di sini, bersama kita. Duduk sambil mengajakku bicara. Bahkan terkadang, aku melihatnya mengajak Ma berbicara."
"Kenapa kau mengigit bibirmu seperti itu, Sayang?"
Ma membelai rambutku.
"Aku takut, Ma. Bagaimana jika Kakek datang untuk menjemput, Mama?" tanyaku pelan dengan suara serak.
Ma dengan sigap mengusap sudut mataku, ia tersenyum dengan pandangan sebening kristal. Berkaca-kaca dan sangat rapuh. Beliau menepuk kasurnya.
"Naiklah."
"Ma, yakin? Dokter bilang, aku tidak boleh ada di sini. 'Hanya orang dewasa saja'," kataku mengutip kalimat dokter itu. Meskipun demikian, aku tetap memanjat menaiki kursi di sebelah ranjang Ma dan duduk di sampingnya.
"Kasur ini sempit," keluhku.
"Maaf, ya. Kamu boleh pulang nanti. Malam ini temani Ma, ya." Mama bergeser dan memberikan lebih banyak ruang hingga kini aku bisa menyandarkan punggungku di atas kasur.
"Aku ingin bersama Ma terus."
"Aku juga, Annie." Ma mengecup dahiku, perlahan tubuhnya ikut berbaring dengan posisi miring. Jemarinya yang semakin kurus dan pucat, memainkan rambutku yang sekuning jagung. Lengkung senyum tipis Ma ... akan selalu kurindukan.
"Tadi kau bertanya ke mana semua orang yang telah tiada pergi, bukan?"
Aku mengangguk-angguk. Ma tersenyum, berhenti memainkan rambut, lantas mengecup bibirku singkat.
"Kenapa, Ma?"
"Ma hanya sedang mengagumi karya Tuhan, Sayang."
"Maksudnya, aku?"
"Tentu saja."
Aku tersenyum. Ini bukan kali pertama seseorang memuji parasku yang menyerupai Ma dulu. Kata mereka, anggun dan berseri-seri. Seperti malaikat kecil yang diturunkan ke bumi, lantas dengan pandai memikat hati. Namun, pujian yang dilontarkan mereka jelas tidak sama dengan mendengarnya langsung dari bibir Ma. Aku menyentuh bibirnya yang pecah-pecah dan beliau mengecup jemariku.
"Percayalah, Annie ... Ma tidak pernah benar-benar pergi. Ma akan menjelma menjadi siapa saja atau apa saja, untuk senantiasa melindungi dan memperhatikanmu, Sayang. Bahkan ketika kamu menatap cermin nanti, di pagi hari. Dengan tangan suamimu yang membantu merapikan rambut, kamu akan sadar bahwa Ma ada di sana. Di dalam matamu, di dalam dirimu. Kamu akan tersenyum pada cermin, suamimu akan memuji betapa cantiknya dirimu. Dan, ketahuilah ... Ma pun tersenyum melihat wanita dewasa itu."
Bahasa Ma berat.
Kala itu, aku tidak begitu paham. Namun, sesuatu yang secara jelas kutangkap adalah kenyataan bahwa Ma tidak akan benar-benar meninggalkanku, dan itu membuatku lega.
"Jadi ... aku hanya perlu bercermin untuk melihat Ma?"
Ma mengangguk.
"Bagaimana jika aku ingin bicara?"
"Cukup ucapkan pertanyaan itu dalam hatimu, Sayang."
"Ma akan menjawab?"
"Kau akan menemukan jawabannya sendiri. Ingat? Kita dua jiwa dalam satu tubuh." Ma mengecup dahiku berulang-ulang.
"Lagi pula, Sayang ...." Ma menggeser tubuhnya, kini menghimpit badanku dan membawaku ke dalam pelukan hangat penuh kasih sayang. "Percayalah, Ma sudah mempersiapkan semuanya. Semua jawaban atas pertanyaanmu. Jangan khawatir, Anakku."
Dan, malam itu. Pelukan Ma berubah menjadi dingin saat aku bangun di pagi hari.
[]
Ann, Sayangku. Sudah satu tahun berlalu. Bagaimana kabarmu, Sayang?
Tahun ini kau naik kelas dua, 'kan? Selamat! Berapa pun hasil ulangan dan rapotmu, Ma bangga sekali. Rasanya Ma ingin memeluk dan mengecupmu seperti dulu. Tapi, percayalah Ann. Walau tak terasa, Ma benar-benar melakukannya.
Ann, maafkan Ma karena meninggalkanmu begitu cepat. Maaf juga karena sering mengabaikanmu dulu, sekarang kau sudah tahu alasannya, bukan?
Ma sedang menyiapkan jawaban-jawaban atas pertanyaan dan kegelisahanmu untuk puluhan tahun ke depan saat itu. Teruslah membaca tulisan, Ma, ya.
Semoga kau tidak kesal, Ann. Mama mencintaimu.
[]
Ann, bagaimana kabarmu, Sayang?
Ini sudah 20 tahun berlalu semenjak malam itu, sudah pasti kamu bukan gadis kecil yang mengeluhkan kasur sempit dan kamar RS yang pengap. Maaf, ya. Ma pernah membuatmu harus menemani Ma di tempat yang tidak nyaman.
Ann, saat ini, apa kau sedang duduk di depan cermin? Pasti kita semakin mirip sekarang.
Ann, bagaimana pria itu?
Ma tahu, kau pasti berkenalan dengan seseorang, 'kan? Entah itu di tempat kerjamu, tak sengaja bertemu di jalan, atau di suatu tempat yang pernah kau kunjungi.
Ann, wajahmu pasti merona.
Jadi benar, ya? Sungguh, Ma ingin mendengar cerita darimu mengenai dia. Tapi sayangnya, tidak bisa. Jadi, Ma hanya akan mengatakan ini.
Ann, sayangku ....
Siapa pun dia, pria itu. Ma percaya, kau sudah memilih yang terbaik.
Karena kau gadis Ma yang terhebat. Mama mencintaimu.
[]
Ann, Sayangku ....
Bagaimana kabarmu, Sayang? Gadis kecilku yang manis pasti sudah tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik dan berbudi pekerti mulia. Apa sekarang kau sedang menggendong cucu, Ma? Oh, astaga. Kuharap dia menuruni wajah cantikmu, Ann. Wajah cantik kita. Tapi, jika dia anak laki-laki. Kuharap dia segagah Ayahnya. Ingat? Pria yang kau pikirkan 5 tahun yang lalu? Ma yakin, kau tipikal yang hanya mencintai satu orang. Sama seperti Ma dan Pa.
Ann, ini sudah surat yang kelima puluh. Semoga tiap-tiap surat yang Ma tuliskan bisa menjawab kerinduan dan kegelisahanmu, ya. Semoga semua kecupan dan pelukan Ma dapat disampaikan melalui tulisan ini.
Ann, Ma hanya ingin berpesan.
Jangan terburu-buru ke sini, ya. Ma tahu kau merindukan, Ma. Tapi, temanilah anakmu. Selama yang kau bisa. Lebih lama dari yang bisa Ma lakukan untukmu. Maafkan, Ma, ya. Maaf karena tidak bisa menemanimu dalam saat-saat sulit. Tapi ketahuilah Ann, kau wanita hebat dengan hati mulia, kau pantas untuk semua cinta di dunia. Setua apa pun dirimu sekarang, kau tetaplah gadis kecil mungil yang Ma dekap di tahun-tahun terakhir tiap napas yang Ma jaga. Ma ingin melihatmu tumbuh, Ann. Dan, Ma bangga bisa melihatnya melalui tulisan ini.
Ann, Mama mencintaimu. Sangat.
YOU ARE READING
Kumpulan Cermin MinKoma Kecil
Short StoryKumpulan cerita mini dari MinKoma dengan berbagai tema.
