Desa Brughad. desa yang sederhana dan tak terlalu makmur secara ekonomi. Desa ini terletak berdampingan dengan belantaranya hutan yang misterinya tak ada yang mampu dan berani mengusik. Pohon-pohon ceri yang baru dipanen menyelubungi jalan dua tapak yang sering dilalui warga. Tak terkecuali Vandi, Viery, dan Valy.
Tiga bersaudara yang tinggal di desa Brughad sejak mereka kecil itu selalu menampakkan aura kebahagiaan meski mereka tak beruntung. Orang tua kandung mereka meninggalkan mereka di Desa Brughad dan tidak pernah kembali. Lalu mereka ditemukan oleh seorang petani tua yang hidup sendiri sampai petani itu memutuskan untuk mengurus mereka bertiga. Vandi, Viery, dan Valy tumbuh tanpa pernah merasa kesal, mereka menjalani hidup dengan bahagia bersama petani tua itu.
Di suatu sore yang hangat mereka berjalan menyusuri daratan miring di tepi hutan gelap nan misterius. Vandi, anak lelaki yang paling tua, paling berani, dan selalu menjaga adik-adiknya, sedang berjalan memimpin kedua adiknya sembari mencari buah yang bisa dijadikan camilan. Viery, anak perempuan kedua, menikmati jalan sore mereka sembari bersenandung indah dibawah pohon-pohon ceri yang sudah tak menyisakan buah. Dan Valy, si bungsu periang dan sangat ceria, berjalan dibelakang kakak-kakaknya sembari memegang sebuah pahatan kayu berbentuk burung yang ia mainkan dengan penuh imajinasi. Burung kayu itu baru memiliki jam terbang sekitar sepuluh menit di tangan Valy, karena sekitar sepuluh menit yang lalu seorang pengrajin kayu di pasar memberinya sebagai hadiah karena membantu pengrajin itu mencari palu nya yang hilang. Mereka berjalan dengan semangat, terutama Valy karena ia baru saja mendapat 'teman' baru.
Valy berjalan berjingkrak-jingkrak karena senangnya mendapat hadiah dari pengrajin kayu itu. Ia ayunkan kesana-kemari dengan sangat bersemangat, terlalu bersemangat hingga Valy terpeleset dan pahatan kayu miliknya menggelinding ke dalam hutan sampai tak terlihat. Vandi dan Viery terkejut melihat Valy yang segera berlari mengejar mainannya ke dalam hutan.
"Jangan!" teriakkan Vandi sia-sia karena Valy sudah berlari sekuat tenaga mengejar pahatan kayu itu.
Setelah masuk ke dalam hutan cukup jauh, akhirnya Valy menemukan pahatan kayu nya dan berbalik untuk kembali ke luar hutan. Namun sayang, saat ia berbalik ia tidak bisa menentukan kemana arah keluar hutan, dan ia pun tidak bisa menemukan kedua kakaknya. Ia berjalan perlahan sembari memanggil kakaknya.
"Vandi? Viery?" ia terus memanggil kedua kakaknya sampai ia lelah dan terduduk dibawah sebuah pohon besar sembari mengambil napas karena telah berjalan cukup lama. Ia terus memandangi pahatan kayu nya dan memeluknya.
"Semuanya akan baik-baik saja." Gumam Valy sebelum suara lolongan serigala menjalar diantara pohon-pohon. Burung-burung berterbangan dengan tergesa-gesa seraya dengan terdengarnya derap langkah seperti raksasa mendekati Valy. Valy sontak berdiri dan berlari sekuat tenaga menjauhi derap langkah yang terdengar semakin dekat setiap saat. Valy terus berlari hingga ia tersandung dan semuanya menjadi gelap.
YOU ARE READING
Three Cousins and A Wooden Bird
Short StoryCerita pendek tentang tiga bersaudara dan sebuah burung mainan kayu yang terjatuh ke dalam sebuah hutan misterius.
