01. Aneh

46 12 35
                                        

Malam yang indah seperti biasanya, seorang perempuan duduk disamping jendela melihat bangunan seberang dipenuhi manusia yang menikmati sebuah coffe. Termenung, melihat sekeliling ruangan yang ditempatinya kosong hanya ada dua gadis lain yang asyik menonton sebuah tayangan dalam benda berbentuk persegi panjang yang mereka sebut ponsel.

"Aaaaaa park jisung ganteng bgt fix ga ada obat."

"Ih ga ya gantengan juga jungwoo akuuu itu itu uwuuuu HAI WU KAO BISA LIAT AKU KAN KAN KAN?"

"Ish bodo, mana bisa liat dia kan ini hp."

"Yauda si kan siapa tau dia notis aku."

"Ssssttt. Bntar bntar eh tu liat." Seorang gadis nunjuk ke arah perempuan yg sedang termenung itu.

"Kak daf kaka ngapain si? ngelamun mulu, gabakal ada ujan duit udah." Teriak gadis itu.

"Au nih kak dap, sini napa si kak, nih nonton nct tampil di music bank. Sini lah, banyak cogan disini bisa cuci mata." Saut teman sebelahnya.

"Anin, Nispa, kalian senang senang sajalah, aku lagi hilang semangat."

Ya benar, namanya daffa. Kaya laki laki ya namanya? Dia perempuan jangan salah kira. Nama lengkapnya Na Daffa. Dia biasa dipanggil nadaf atau daffa kadang ada juga yang manggil dia Nada. Dia perempuan lugu, berhati baik, tapi dia juga moody an. Dia punya seorang kakak perempuan yang saat ini sedang menjalani kuliah S2 nya di Singapore. Kakak perempuan itu bernama Himi. Lucu ya? Bagaimana bisa sebuah keluarga memberi anak perempuannya nama laki laki? Semua orang pun heran. Tapi lama lama mereka juga paham kenapa nama anak anak itu seperti laki laki.

Kring!!

Suara bel pintu masuk tergeser, Daffa pun beranjak dari tempat duduknya dan raut wajahnya berubah menjadi ceria. Rasa rasanya ini adalah pelanggan pertama yang datang semenjak kedai susu ini ditinggal kakaknya melanjutkan kuliah. Mau tidak mau dia harus bisa bersikap ramah walau hatinya sedang tidak pada kondisi baik.

"Selamat datang." Ucap Daffa dengan senyum manisnya.

Seseorang berjaket hitam, memakai topi hitam, dan masker hitam menatapnya.
"Boleh aku pesan sesuatu?"

"Oh tentu boleh, mau pesan apa?"

"Ice americano."

"Hah? Anda tidak salah pesan?"

"Tidak, aku mau ice americano satu."

"Tapi ini kedai susu, kami tidak menyediakan kopi. Anda bisa pergi ke seberang sana. Disana ada coffe shop yg terkenal enak. Silahkan."

"Ayolah aku mohon, aku tidak mau pergi kesana, aku mau pesen ice americano aja disini. Boleh ya?"

"HEH MANUSIA..! Kamu gabisa baca? Ini tu Milkshop. Ini tuh kedai susu bukan coffe shop. Sana sana pergi." Teriak Anin yang beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri lelaki yang memesan ice americano tersebut.

"Aku tau tapi aku mohon aku harus memesannya disini aku tidak bisa kesana."

"Apasih ini?! Kamu pesen kopi di kedai susu? Ga sekalian aja kamu pesen alkohol disini?" Teriak nispa yang dari tadi memperhatikan keributan.

"Sudah sudah anin nispa udah biarin. Nanti biar aku yang belikan. Udah ya jangan ribut." Dengan menghela nafas, daffa pun beranjak pergi meninggalkan kedai untuk membeli apa yang dipesan lelaki tersebut.

"Tuh liat, kan dia jadi pergi, asal kamu tau aja ya tadi tuh dia seneng bgt akhirnya ada yg mau dateng ke kedai ini dan membeli satu menu dari kedai ini, tapi kau malah memesan yang lain. Kau malah pergi kesini karena tidak bisa memesannya di tempat itu. Dasar gatau malu." Sentak Nispa.

"Maaf, aku janji aku akan sering datang kesini, dan bahkan aku akan mempromosikan kedai ini ke temen temenku."

"Halah dateng kesini kalo pesennya bukan menu dari sini buat apa." Ketus nispa.

"Aku akan pesan menu dari sini, aku janji."

"Awas aja kalo ingkar."

Tak lama kemudian, Daffa datang dengan sebuah minuman ditangan kanannya, rupanya diluar sana hujan. Daffa sampai basah kuyup karena tidak membawa payung.

"Ini pesananmu."

"Terimakasih."
Lelaki itu perlahan membuka maskernya, anin dan nispa pun sedari tadi matanya tidak lepas dari sosok laki laki tersebut, karena menurut mereka gerak gerik dia terlalu mencurigakan.

Setelah dibuka....





"LOH?!! JAEMIN?!!" Teriak Nispa dan Anin secara bersamaan. Daffa pun kaget gara gara teriakan dua temannya itu. Daffa bingung jaemin siapa kok teman temannya kenal tapi daffa tidak kenal.

"Ssstttt, ku mohon jangan kenceng kenceng."

"K-kamu j-jaemin n-n c-c t-t?" Tanya anin dengan gugup. Dan dibalas anggukan oleh Jaemin.

"Nct?" Daffa makin bingung, siapa itu nct? Ah maklum daffa bukan tipekal cewe cewe lain yang suka oppa oppa.

"Kok bisa kesini sih? Tanpa manager? Tanpa pengawal? Kalo ada yg nyulik gimana coba?" Tanya Nispa.

"Aku gatau harus mulai cerita dari mana tapi aku takut kalian akan membocorkannya karena aku ini idol."

"Kami janji akan menjagamu, ga akan kami bilang bilang siapapun, janji." Jawab Anin dengan antusias. Daffa yang daritadi diam saja, dia pun ikut mendengarkan karena penasaran. Baru kali ini dia penasaran pada seorang laki laki.

"Jadi, dulu coffe itu adalah tempat langgananku, untuk melepas penat dari padatnya schedule aku. Tapi, ada salah satu pegawai paruh waktu disana yang tetiba deketin aku, dia bertanya tanya ini itu, dan bodohnya aku menceritakan segala aktivitas aktivitasku. Keesokan harinya coffe itu tidak seperti biasanya, coffe itu penuh dengan pelanggan. Aku kira mungkin ada menu baru untuk menarik pelanggan. Pas aku masuk, tiba tiba banyak yang mengerumuni aku, aku kaget. Aku punya riwayat penyakit panic attack. Aku ketakutan dan bingung saat itu. Aku ditarik oleh salah satu pelayan disana. Dan dia mengatakan identitasku yang sebenarnya. Sejak saat itu aku dimarahi oleh manager hyung, aku tidak boleh pergi ke tempat itu lagi. Tapi aku tidak bisa, aku ingin minum ice americano dari tempat itu karena cuma tempat itu yang jual ice americano ter enak menurutku. Karna tidak ada pilihan lain jadinya aku kesini, aku harap kedepannya kalian mau ya nerima aku jadi pelanggan disini walau nanti aku bakal pesan ice americano, mau ya?"

"Eumm coba tanya boss kami." Jawab Nispa. Anin, Nispa, Jaemin menatap Daffa secara bersamaan, berharap Daffa memperbolehkan hal itu. Bukan Daffa namanya kalau tega menolak permintaan kedua teman baiknya ini.
Daffa pun menganggukkan kepalanya.

"YESSS!!!" Teriak mereka bertiga secara bersamaan. Mereka senang gembira mendengar jawaban dari Daffa.

Sekarang Daffa tau, kedai ini hidup bukan karena banyaknya pelanggan. Tetapi karena banyaknya kebahagiaan yang bisa ia beri untuk orang lain.



Jangan lupa vote and comment yaa^^
See you next chapter!!! ♡♡♡♡♡

Beautiful TimeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang