[NO COPY PASTE❌]
Demi mendapatkan pria idamannya. Riana nekad melakukan segala cara hingga mempelajari sebuah buku mantra cinta.
"Gue rela ngelakuin apa aja. Asal nggak ngerasain yang namanya PERASAAN SAKIT KARENA DITOLAK COWO!"
-Riana Stevani
***
E...
Sudah sejak lama Aurel benci berjalan sendiri di tempat sepi. Bukannya takut, ia hanya tidak suka. Ruang sepi tanpa kerumunan orang selalu membuatnya berpikiran buruk. Otaknya selalu dipenuhi imajinasi.
Bahkan suara tetesan air pun bisa membuatnya melonjak. Seperti saat ini Aurel terkejut mendengar suara denting disertai getaran yang ternyata berasal dari ponselnya sendiri.
"Oh ya Tuhan, Riana, lo ngagetin aja." Entah Aurel harus mendesah lega atau mengomel saat mendapati pesan masuk dari sahabatnya, Riana Stevani.
Riana I find something good library now.
Aurel agak lama membaca pesan itu, karena ia harus mengartikannya terlebih dahulu. Kemampuan bahasa inggrisnya tak sebagus Riana yang sudah sering mengikuti lomba debat bahasa inggris.
"Riana ngapain sih di perpustakaan sore hari kek gini?"
Jam sekolah sudah berakhir sejak beberapa jam yang lalu. Hari ini pelajaran hanya berlangsung hingga setengah hari karena para guru sedang mengadakan rapat.
Suasana sekolah sepi saat senja telah tiba. Hanya tersisa beberapa siswa yang tengah menjalani aktivitas ekstrakurikuler yang masih berkeliaran di sekolah.
Sekarang kesunyian di koridor membuat Aurel waspada. Tadinya Aurel sudah berada di jalan pulang. Tapi karena Riana memintanya datang ke perpustakaan, ia terpaksa memenuhinya.
Saat menuju perpustakaan Aurel merasa ada yang mengikutinya. Meskipun takut ia tetap memaksakan diri melirik ke balik bahunya. Baiklah, tak ada siapa pun di sana. Ia kembali berjalan.
Sesampainya di depan pintu perpustakaan, perasaan mencekam itu semakin kentara, trauma di masa lalu membuat Aurel selalu waspada dengan kondisi seperti itu
Pandangan Aurel menjelajah ke sekitar. Ia merasa disudut gelap di ujung lorong ada seseorang di sana. Segera ia alihkan pandangannya pada gagang pintu, mencoba meyakinkan diri bahwa ia tidak sendirian. Riana ada di dalam sana, menunggunya.
Tiba-tiba pintu terbuka sampai menubruk kepalanya. Aurel terhuyung ke lantai sambil mengaduh keras. Ia memegang keningnya yang terasa berdenyut-denyut.
"Aurel, maaf gue gak sengaja!" ucap Riana terkejut dan segera membantu Aurel berdiri.
Kemudian ia memapah sahabatnya masuk ke dalam perpustakaan dan mendudukkannya di salah satu kursi yang biasa digunakan para siswa untuk membaca.
"Lo gak papa, kan? Beneran gue gak sengaja. Lagian lo ngapain sih ke perpus sambil ngendap-endap gitu? Jadinya kan gue gak denger kalo lo udah dateng," cerocos Riana panjang lebar.
"Tadi ada orang yang ngikutin gue," jelas Aurel gelisah. "Entahlah, gue gak yakin sih. Mungkin aja itu cuman perasaan gue doang"
"Udahlah Rel, kayaknya lo harus nyembuhin phobia lo itu. Lo gak bisa seumur hidup terus ngerasa ketakutan kalo bakal ada yang nyerang lo di tempat sepi."
Aurel mengangkat bahu tak peduli. Selama itu tak menyakitinya secara fisik, ia tak masalah menderita phobia seperti ini. Perhatian Aurel kemudian teralihkan oleh buku yang dipegang Riana.
"Itu buku apaan, Rin?"
Riana tersenyum lebar, dengan gaya dramatis dan heboh. Gadis itu mengangkatnya dan menunjukkan tepat di depan wajah Aurel.
"Ini tuh buku mantra!"
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Buku mantra?" tanya Aurel tak mengerti.
"Jadi, di dalam buku ini banyak banget mantra cinta yang bisa buat cowo klepek-klepek," ucap Riana penuh semangat.
"Lo gak niat buat buka biro jodoh, kan?" tanya Aurel.
Riana tergelak, ia menggoyang-goyangkan jari telunjuknya di depan wajah Aurel.
"No! Gue berniat ngungkapin perasaan cinta sama seseorang. Gue udah cukup lama suka sama cowo itu."
Pipi Riana mendadak memerah, entah karena malu atau terlalu gembira.
Aurel justru mengerutkan kening bingung. Ia tak mengerti mengapa Riana memerlukan buku aneh seperti itu, hanya untuk mengungkapkan perasaannya.
"Ngapain sih, lo harus make buku gituan segala. Lo kan cuman tinggal ngasih tahu doang perasaan lo ke cowo itu."
Aurel tahu jika Riana bisa dikategorikan memiliki wajah cantik. Apalagi, prestasi Riana yang sangat gemilang. Dan hanya pria bodoh yang mau menolaknya.
"Masalahnya, gak semudah itu buat tinggal ngomong aja. Ini tuh pertaruhan yang serius dan gue gak boleh sampai gagal!" tegas Riana.
Aurel mengerjapkan mata melihat kesungguhan sahabatnya. "Emangnya lo suka banget yah sama dia?
Riana menggelengkan kepala, ekspresinya mendadak berubah sayu.
"Ditolak itu sakit banget, Rel. Gue rela deh mindahin gunung ataupun nguras lautan demi ngehindarin yang namanya PERASAAN SAKIT KARENA DI TOLAK SAMA COWO!!!"