#1 Aku dan Dea

8 0 0
                                        

Mobil SUV hitam yang Lea kendarai merapat memarkir mobilnya tepat di halaman rumah bercat biru dengan tiang-tiang coklat. Saat itu langit bersih tak tersaput awan, terik mentari membakar apapun yang ada di bawahnya.

Orang-orang dengan pakaian putih sudah  berkerumun di halaman masjid yang hanya berjarak tiga puluh meter dari tempat Lea memarkir mobil. Mereka yang bekerumun terlihat banyak menggurat wajah tak percaya. Satu dua dari mereka sesekali menggeleng sambil berbincang.

Lea melangkah menuju kerumunan tersebut dengan kain hitam membalut kepala dan wajah tertunduk, berusaha menahan air dari pelupuk. Ia berusaha mencari sesosok perempuan di kerumunan itu. lalu, ia menyibak kerumunan tersebut dan menemukan sosok perempuan yang ia cari. Seorang wanita yang tergugu dalam duduknya.

Kak Dea, wanita berusia tiga pulu tahun yang berduka karena harus kehilangan sosok yang amat disayanginya dalam sekejap.
Tanpa suara Lea merengkuh tubuh wanita itu. Matanya terpejam. Tak terasa air mengalir di pipinya. Tangis wanita itu pecah semakin menjadi. Kain penutup kepalanya jatuh melingkar di leher.

“Le, Mas Reza…” Ucap wanita itu parau.

Yang diajak biacara hanya diam. Dekapannya semakin erat. Pipinya deras mengalir air mata. Dadanya sesak harus membayangkan kakak perempuan satu-satunya harus menerima kenyataan sepahit ini.

Disampingnya terlihat duduk dua malaikat kecil yang terlihat bingung dengan situasi ini. Si kembar. Gaza dan Giza. Mereka duduk tepat disamping Bundanya. Menatap datar orang-orang yang datang menyalami Bunda dan mengucap belasungkawa. Mencoba memberikan kata-kata penguat untuk sang Bunda dan diri mereka. Tidak ada air mata yang jatuh di pipi Si Kembar. Tapi tergurat jelas di wajah mereka ada duka yang amat dalam.

Usia mereka baru berbilang lima tahun. Di saat usia itu seharusnya menjadi waktu terbaik membentuk kedektaan dengan Ayah. Tapi, mereka justru harus kehilangan sosok itu secepat ini. Takdir memang sering kali datang tanpa aba-aba, memberi kejutan. Memaksa penerima menjalaninya tanpa bisa memilih.

Saat tatapan Lea berpagut dengan Si Kembar. Ia melepas pelukannya dan memeluk kedua malaikat kecil itu. Tuhan, mengapa takdirMu begitu cepat merebut kebahagiaan mereka.

“Tante Lea malam ini tidur di sini ya?” Tanya Giza sambil menatap nanar.

Yang ditanya mengangguk halus.

Di hadapan mereka sudah terbaring sosok lelaki yang amat Dea sayangi terbalut kain putih. Memejam. Kaku.

“Pemakaman sudah siap Buk” Ucap seorang lelaki yang mungkin adalah salah satu yang ikut mengurusi jenazah Mas.

Mendengar itu Lea membantu Kakaknya berdiri. Bersiap untuk ikut mengantarkan Mas Reza ke tempat peristirahatannya yang terkahir. Si Kembar mengekor Bundanya di belakang.

Mereka semua pergi menuju pemakaman. Dan si kembar ikut naik bersama ambulance. Sedangkan Lea membawa mobilnya sendiri. Sirine terdengar menyalak di sepanjang perjalanan. Mobil-mobil kerabat beriringan mengikuti di belakang ambulance.

Sesampainya di pemakaman ada beberapa orang yang membantu penguburan jenazah. Lea berdiri tepat di samping kakaknya dan Si Kembar di barisan belakang dari pusara. Kakaknya tidak kuat untuk berdiri, akhirnya ia duduk di bangku plastik yang disediakan bersama Si Kembar.

“Aku mau liat ayah, aku mau liat ayah” pinta Gaza maju merangsek ke kerumunan orang-orang yang sedang menurunkan jenazah ayahnya ke liat lahat. Giza mengekor saudaranya di belakang sambil membawa keranjang kembang.

Mendengar Gaza mengucap seperti itu tangis wanita di sebelah Lea kembali pecah. Bukan hanya wanita itu tapi, Lea pun kembali basah.
Setelah pemakaman selesai. Bunga-bunga ditabu diatas pusara. Satu demi satu tamu yang datang melayat pergi. Menyisakan mereka berempat. Menatap bisu batu nisan yang tertancap diatas tanah basah. Dengan isak tangis Dea yang tedengar pilu.
Matahari sudah mulai longsor, memberi semburat jingga yang indah. Angin menerpa wajah dengan lembut.

“ Ka ayok” Lea menyentuh bahu Dea mengajaknya untuk pulang
Dengan langkah gontai Dea beringsut jalan menuju mobil. Mobil SUV hitam itu pergi meininggalkan pemakaman. Melaju membelah jalanan dengan senyap.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 12, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

TentangStories to obsess over. Discover now