Mentari

9 4 0
                                        

Kring .... Kring ....

Bunyi alarm telah mengisi sepi nya kamar milik seorang gadis yang sedang bergelut nyaman dengan selimutnya. Matanya seakan enggan tuk terbuka, bahkan cahaya hangatnya matahari telah menambah nyaman pagi ini.

Byurr

Selalu setiap saat menjelang pagi wanita paruh baya ini menyiram anaknya dengan seember air, seakan tiada rasa iba sedikit pun dihatinya.

"Hey! enak banget ya jam segini masih bisa tidur. Bangun atau saya seret kamu ke kamar mandi?" ucap Rindi sambil berkacak pinggang didepan wajah sang anak.

"Iya, iya. Pagi-pagi udah main siram aja," ucap seorang gadis cantik yang sudah bangun dan berjalan menuju kamar mandi miliknya.

Gadis ini adalah Mentari Salsabiranisa, gadis cantik yang harus bekerja keras agar bisa bersekolah dengan membiayai dirinya sendiri. Orang tuanya sudah lama meninggal dan kini ia harus tinggal bersama Ibu tirinya dan Adik tirinya yang juga bersekolah disekolah yang sama dengannya. Sebenarnya Ayahnya sudah meninggalkan beberapa aset kekayaan untuk biaya hidup anaknya dan istri barunya itu, namun karena Rindi yang serakah maka Mentari tak pernah bisa menikmati warisan yang diberikan Ayahnya.

Pagi ini Mentari sudah siap dengan seragam yang digunakannya, ia turun dan berjalan ke meja makan untuk sarapan. Namun semuanya hanya ilusi dimeja makan yang besar ini pun tidak ada sedikitpun makanan yang tersedia, begitu menyedihkan setiap pagi Ibu tirinya itu tidak pernah memberinya makan jangankanakan uang jajan pun ia harus mencari sendiri dengan cara harus bekerja di tempat temannya.

Sudahlah bagi Mentari semua ini hal yang biasa, ia tidak terlalu memikirkan tidak sarapan pagi ini bahkan setiap hari pun selalu sama.

Mentari membuka pagar rumahnya dan berjalan kearah Halte Bus tempat biasa ia menunggu jemputannya, hari ini ia harus berangkat lebih awal karena ia harus piket kelas terlebih dahulu agar tak kena semprot oleh ketua kelasnya Beno yang sama sekali tak suka pada Mentari.

~~~~

Sekitar sepuluh menit Mentari sudah sampai disekolah nya SMA Patri Pancasila.
Mentari berjalan melewati koridor yang sudah ramai dengan para siswa perempuan yang sedang bergosip.

'Ehh itu si Mentari kan, yang Kakak tirinya si  Sandra tapi kayaknya Sandra gak pernah mau bilang kalau itu kakaknya'

'Iya tuh mungkin dia malu kali punya Kakak tiri kayak si Mentari , dia kan kerja di caffe yang disebrang jalan itu jadi pelayan'

Begitulah cibiran para siswa perempuan itu setiap hari selalu membicarakan Mentari yang bekerja di caffe dan selalu memuji Sandra adik tirinya yang sok polos itu.

Mentari bisa apa selain hanya tersenyum menanggapi semua penderitaan hidupnya. Mentari terus berjalan hingga ia sampai dikelasnya dan menemukan teman-temannya yang sudah selesai menyapu.

"Darimana aja lo? Jam segini baru sampe gak tau apa dari tadi kita capek nyapu sementara lo baru dateng, sengaja banget lo kayaknya dateng siang," titah Beno sambil membuang sapu ditangannya ke arah Mentari.

"Iya maafin gue, sebenernya gue udah berangkat pagi tapi karena nunggu Bis yang kelamaan." Mentari berjalan ke arah mejanya sambil mengambil sapu yang dilemparkan Beno ke arahnya tadi.

Seorang gadis mendekati Mentari dan membantu Mentari menyapu dan memunguti sampah.
"Gak papa Tar, kita juga baru piket kok"

"Udah Di biar gue aja yang ngambil sampahnya, lo duduk aja gentian gue,"

Dinda adalah satu-satunya temen sekelas Mentari yang tidak pernah menjauhinya seperti teman-temannya yang lain yang selalu bersikap sinis kepada Mentari."

Tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan Mentari dari kejauhan.

~~~~~

Jangan lupa guys dipencet bintangnya

Kasian  ya si Mentari😶

MentariWhere stories live. Discover now