Introduction

44 0 0
                                        

"Tuhan,
boleh ya aku mati saja?"

Doa yang sudah sejak umur 11 tahun Naomi pinta untuk dikabulkan, dan masih sampai saat ini sesekali ia panjatkan sebelum tidur.

Semakin dewasa, ia lupa rasanya merasa betul-betul bahagia. Menginjak di umurnya yang sudah di-25 tahun, ia mulai meragukan bahwa hidup bahagia itu ada.

Ia ingat, tidak lebih dari 5 hari lalu seseorang yang ia rasa penting dalam hidupnya mencemooh, menertawakan cita-cita Naomi, yaitu 'untuk hidup bahagia'.

"Kalau mau hidup ya tinggal makan aja", katanya.

Padahal kan, untuk hidup bahagia ada banyak hal yang harus dipenuhi. Sebetulnya, saat seseorang berkata bahwa bahagia itu sederhana, semua hanya tergantung perspektif belaka. Ambil contoh saat seseorang merasa bahagia hanya dengan dapat makan di tempat favoritnya, sebetulnya kan semua tidak semata-mata dapat didapat hanya dengan satu usaha.

Harus ada waktu yang tepat, harus dapat menimang pergi dengan siapa atau bahkan sendiri, dan terlebih harus ada materi.

Atau mungkin harus mengorbankan janji untuk akhirnya mengikuti keinginan kita sendiri.

Jadi, sebetulnya bahagia tidak sesederhana itu.

Naomi sadar betul akan hal tersebut, bahkan dari sejak ia kecil.

Ia ingat, sejak Sekolah Dasar dulu, saat teman-temannya bersiap sebelum ke sekolah, kebanyakan akan ada momen lucu saat mereka sulit dibangunkan orang tua mereka di pagi hari, atau saat mereka masih mengantuk dan harus mengancing seragam mereka, dan setelahnya akan ada sarapan lezat sebelum berangkat sekolah.

Tetapi, hanya sedikit momen tersebut terekam di ingatannya. Karena ia tahu betul, dirinya harus memikul tanggung jawab sebagai seorang kakak pertama diusianya saat itu.

Terpaut 5 tahun dengan adik keduanya, membuatnya memiliki 2 tahun bersama di Sekolah Dasar yang sama dengan adik lelakinya itu.

Kedua orang tua mereka harus bekerja. Ibu telah berangkat pagi-pagi buta, dan Bapak baru tiba saat Naomi baru bangun tidur.

Merasa tidak tega untuk merepotkan Bapak yang butuh istirahat, membuat Naomi kecil mengerjakan semuanya sendirian sejak kelas 3 Sekolah Dasar.

Dari bangun pagi, kemudian membangunkan adiknya. Mandi dan memandikan adiknya, lalu memakai seragam dan memakaikan seragam adiknya. Menyantap sarapan seadanya atau kadang tidak sama sekali apabila waktu sudah terlambat -lagian, wajar saja anak kecil bangun terlambat kan. Sampai dengan berangkat sekolah sendiri dengan kedua kaki mungilnya.

Sepanjang jalan menuju sekolah, tak pernah ia lepaskan genggamannya di jari jemari adik laki-lakinya.

Sampai saat dewasa ini, Naomi sadar bahwa segalanya butuh usaha. Segalanya butuh pengorbanan. Tetapi hingga diumurnya yang ke-25 tahun pun, dirinya masih suka menangis bahkan meraung.

Ia lelah menanti, menanti saat ia dapat betul-betul merasakan bahagia tanpa harus mengkhawatirkan apapun, khususnya materi.

Ia lelah harus menjadi yang berkorban di lingkungannya, bahkan tak sedikit ia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri.

Malam itu, sekali lagi ia berdoa, "Tuhan, boleh ya aku mati saja?".

Life.Stories to obsess over. Discover now