Kookie..., Jian ingin makan ice klim!" Sambil menggoyangkan tangan Jaekook ia memohon dengan binar matanya. Sedangkan yang diajak bicara hanya sibuk dengan gamenya tanpa memperdulikan Jian yang sedari tadi merasa terabaikan.
"Kookie..., Ayo ikut Jian beli es klim!" Jaekook menghela nafas, ia tak akan tahan bila Jian sampai memohon seperti ini. Apalagi melihat bibirnya yang sedari tadi mengerucut dengan mata puppy nya, sungguh membuat Jaekook gemas melihatnya.
"Kajja, kita pelgi... Kookie akan membawa Jian ke danau sambil makan ice klim!" Jian tersenyum lalu bersorak memeluk tubuh Jaekook erat. Jaekook membalas pelukan itu sambil terus menghirup wangi rambut Jian. Karena bagi Jaekook, rambut Jian mampu membuatnya nyaman.
.
.
.
"Waaaah..!! Selu sekali disini? Jian ingin mandi.." mendengar itu Jaekook merengut dan menahan tubuh Jian yang ingin berdiri.
"Tetap di tempatmu Jian, makan ice klim mu dengan tenang. Jangan mandi, airnya dalam!" Ujar Jaekook sambil merengut tanda tak suka. Jian yang mendengar ucapan Jaekook hanya bisa menunduk sambil memakan ice krimnya.
Setelah 10 menit mereka duduk, akhirnya ice krim mereka tandas tak tersisa. Jaekook memilih tidur dengan beralaskan tangannya yang bersilang menumpukan kepalanya. Baru saja Jaekook ingin berkelana ke alam mimpinya, terdengar suara isakan lirih dari samping kanannya. Ia sontak duduk dan menoleh ke arah Jian. Dan benar, ternyata Jian menangis dalam diam. Isakannya begitu lirih tapi mampu membuat Jaekook yang mendengarnya merasa sakit dan matanya tiba-tiba ikut memanas. Sesaat kemudian Jaekook ikut menangis sambil mengucek kedua matanya.
Jian dengan isakan kecilnya mendongak mendapati Jaekook yang menangis semakin kencang, lalu Jaekook merasakan ujung bajunya ditarik pelan ternyata itu Jian. Ia menarik baju Jungkook dengan bibir mengerucut dan pipi yang telah basah karena air mata. "Kookie.., jangan nangis dong! Jian takut kalo kookie nangis...jangan sedih-sedih huwaaa..." Setelah mengatakan itu Jian kembali menangis, kali ini lebih parah. Jaekook mendongak dan memeluk tubuh mungil Jian, menghirup rambutnya sayang.
"Sudah-sudah, Jian jangan nangis-nangis...kookie tidak suka. Jian lebih cantik jika tersenyum.."
"A-abisnya tadi ko-kookie memalahi Jian, Jian takut kookie!" Jaekook tersenyum lalu menunjukkan jari kelingkingnya. Jian mengernyit bingung..."ayo kita janji, jangan sedih-sedih lagi dan saling menyayangi?!" Seperdetik kemudian, Jian menautkan kelingkingnya dengan kelingking Jaekook.
"Jian menyayangi kookie!"
"Kookie juga menyayangi Jian, sangat-sangat!" Keduanya tertawa sambil terus berpelukan dengan Jaekook yang senantiasa menghirup wangi rambut Jian.
.
.
"Kookie masih inget kejadian itu?" Tanya Jian dengan memakan lahab baksonya.
"Ya iyalah, siapa yang nggak inget orang kamu nangis kenceng banget!" Jian mendecih tak suka sambil mengerutkan bibirnya.
"Apaan sih kookie, udah ah aku pulang aja...males sama kookie. Gausah kamu kerumah aku lagi!" Jian menghentakkan kakinya sebal dan pergi dari hadapan Jaekook dengan hidung yang sudah sedikit memerah.
Sedangkan Jaekook hanya terkikik geli dengan sifat Jian yang tak berubah dari dulu. Selalu cepat ambekan dan berakhir menangis.
"Jian..Jian, kamu dari dulu selalu bisa bikin aku senyum dan gak tega ngeliat kamu menderita.." setelahnya Jaekook langsung mengikuti Jian dari belakang, karena Jaekook yakin jika Jian masih marah dan sebal kepadanya.
YOU ARE READING
Secret Love with My Kookie
FanfictionL agi, lagi dan lagi kita bertemu karena sebuah ketidaksengajaan yang membuat kita terjebak dalam status yang tak bisa kita ubah. Sahabat, kata itu sangat sulit untukku ubah menjadi pasangan hidup. Bagaimana tidak, jika aku salah bertindak maka semu...
