Manusia-manusia yang Suka Menunduk

8 0 0
                                        

//Mau kubelikan minyak urut?
Barangkali lehermu terasa pegal karna terus menunduk.
Atau jangan-jangan telah patah?//

_____

Sore ini aku kembali menyusuri trotoar. Melangkah pelan saat jarum jam dalam mesin waktu di pergelangan tanganku terus berputar. Jam kuliahku sudah terlewatkan dan saatnya duduk santai sambil meminum americano kesukaanku di kedai langganan.

Dari kampusku, hanya membutuhkan waktu lima menit lamanya dengan berjalan menyisi jalan, sebuah gedung berdinding kaca akan menyambutku dengan aroma pastry yang kentara sekali.

Sudut Sendu namanya.

Mulanya aku merasa tertarik pada kedai ini yaitu saat Sudut Sendu pertama kali beroperasi dan membuka diskon besar-besaran. Hingga sampai sekarang usianya sudah dua minggu, americanonya sungguh membuatku kecanduan.

Barangkali yang membuat tempat itu menjadi tempat favoritku bukan karna makanan dan minumannya yang luar bisa enak saja, melainkan juga akses wi-fi gratis bagi pengunjung tanpa kecuali. Ayolah, nikmat apa lagi yang lebih indah selain itu bagi para manusia yang kecanduan dunia maya sepertiku.

Strategi pemasaran yang seringkali diterapkan kedai-kedai makanan seperti Sudut Sendu seolah menjadi magnet andalan untuk orang-orang yang gemar menarik-ulur layar ponsel. Jangan naif, di era modern seperti sekarang, siapa sih yang tidak memakai internet? Dan siapa yang mau ketinggalan zaman?

Selain nuansa nyaman dan keren untuk berfoto, akses wi-fi yang mereka sediakan membuat kedai mereka menyandang penghargaan sebagai tempat nongkrong "kekinian" yang diburu remaja zaman sekarang.

Hanya dengan memesan secangkir minuman, kamu bisa mengakses internet sepuasnya. Tak ayal, kedai-kedai seperti ini nyaris tak pernah sepi pelanggan.

Niatku sore ini memang untuk meminum americano yang sejauh ini rasanya paling enak, menurutku. Tapi selain itu, ada sekitar tiga list film yang sudah aku catat dalam kepala untuk aku unduh tanpa harus menghabiskan paket data.

Aku mengamati riuh jalanan yang dipadati kendaraan. Lalu kembali pada ponselku yang berada di genggaman yang menampilkan aplikasi dengan logo burung berwarna biru. Thread horor ini sangat menarik, sungguh, sampai aku tak bisa berhenti untuk  terus membacanya hingga aku sampai di tempat tujuanku.

Ting...

Lonceng dengan gantungan penangkal mimpi di ambang pintu bersuara, seolah menyapaku yang baru saja datang. Terpaksa aku menaruh ponselku ke dalam saku dan bergegas menuju meja pesanan.

Tak butuh waktu lama untuk antre memesan sampai akhirnya aku memilih meja di sudut ruangan dan duduk menunggu americano kesukaanku datang. Meja itu masih kosong, jadi aku rasa akan aman ketika aku menempatinya.

Kuputuskan untuk kembali mengambil ponsel. Menyalakan wi-fi.

Sepuluh menit kemudian, aku mendongkak dan tersenyum begitu pria dengan apron coklat datang, menaruh gelas---yang semula dibawanya menggunakan nampan---di atas meja.

Aku mulai menyilangkan kaki dan sesekali menyeruput minuman itu. Sambil menunggu film-film selesai diunduh, aku memutuskan membuka twitter untuk melanjutkan membaca thread yang sempat tertunda, lalu melihat cuitan-cuitan receh hasil keresahan orang-orang. Ralat, mungkin saja hasil kegabutan. Kemudian beralih berselancar dalam aplikasi instagram. Menyaksikan keseharian teman-teman dunia mayaku yang terlihat menyenangkan. Liburan, memamerkan barang-barang baru yang mahal, dan juga membagikan foto kebersamaan dengan teman.

Manusia-manusia yang suka MenundukStories to obsess over. Discover now