Katanya waktu itu berputar
Berjalan tanpa acuh padanya yang ingin terhenti
Katanya cerita hidup akan berbeda
Sebagaimana takdir mengikuti
Tapi ku rasa,
Itu hanya sebuah perumpamaan
Kata penenang dari sebuah harapan
Andaikata ada jalan terbuka
Maka jawabnya adalah sia - sia
Andaikata ada cahaya menerangi
Akan ku pastikan ia padam segera
Andaikata ada yang lebih tajam dari menyakiti,
Maka akan ku kejar hingga aku mati.
~Dari aku, yang akan segera mati
Masih terekam jelas, untaian kata yang ia buat secara asal. Seperti dugaannya, tidak meleset dari apa yang prediksikan.
Lagipula memang iya, selain hal itu tidak ada lagi hal lainnya yang datang. Itu, itu dan selalu itu. Tidak ada hal baru dan tidak akan pernah ada.
Seperti telah terbiasa dengan ceritanya, tubuh serta syaraf - syarafnya terasa kebas.
Dia terkekeh pelan, menatap setiap sudut ruang kecil yang bersih dari segala benda yang dapat mempercantiknya. Hanya ada satu buah ventilasi, pintu, satu lampu, serta kasur berukuran satu badan yang tergeletak di salah satu sudut.
Ah, dia menginginkan yang lebih kecil dari ini. Seperti tempat di dekat pembuangan limbah misalnya, yang menguarkan bau menyengat dan mengandung zat kimia berbahaya. Tapi sayangnya, dia tidak bisa berada disana.
Kedua kakinya tertekuk di depan tubuh dengan tangan yang memeluk kakinya, sesekali tubuh itu bergoyang - goyang kecil. Ada yang dirinya tunggu, dan tentu tak sabar ingin berjumpa. Ya, karena setelah perjumpaan itu dia tidak akan seperti ini lagi.
Pintu dengan cat minyak coklat itu terbuka, derap langkah kakinya terdengar sedikit menggema di ruangan itu. Tubuhnya ia dudukkan pada lantai putih nan dingin tanpa alas itu, dengan perlahan tubuhnya mendekat.
"Apa kabar?" Seseorang itu memulai percakapannya.
"Kenapa malah kamu yang datang? Aku udah bilang kalo bukan dia, jangan masuk!" Jawabnya dengan ketus.
"Dia belum waktunya kesini,"
Dia menghela napasnya, "Lama sekali." Keluhnya.
"Aku sudah menunggu lama, mengapa dia tidak datang juga? Apa aku kurang sabar?" Lanjutnya lagi, seakan pertanyaan itu telah lama tersimpan di benaknya.
Seseorang itu menghela napasnya, "Ayo keluar dari sini!"
Dia menoleh, matanya menelisik dalam seperti tengah mencari tahu maksud dari ajakannya itu.
"Tidak!" Jawabnya lugas.
Lagipula tidak ada yang di inginkannya selain dia, tidak ada kebutuhan di luar sana yang ia cari. Untuk apa keluar?
"Tapi–"
"Tidak ku bilang!" Dia memotong pembicaraan orang itu dengan cukup lantang.
"Jangan berani menyuruhku untuk keluar lagi!" Lanjutnya dengan nada tak ingin dibantah.
_______
Baiqq,
Assalamu'alaikum semuanyaaa
Aku bawa cerita baru dan juga genre baru.
Agak susah sebenernya pindah genre, harus banyak baca dan latihan tulis tulis alur dulu.
Dan jadilah sekarang....
Dia yang dimaksud itu siapa kira kira? ^^
Semoga cerita baru ini bisa banyak menginspirasi untuk siapapun yang baca.
Oke, jangan lupa dukung ceritaku dengan vote dan comment ya! :D
Penasaran gimana ceritanya? Yuk simpan cerita ini di perpustakaan dan reading list kalian, follow akun ku juga ya biar bisa dapet info baru dari akuuu.
Tetap jadikan Al-Qur'an sebagai bacaan utama kalian yaaa🤗
Ketemu lagi di part 1 ya ^^♥
YOU ARE READING
Pukul Dua Siang
SpiritualWaktu adalah kapas dan pisau secara bersamaan. Jika kamu menikmatinya, ia akan sangat berharga dan kamu akan menjaganya seperti sebuah kapas yang tertiup angin sedikit maka terbang dan menjauh. Lalu jika kamu membencinya maka akan seperti luka seti...
