QUEENZEA

12 0 0
                                        

Komen disetiap paragraf nya.....



"ZEA!!"

Gadis berambut ombre yang tengah duduk di ruang tamu menoleh menatap ke pintu utama. Terlihat empat orang gadis dengan warna rambut yang berwarna juga ada yang tetap hitam tengah menatap dirinya. Salah satu dari tatapan mereka menatap tajam gadis berambut ombre itu, sedangkan yang ditatap hanya menatap balik datar.

Saat mereka sudah mendekati gadis berambut ombre, gadis berambut coklat yang menatapnya tajam tadi berkacak pinggang.

"Sekali aja gausah kesana bisa nggak sih!?" Tanyanya dengan nada tinggi. Gimana gak marah coba? Temannya ini selalu mengajak mereka ke tempat maksiat jika dirinya ada masalah.

Bukannya takut, gadis berambut ombre itu tersenyum sinis. Ia menoleh menatap gadis berambut coklat. "Lo nggak ada hak buat ngatur hidup gue!!"

Gadis berambut ombre tadi berjalan meninggalkan mereka diruang tamu menuju ke kamarnya yang berada dilantai atas. Sempat gadis berambut coklat akan protes dan mengejar temannya tapi lengannya ditahan oleh temannya yang lain.

"Udahlah Dys, daripada Zea ngamuk," ucap gadis dengan rambut pirang pada beberapa helai.

"Kita bisa bicara baik-baik sama dia nantinya," lanjutnya.

"Michel bener Dys, gue tau Zea emang keras kepala. Tapi gue yakin dia bisa dengerin omongan kita nantinya," setuju gadis berambut hitam sepenuhnya.

"Dan lagi lo kalo mau negurin dia jangan pakai nada tinggi. Emang cuma lo diantara kita yang berani sama Zea. Ya.. walaupun gak sepenuhnya," ucap gadis lain yang juga berambut hitam.

Akhirnya Gladys menganggukan kepalanya pasrah. Ucapan ketiga temannya memang ada benarnya. Gladys bersyukur bisa mempunyai teman seperti mereka.

Mereka berlima berteman sudah cukup lama. Dimulai dari Zea, si rambut ombre. Dia berteman sudah cukup lama dengan Michel dan juga Gladys, bisa dibilang saat mereka masih kecil. Dan lagi, Gladys itu sepupunya, jadi itulah sebabnya cuma Gladys yang berani menegur Zea dari yang lainnya. Sedangkan dua yang lainnya yang berambut hitam sepenuhnya, mereka berteman saat pertama kali masuk SMA dan saat ini mereka sudah kelas XII. Mereka bersekolah di SMA Albert's  HS.

"Gue pingin Zea kayak dulu."

***

Suara dentuman musik yang keras menggema diseluruh ruangan ditambah dengan lampu disko. Bau alkohol dan sejenisnya sudah bercampur didalam ruangan tersebut. Sudah bisa ditebak tempat apa ini.

Empat orang gadis setengah melingkar dengan keadaan yang sepenuhnya sadar mencoba menyadarkan salah satu teman mereka yang sudah hilang penuh kesadarannya.

Sudah 4 jam lamanya mereka berada disini dan malampun semakin larut melihat sekarang sudah menunjukkan pukul satu malam. Mereka masih menemani teman mereka yang sedang mabuk karena permasalahan yang sama. Mereka turut prihatin dengan teman mereka yang sudah mabuk sepenuhnya, walaupun sudah mabuk parah tapi ia masih minum minuman beralkohol tersebut, padahal ke empat temannya sudah mencoba menghentikannya.

"Ze," panggil salah satu gadis berambut coklat memegang bahu temannya yang sudah hilang sepenuhnya kesadarannya.

"Hmm." Gadis berambut ombre itu hanya berdehem pelan saat dirinya dipanggil. Matanya terpejam dengan tangan kanannya memegang kepalanya yang sangat pening, sedangkan tangan kirinya memegang gelas berisi minuman beralkohol.

"Pulang yuk, lo udah mabuk berat ini," titah gadis tadi dibantu ke tiga tempatnya. Sungguh mereka prihatin dengan keadaan teman mereka yang dipanggil 'Ze'.

"Kenapa?" Dia bersuara dengan posisi yang masih sama.

"Kenapa bokap gue lebih mentingin kerjaannya."

Gadis berambut ombre itu menoleh menatap temannya berambut coklat. "Kenapa Dys? Kenapa? Jawab gue Gladys!!" suaranya semakin tinggi membuat temannya menatapnya iba.

"Gue anaknya, bukan berkas sialan itu!! Gue bersumpah..bakal bakar semua berkas-berkas itu!!"

"Ya harus gue singkirin." Ia tertawa sinis, kemudian memegang kembali kepalanya yang sangat pening.

Gadis yang bernama Gladys itu memegang kedua bahu temannya yang berambut ombre. "Sadar Ze! Sadar!!" ia mengguncang bahu nya cukup kuat.

"Tolol lu.. orang mabuk mana sadar!" celutuk Michel yang berdiri tepat disamping Gladys.

"Diem anjing!" Gladys menatap tajam Michel. Bukannya membantu menyadarkan malah mengumpat dirinya. Rasanya ingin sekali menendangnya jauh ke Antartika.

Michel yang ditatap tajam bukannya takut, ia malah semakin melototpada Gladys. Dan terjadilah pelotot-pelototan antara Gladys dan Michel. Sedangkan dua yang lainnya menggaruk kepala mereka tak gatal. Satu masalah belum selesai, mereka malah main pelotot-pelototan.

"Hahahaha..." Gadis berambut ombre itu tertawa cukup keras membuat ke empat temannya menatap aneh dirinya. Mereka mengusap wajah mereka secara kasar. Inilah akibatnya jika mereka menuruti kemauan dia untuk pergi ke tempat maksiat ini. Kalo sudah begini siapa yang susah, pasti mereka kan? Tapi jika mereka tak menurutinya mereka juga yang kena dampaknya.

"Ze! Cukup Ze! Sadar!! Astaga!! Woy bangun!!" Cukup Gladys muak dengan temannya ini ia harus segera mengajaknya pulang.

"Mending kita anterin dia pulang daripada lo teriak-teriak gajelas, percuma dia mabuk berat," usul gadis berambut hitam.

"Benet tuh kata Tiara. Buruan sebelum Zea ngamuk anjir. Ngeri tauk." Pendapat gadis yang bernama Tiara tadi disetujui oleh gadis berambut hitam yang lain bernama Lusi.

"Makanya bantuin. Bacot mulu!!"

"Ye.. sans dong Dys. Lo ketularan galaknya kayak Zea."




JANGAN LUPA VOMENT

INI CERITA KETIGA AKU, SEMOGA KALIAN SUKA

BAGUS GAK SIH MENURUH KALIAN

AYOK KOMEN DISINI

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 07, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

QueenzeaWhere stories live. Discover now