Prolog.

7 0 0
                                        

"Aku tidak ingin menyakitimu lebih lama lagi, Ra. Aku tidak ingin membuatmu terluka lebih dalam lagi." Seokjin menatap Yura dengan sendu. Tampak perasaan bersalah yang terpancar jelas dari matanya.

Dengan tangis yang tertahan, Yura mencoba tegar menghadapi kenyataan yang harus diterimanya. Kenyataan bahwa hubungannya dengan Kim Seokjin, kekasihnya selama tiga tahun terakhir, harus berakhir dengan sesakit ini.

"Apa kau tau Kim Seokjin? Aku selalu berdoa pada Tuhan, agar selalu menjaga hubungan kita. Karena aku selalu ingin bersamamu." Yura mengatakan itu semua dengan air matanya yang terus jatuh membasahi pipinya.

Seokjin semakin merasa bersalah, sejujurnya ia sangat menyayangi Yura, gadis mungil itu terlalu berharga untuk disakiti. Tapi ia juga tidak bisa membohongi perasaannya, bahwa Kang Seulgi masih bertahta di hatinya.

Seulgi bukan hanya gadis yang ia cintai ketika ia masih sekolah dulu, Seulgi adalah cinta pertama Seokjin. Seokjin sudah akan menjadikan Seulgi kekasihnya jika saja jarak dan waktu tidak memisahkan mereka. Seokjin benar-benar hancur ketika harus berpisah dengan Seulgi. Seokjin butuh waktu cukup lama untuk menata hatinya kembali. Ia seperti kehilangan semangat hidupnya ketika ditinggalkan oleh Seulgi yang harus mengikuti orang tuanya pindah ke Kanada beberapa tahun lalu.

"Aku hanya tidak ingin kau terluka lagi, Ra. Aku tidak ingin gadis sebaik dirimu mendapatkan lelaki brengsek seperti diriku."

"Kau menyakitiku, Jin. Sangat." Yura menangis pilu, ia menunduk, hatinya tidak akan pernah bisa untuk menerima perpisahan ini. Jika bisa, Yura rela melakukan apa saja agar hubungannya dengan Seokjin baik-baik saja.

"Maafkan aku, Ra." Hanya itu yang bisa Seokjin ucapkan.

"Lepaskan aku dengan ikhlas ya, Ra?" ucap Seokjin yang lebih terdengar seperti sebuah permintaan.

Yura menghela napasnya lelah. Ia mengangkat kepalanya dan memberanikan diri untuk menatap Seokjin yang kini tengah menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa Yura baca.

"Kau dengarkan aku baik-baik ya, Jin?" ucap Yura lirih

Seokjin hanya diam sebagai jawaban.

"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa melepaskanmu, Jin. Aku tidak akan pernah bisa untuk merelakanmu pergi dengan perempuan lain. Aku tidak bisa." Yura kembali terisak, ia berhenti sejenak dan tangisnya kembali terdengar memilukan.

Seokjin memegang bahu Yura, matanya terpejam sesaat. Entah bagaimana, hatinya terasa begitu sakit melihat Yura menangis seperti ini. Tapi Seokjin juga tidak bisa membohongi Yura terus menerus. Seokjin tidak ingin menyakiti Yura lagi.

"Yura..."

"Tolong jangan pernah memintaku untuk melepaskanmu, Jin. Aku mohon."

Seokjin menarik Yura ke dalam pelukannya, ia benar-benar tidak tega melihat Yura sehancur ini. Tapi ia tetap harus mengakhiri hubungan mereka. Seokjin yakin kalau Yura bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dibandingkan dirinya. Ya, Seokjin yakin akan hal itu.

Seokjin melepaskan pelukannya pada Yura, dengan kalimat terakhir yang ia ucapkan, perpisahan itu pun terjadi. Tentunya hanya Seokjin yang menginginkan perpisahan itu, tidak dengan Yura.

Seokjin menghela napasnya dalam. Ia sudah yakin dengan keputusannya itu.

"Maaf, tapi aku tidak lagi bisa mencintaimu, Hyun Yura. Maafkan aku, semoga kau bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dariku. Semoga kau bisa mendapatkan seseorang yang bisa mencintaimu lebih dariku. Maafkan aku, maaf." Seokjin berlalu meninggalkan Yura yang masih terus menangis.

Akan lebih baik begini, aku tidak ingin menyakitimu lebih lama lagi, Yura. Maafkan aku. Seokjin berucap di dalam hatinya. Berusaha meyakinkan dirinya kalau apa yang baru saja ia lakukan adalah hal yang benar.

Yura menyaksikan kepergian Seokjin dari apartemen nya dengan tangisnya yang semakin terdengar menyakitkan. Yura terduduk lemas di depan pintu apartemen nya. Menangis sejadi-jadinya.

"Aku masih sangat mencintaimu, Jin." Yura memeluk kedua lututnya kemudian menjatuhkan wajahnya di kedua tangannya.

You Hurt Me; but I love u. Stories to obsess over. Discover now