Hari itu tampak biasa. Kamu yang terbangun di pagi hari, dan memilih untuk menyeduh kopi. Tidak, bukan tertidur. Kamu hanya memejamkan matamu sebentar, dan kembali melanjutkan rutinitas untuk meraih impian.
Ketika kamu membuka sebentar sosial media, kamu melihat twibbon para maba. Yang tampak tersenyum bangga, dengan berhasilnya mereka masuk di kampus ternama. Kamu ikut bahagia melihatnya, namun juga terbersit rasa rendah diri disana. Dapatkah kamu bergabung menjadi salah satu dari mereka? Mereka yang berhasil mewujudkan mimpinya.
Mencoba menghilangkan pikiran buruk dan berusaha optimis, hingga kedua orang tua mu menghampiri. Ayah memberimu sepatah-dua patah kata, lantas menanyakan apa yang telah kamu pelajari selama ini. Sedangkan ibumu berkata, jika ayahmu sudah memberimu fasilitas, namun mendengar kata-kata ayah saja kamu tidak bisa. Kamu malah menangis dihadapan mereka. Tidak ada yang menayakan "Kenapa", mereka tidak perduli tangisanmu. Yang mereka bingungkan, apa timbal balik dari fasilitas yang telah mereka berikan. Jutaan uang untuk menunjang pendidikan, tapi kamu nampaknya masih tidak ada pencapaian.
Dikamar, tangisanmu semakin menjadi-jadi. Kamu sedih karena tidak ada yang perduli. Di sisi lain, percuma saja jika kamu bercerita. Tak ada yang mengerti.
Tak ada yang mengerti kenapa kamu tersadar di tengah malam. Tak ada yang mengerti, kenapa kantung matamu semakin menjadi-jadi . Tak ada yang mengerti, kenapa kamu tampaknya semakin kurus saja. Padahal selama beberapa bulan ini kan kamu sekolah dirumah. Tidak ada yang mengerti, atau mencoba mengerti. Jika selama ini, secara tidak langsung, kamu dituntut untuk mewujudkan banyak ekspentasi.
Suatu hari, ketika kamu merasa pikiranmu sedang mumet sekali. Kamu memilih memanjakan dirimu sendiri, tapi mereka justru menganggapmu tidak perduli dengan masa depanmu nanti. Kamu dianggapnya lalai dan mulai diragukan.
Dilain sisi, kamu mecoba memahami mati-matian hal yang sebenarnya ada di luar jangkauan. Kamu kesal sendiri, kenapa kamu tak kunjung paham. Kamu merasa gagal, dan merasa mungkin salah dalam teknik belajar. Padahal sebenarnya kamu punya potensi yang lain, namun kamu lebih terpaku pada materi dan nilai.
Saat itu kamu merasa kecewa dengan dirimu sendiri, bahkan sangat benci. Kenapa hal seperti ini saja tidak kamu mengerti. Padahal kamu sudah berusaha, tapi hasilnya tak jauh berbeda.
Ketika kamu memejamkan mata, teringatlah kamu dengan hobi mu sendiri. Hobi yang tak hanya membuatmu merasa senang, tapi juga merasakan keberhasilan. Kala itu, kamu berhasil memenangkan perlombaan, orang tuamu senang. Tapi.. tidak ah. Rasa-rasanya, orang tua mu akan lebih bahagia jika kamu mendapat nilai bagus disekolah dan masuk kampus ternama. Buktinya, mereka masih saja membandingkan dirimu dengan si ranking 1. Kemudian kamu membuka mata, menatap tumpukan buku dihadapan. Rasanya, kepalamu penuh, pundak sangat berat, dan kamu merasa bingung.
Sebenarnya, kamu tuh mau kemana?
Sebenarnya, tujuanmu tuh apa?
YOU ARE READING
Cuma Cerpen
Short StoryKumpulan cerita random buat kamu yang malas baca banyak kata.
