Prolog

69 4 0
                                        


Ada satu hal yang selalu ingin kukatakan padanya sejak dulu—sesuatu yang begitu sederhana, namun terasa berat diucapkan dengan kata-kata. Keinginan ini sudah lama mengendap dalam hatiku, terpendam di antara rasa gengsi, kebiasaan diam, dan ketakutan akan terlihat terlalu lemah di matanya. Jujur saja, hingga detik ini, aku belum pernah benar-benar mengungkapkannya secara langsung.

Aku sering berusaha menunjukkan perasaanku lewat sikap, lewat perhatian kecil, atau lewat caraku menatapnya saat dia sedang tidak sadar. Dalam pikiranku, ungkapan itu tidak perlu disuarakan. Bukankah tindakan lebih jujur dari kata-kata? Tapi mungkin aku hanya bersembunyi di balik pembenaran. Mungkin sebenarnya aku hanya takut.

Kalau aku benar-benar mengatakan hal itu sekarang, aku bisa membayangkan dengan jelas reaksi wajahnya. Senyuman jahil khas dirinya akan muncul duluan, diikuti tawa pelan yang menyebalkan. Lalu, dia akan menatapku dengan mata jenaka yang menyiratkan kebanggaan, seolah berkata, "Akhirnya kamu ngaku juga." Dan tentu saja, aku akan kesal setengah mati. Malu juga, karena aku sudah membuka hatiku sepenuhnya pada seseorang yang dulu sempat kuanggap sebagai gangguan.

Ya, dulu aku memang menganggapnya begitu—mengganggu. Sosok yang selalu muncul di saat yang tidak kuinginkan. Seseorang yang seharusnya kuhindari karena terlalu ribut, terlalu bebas, terlalu jauh dari definisi orang yang kusukai. Tapi waktu berjalan pelan, dan diam-diam dia menjadi sesuatu yang terasa penting. Kehadirannya perlahan-lahan menjelma menjadi bagian dari hariku. Dan tanpa kusadari, ketidakhadirannya mulai menciptakan ruang kosong yang sunyi.

Aku mencoba merangkai kalimat ini berulang kali dalam kepala, tapi selalu berakhir dengan diam. Maka, biarkan aku menuliskannya sekarang:

"Terima kasih telah menemaniku di masa-masa sulit, saat dunia terasa runtuh dan aku merasa sendirian."
"Terima kasih sudah hadir sebagai cahaya di hidupku, ketika aku bahkan tidak tahu bahwa aku sedang berjalan dalam gelap."
"Terima kasih karena telah mengajariku untuk berani menyuarakan isi hati, untuk tidak takut mengekspresikan luka maupun cinta."
"Terima kasih karena mau memahami sisi gelap diriku, bagian paling getir yang bahkan aku sendiri tak sanggup terima sepenuhnya."

Aku tahu, saat membaca ini, dia pasti akan tertawa senang. Dia akan bangga bukan main, dan mengatakan dengan percaya diri, "Kamu memang nggak bisa hidup tanpa aku, kan?" Dan meskipun aku akan memutar bola mataku sambil mengeluh sebal, jauh di dalam hati, aku tahu dia tidak salah. Aku benci mengakuinya, tapi ya—hidupku memang jadi lebih berwarna karenanya. Tanpa dirinya, semua terasa sepi, datar, dan hampa.

Kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya tidak ada hal istimewa dari dirinya. Dia hanyalah anak laki-laki pembangkang, yang dulu terkenal karena sering bolos sekolah, suka bikin masalah, dan tidak pernah mau mendengarkan guru. Bahkan aku masih ingat jelas wajah malasnya setiap pagi, atau cara dia mengeluh soal pelajaran matematika seperti itu adalah musuh hidupnya.

Tapi entah kenapa, dari semua orang yang datang dan pergi dalam hidupku, hanya dia yang tertinggal paling lama di hati. Hanya dia yang sanggup membuatku marah, tertawa, menangis, dan merasa diterima dalam wujudku yang paling rapuh.

Maka, jika hari ini aku memilih untuk menyuarakan semua ini, itu karena aku hanya menginginkan satu hal—sesuatu yang sesederhana harapan seorang gadis pada seseorang yang sudah menjadi pusat hidupnya:

"Jangan pergi dariku."
"Jangan pernah menghilang dari hidupku."
"Karena dirimu adalah peta jiwaku—tempat di mana aku selalu ingin kembali, tempat di mana hatiku merasa pulang."

Lea, yang selalu merindukanmu.

Di Balik Jarak dan Dingin (Labirin hati Lea)Des histoires addictives. Découvrez maintenant