Setunggal

79 7 14
                                        

Gending Jawa mengalun merdu dari aula utama sebuah bangunan bak candi. Sekeliling bahkan sampai dalam aula dihiasi ornamen khas Jawa.

Sejak pagi tadi, sudah ramai di sana. Beberapa anak gadis berkebaya putih dengan lilitan kain batik tampak saling berbisik.
"Niku mbakyu," (itu Mbakyu)
"Oalah, ayu tenan," (oalah, cantik banget)
"Tapi ya, durung kawin! (Belum kawin!)"
"Katanya memang Mbakyu ngelawan Ki Purwo,"
"Ndak mau dikawinkan jarene (katanya),
"Oalah,"

Seorang gadis semampai dengan rambut yang rapi tersanggul berjalan anggun. Dialah pusat perhatian para anak gadis yang sejak tadi berbisik-bisik. Para anak gadis itu pun menundukkan kepala dengan takut saat sang gadis semampai melirik mereka. Namun, gadis bersanggul dengan kebaya merah marun itu malah memberi senyuman khasnya. Ia seakan tak peduli dengan bisikan murid-muridnya.

"Kelasnya durung dimulai?" ucap si gadis berparas cantik itu. Kulit sawo matang yang tampak halus bersinar mempunyai kesan cantik tersendiri darinya.

"Ndereng (belum)
..., mbakyu," jawab salah satu anak gadis yang sejak tadi ikut berbisik-bisik dengan temannya kikuk.
Mendengar jawaban anak itu, sang gadis cantik tampak heran. Dilihatnya beberapa buku yang tadi dibawanya dari rumah.

"Ibu ningendhi? (di mana?)" tanya si gadis semampai lagi.
"Dereng rawuh (belum datang) , mbakyu," jawab si anak gadis balik.

Buku di tangan si gadis langsung dieratkan ke dadanya. Senyuman kembali mengembang di bibirnya.

"Yowis (ya sudah), aku sing (yang) masuk," ucap si gadis sambil diikuti teriakan hore murid-muridnya. Tanpa menunda lagi, mereka akhirnya masuk ke dalam aula dan menduduki kursi-kursi kayu yang tersedia.

Awalnya suara bising akibat berebut kursi memenuhi aula, tetapi suara itu segera hilang karena deheman si gadis cantik. Dengan anggun, ia menaruh buku-bukunya di meja kayu depan aula. Memang, aula yang kental dengan nuansa Jawa itu tampak terlihat seperti sebuah kelas, bedanya hanya ukurannya lebih besar. Lagipula, bangunan tempat aula itu berada juga tak tampak seperti sekolah.

Di depan aula itu terpampang papan nama yang bertengger di langit-langit; "Pusat Pelatihan Purwosari; Obat Tradisional, Perawatan Tradisional, Ragam Kesenian Tradisional". Tertera pula tahun berdirinya tempat itu; 1936.

Sekarang, gadis cantik yang asyik bersama anak-anak gadis di dalam aula itu tengah berjalan ke depan para muridnya. Tampak anak-anak gadis itu kembali berbisik-bisik akan sosoknya.

"Iki, loh, Mbakyu Dara, duh, ayu tenan jeh," bisik salah satu dari mereka.

"Untung, ya, Nyai ra teko, (tidak datang) jadi iso (bisa) ketemu Mbak Dara," balas yang lain.

"Ayu, tapi durung kawin, sudah berumur niku,"

Mendengar bisikan lain dari muridnya, si gadis di depan-- yang dipanggil Dara oleh mereka-- berdehem kembali. Ia memberi aba-aba untuk mempersiapkan dan memulai kelas.

"Ini kelas tatakrama, sebelum kalian naik ke kelas tari, jadi jaga diri kalian di sini. Aku ndak mau mendengar kalian membicarakan hal di luar kelas. Paham?"
Pertanyaan Dara langsung dijawab oleh anggukan semua anak gadis di sana. Senyuman manis miliknya kembali mengembang. Kini, ia tampak asyik menjelaskan beberapa hal tentang unggah-ungguh (sopan santun) adat Jawa.

Setelah beberapa saat ia memberi penjelasan, Dara mempersilakan 'murid'nya untuk bertanya. Seorang anak gadis mengangkat tangan tinggi-tinggi. Ia pun melontarkan pertanyaan setelah dipersilakan.

DaraRintis (PROSES TERBIT)Where stories live. Discover now