Ke mana pun Janu pergi, pasti telinganya menangkap suara melengking milik cewek cebol yang hobi melompat-lompat itu.
"JANUUUUUUUUU." Itu contoh dan buktinya. Janu memijit pelan pangkal hidungnya, dia tengah berada di Perpustakaan kota, suara dan gerak-gerik gadis itu membuat fokus semua orang terganggu. Apalagi dia juga tengah dilibatkan.
"Janu, habis ini kita makan es krim, ayo!"
Hidung Janu mengerut, gadis ini terlalu sok akrab. "Aku nggak suka ice cream."
"Ah, gampang. Aku yang makan es krim, kamu temani saja sambil baca buku." Gadis itu menunjuk buku yang tengah Janu pegang, memang mau dia pinjam. "Di toko es krim langgananku juga ada makanan atau minuman lain. Kamu suka apa? Milkshake? Kopi? Wafel?"
"Aku langsung pulang habis ini."
"Kenapa? Cuaca hari ini lagi bagus buat jalan-jalan." Gadis itu mengikuti langkah Janu dengan melompat-lompat kecil. Kadang Janu berpikir apa gadis ini tidak lelah bergerak overaktif terus?
"Januuu! Kenapa enggak jawab? Ya sudah, aku ikut ke rumahmu, ya? Mamamu hari ini masak apa? Aku lapar." Janu mendelik. "Tenang, nanti aku bantu bereskan peralatan makannya."
Janu ingin menolak. Ingin mengusir. Tapi, siapa yang bisa mencegah gadis ini? Dia seperti mata-mata atau detektif yang bisa tahu apa saja dan bertindak apa saja jika itu berkaitan dengan Janu. Bisa saja Janu tinggalkan sendirian, segera pulang. Tapi nanti Janu tidak akan kaget ketika pintu rumahnya diketuk dan gadis ini pelakunya. Sama tidak kagetnya ketika gadis ini meneriakkan namanya di Perpustakaan Kota tadi, juga hari-hari sebelumnya ketika gadis itu tiba-tiba berada di sekitarnya. Gadis ini seperti penguntit, tapi tidak semenyeramkan itu.
Sesampainya di rumah, gadis itu langsung menghampiri Mama. Cerewet sekali, tapi kelihatannya mudah akrab dengan Mama. Tadi, ketika Mama bertanya 'siapa?' padanya, Janu terdiam beberapa saat, dia jawab apa? Penguntit? Si cebol bermulut mercun? Namun tiba-tiba gadis itu berkacak pinggang memelototi Janu, walau harus mendongak tinggi-tinggi.
"Janu! Kenapa lama sekali menjawab pertanyaan mamamu? Kamu lupa namaku, ya?" Ah ya, Janu memang tidak ingat nama gadis ini. "Namaku Kiyara, Janu! Ingat itu!" kemudian dia menoleh pada Mama dengan senyumnya. "Halo, Mamanya Janu! Namaku Kiyara. Kiyara dengan huruf Y di dalamnya."
Dan begitulah. Di hari-hari berikutnya, Janu menyesal tidak mengusirnya karena Kiyara makin giat mendatangi rumahnya. Dia telah menjadi kesayangan Mama.
Gadis kesayangan Mama itu tidak pernah lagi memperdengarkan suara memekakkannya dua minggu kemudian. Jangankan suara, batang hidungnya saja tidak tampak. Mama cemas, gadis itu tidak pernah Alfa sebelumnya. Nomornya tidak aktif. Akhirnya Janu dipaksa Mama mencari kabar, informasi, atau apa pun itu tentangnya. Mereka satu sekolah, Janu meminta alamat Kiyara dari teman sekelas gadis itu. Dari sana, Janu tahu mengapa Kiyara tidak datang ke rumah dan tidak meneror nama Janu. Kiyara sakit. Habis kecelakaan. Janu tidak tahu lengkapnya, yang dia tahu, jantungnya seperti berhenti berdetak sedetik saat mendengarnya.
Di siang harinya, begitu memberitahu Mama, beliau langsung memaksa Janu menjenguk gadis itu. Tidak peduli bahwa Janu belum sempat menaruh tas, makan, atau pun membuka kaus kaki. Mama khawatir. Dan Janu rasa, dia juga. Rumah Kiyara terletak di gang kecil. Janu harus berhati-hati agar tidak mengenai anak-anak kecil yang berlarian padahal motor-motor berkeliaran di sekitar mereka.
Janu dan Mama disambut oleh seorang nenek. Entah berapa usianya, yang jelas, jalannya sudah susah, membungkuk. Tua sekali. Kiyara berada di ruang tengah yang tidak seberapa luas. Terguling di kasur yang telah menipis dan kusam. Dia tersenyum melihat tamu yang datang. Tipis, tidak seperti biasanya. Matanya memandang kosong. Beberapa menit kemudian, Janu membeku ketika diberitahu gadis itu tidak lagi bisa melompat-lompat ceria, atau pun berjalan. Selimut pink bermotif bunga yang telah kusam itu menyembunyikan kaki kiri dan setengah kaki kanannya. Ya, dia tertabrak truk setelah pulang dari rumah Janu. Kiyara selamat, namun nasib pengendara ojek yang ditumpanginya tewas di tempat. Selamat, meski setengah kakinya hilang. Meski jejak-jejak luka di tubuhnya masih terlihat. Janu pamit keluar ketika merasakan panas, bukan hanya di badan, tapi juga di mata. Bukan karena udara, tapi emosi. Dengan gemetar Janu terduduk di motor yang diparkir di seberang rumah Kiyara.
Semua ini karena Janu. Gadis itu tidak bisa berjalan normal karena Janu. Janu tidak akan bisa melihatnya melompat dengan riang lagi. Kalau saja sore itu Janu mau mengantarkan Kiyara pulang dengan mobilnya, mungkin Kiyara tidak akan kecelakaan. Kiyara akan selamat. Binar gadis itu tidak akan hilang. Dia akan berbicara riang. Kalau saja~
Perasaan bersalah menggerogoti Janu sampai berbulan-bulan kemudian. Bahkan ketika gadis itu sudah belajar berjalan menggunakan tongkat, Janu masih merasa bersalah. Bahkan ketika Kiyara sudah terlihat bisa menerima keadaannya, Janu merasa bersalah. Janu menjadi penjaga Kiyara, ke mana pun Kiyara ingin pergi, Janu ada. Meski di dalam hatinya, Janu terus memaki dirinya karena dialah penyebab kecelakaan gadis ini, dia tidak pantas di dekat Kiyara.
Hari itu malam tahun baru. Kiyara ingin makan jagung bakar. Gadis itu meminta Janu membawanya ke lapangan tak jauh dari rumahnya. Tempat masyarakat di lingkungan rumahnya merayakan malam tahun baru. Ada panggung kecil di tengah lapangan, lagu dangdut yang terdengar berasal dari sana. Di sekeliling mereka, beberapa orang terlihat sibuk membakar jagung maupun ayam. Boleh diambil percuma. Anak-anak kecil berlarian dengan tangan memegang terompet mau pun jagung yang masih panas, berebut.
Kiyara duduk di ayunan, tongkatnya bersandar di pohon. Gadis itu tidak mau memakai kursi roda kalau tidak terpaksa. Janu di sebelahnya, duduk beralaskan akar-akar besar pohon entah-apa-namanya itu.
"Aku dikeluarkan dari ekskulku." Itu kalimat pertama Kiyara sejak duduk di ayunan ini. Janu tahu Kiyara mengikuti ekstrakurikuler menari, beberapa bulan belakangan Janu yang bertugas mengantarkan Kiyara ke ruangan menarinya. "Mereka bilang, aku enggak pantas ada di sana. Aku udah nggak bisa menari dengan benar. Berdiri seimbang saja aku enggak becus." Janu tergugu, ini pertama kalinya Janu mendengar suara lirih milik Kiyara. "Aku ... pasti menyusahkanmu ya, Janu? Maaf." Kiyara menoleh, dia menangis. Janu menggeleng kuat-kuat, sama sekali tidak menyusahkan.
Diam beberapa saat. Gadis di samping Janu berusaha mengatur emosinya. "Janu, aku tahu apa yang kamu pikirkan selama ini. Cara kamu memandangku. Bukan, ini semua bukan salahmu. Setelah kupikir-pikir, ini juga bukan salah pengendara truk maupun ojek yang kutumpangi. Bukan salah semesta. Ini, kakiku, ini semua namanya takdir. Aku dibuat begini supaya aku bisa kuat lagi. Kamu tahu Janu? Aku pernah menonton orang-orang yang tetap bisa menari meskipun dalam kondisi cacat. Kondisiku tidak seberapa. Aku bisa berlatih menggunakan kursi roda." Binar sedih di mata gadis itu telah berganti dengan semangat. Setitik sifat periang Kiyara telah muncul ke permukaan. "Janu, aku beruntung sekali masih diberi nafas sampai sekarang. Aku masih dikasih kesempatan."
Sekeliling mereka riuh. Ramai-ramai menghitung mundur. Terompet ditiup keras-keras. Kembang api telah bertemu langit di atas sana.
Kiyara tersenyum menatap langit. Janu terpaku, bukan karena langit. Sejak kapan mata Janu buta dengan senyum milik Kiyara?
Dan ketika gadis itu menoleh masih dengan senyumnya, Janu seperti laki-laki bodoh yang tergugup-gugup ketahuan memandangi gadis itu terlalu lama. Tapi gadis itu tidak menyadarinya, dia justru berujar, "Kamu mau menemaniku sampai aku bisa belajar menari menggunakan kursi roda, Janu? Sampai aku bisa membuktikan pada mereka kalau si gadis cacat ini bisa?" Dan Janu mengangguk. Nyatanya, dia mau menamani gadis ini sampai kapan pun.
"Kamu mau? Waaah, terima kasih. Mulai saat ini, kamu enggak boleh kesal saat aku panggil namamu lagi. Kamu juga nggak boleh diam saja saat aku panggil, ingat! Aku akan panggil nama kamu terus. JANUUUUU JANUUUU!" Gadis itu berseru-seru sebelum tertawa senang.
Janu ikut tertawa. Apa yang pernah Janu pikirkan sebelumnya? Gadis bermulut mercun? Tidak, gadis ini adalah kembang api. Seperti kembang api yang melesat cepat ke langit malam, seperti itulah hati Janu melesat cepat pada gadis ini. Letupan di atas langit sana membuat orang-orang bergemuruh. Sementara Janu tahu letupan dan debaran miliknya bukan berasal dari langit.
"JANUUUU! JANUUUUU, aku mau melihat kembang api setiap malam! Indah, bukan?"
Ah, kembang api milik Janu lebih indah. "Kamu kenapa suka sekali berteriak-teriak memanggil namaku?"
"Karena suka saja. Tidak ada alasan lain. Kamu belum jawab pertanyaanku. Janu, besok belikan aku kembang api. Aku mau melihatnya setiap malam!"
Janu tersenyum. Janu juga ingin melihat kembang apinya setiap malam. Gadis ini kembang apinya. Gadis ini begitu riuh seperti kembang api. Begitu berwarna. Janu tidak ingin kehadiran kembang api miliknya sama seperti kembang api di langit malam yang hanya sementara. Janu ingin selamanya. Selamanya bersama si gadis kembang api. Kiyara, dengan huruf Y di dalamnya.
-Selesai-
YOU ARE READING
Manusia dan cerita di baliknya
Short StoryDi dunia ini, banyak sekali cerita-cerita yang menghiasi hidup seseorang. Tak terhitung. Dan aku menuliskan beberapa di dalam sini. Selamat membaca.
