Entah sampai kapan aku harus berpura pura, tetap tegar mesti rasa sakit nyata adanya. Berharap waktu bisa kembali terulang, ketika aku bisa mengusap air matamu menggunakan tangan, dan meminjam tanganmu untuk menggambar sebuah bintang.
Harapan ku hanya satu, semoga kau masih mengingat ku. Sebab aku masih mengingat ombak yang datang membasahi kaki mu, dan senja dipantai waktu itu. Sempat bingung kenapa aku tersenyum melihat mata mu. Karena jauh dilubuk hati, aku merasa nyaman dengan tingkah mu.
Aku kira aku dan kamu selamanya, tapi waktu mengucapkan kata yang berbeda, semesta hanya mengizinkan kita berjumpa sementara. Hanya sekedar cukup mengenal, tapi tidak untuk saling menjaga. Hanya sekedar mengucapkan rasa, tapi tidak saling bertukar cinta.
Apakah kamu tidak ingin bertanya? Apakah aku sedih ketika ditakdirkan untuk kembali pulang? Aku akan menjawab dengan lantang, aku sangat terpukul dengan keadaan. Dimana aku hanya bisa merindukan, dan tersenyum sendiri setelah mengingat sebuah kenangan.
Aku bukan tuhan, aku tidak bisa mencintai mu secara berlebihan. Rasaku mempunyai batasan, punya gugup ketika dihadapkan oleh pilihan, merasa sedih ketika dikepung oleh keraguan, dan pergimu membuat ku kesakitan
- mgufronkhairulw
