"Jaman sekarang segalanya serba anonim," ujar Arion yang kedua jempolnya tengah asyik memainkan game di ponsel pintarnya. Sejenak matanya melirik Delvin, teman sekamarnya yang tengah mencuci perabotan makan dan minum. "Pendapatmu?"
Tidak ada yang luput di flat apartemen nomor 26 untuk dibersihkan jika Delvin memiliki waktu luang. Pria berambut cepak dengan codet vertikal di pipi kirinya tersebut menjadikan perawatan lingkungan tinggal sebagai prioritas kedua setelah urusan pekerjaan. Ia menikmatinya secara expert. Dan Delvin Elvano adalah gambaran sempurna seorang penikmat sejati yang tidak mentolerir gangguan dalam bentuk apapun selagi dirinya sedang menjalankan hobinya.
Tetapi karena pekerjaan kantornya hari ini lancar dan besok adalah libur akhir pekan, ia bisa berbaik hati malam ini.
"Tren akan berakhir," jawab Delvin.
"Kau menganggap 'serba anonim' itu bagian dari tren?" Dengan sigap Arion memberikan pertanyaan lanjutan. Otot di antara kedua alisnya mengerut akibat menemukan genre adventure kali ini ternyata lebih sulit dari yang dibayangankan.
"Terserahmu sih," balas Delvin skeptis.
Dan itu adalah cara paling efektif 'membunuh' percakapan yang tidak dibutuhkan. Selalu berhasil menghentikan ocehan Arion.
"Tumben," ucap Arion. "Kau tampak senang hari ini."
"Benarkah?" Delvin agak terkejut karena Arion berniat melanjutkan dialog yang sebenarnya tidak efektif ini karena keduanya tengah berada dalam intensitas kegiatannya masing-masing.
"Ngomong-ngomong, kau tau aplikasi terbaru itu?"
"Yang mana?" balas Arion yang mendadak jengah dengan rentetan kegagalannya menghadapi pemain daring dari Singapura. Ia melempar 'layar 6 inchi' yang dibelinya sebulan lalu di sebuah bazar ke permukaan kasur busa, tempat tidurnya, di pojok ruangan yang bersebelahan dengan lapisan kaca yang berfungsi sebagai jendela visual yang tidak bisa dibuka. Sangat luas dan leluasa menghadirkan pemandangan Chinatown.
"Priva Messenger." Delvin mempertimbangkan informasi yang akan dirinya sampaikan. Sebagai polisi cyber, ia mendapatkan informasi yang tidak umum, dan tidak boleh orang sembarangan tahu. Karena itu, Delvin perlu mempertimbangkan opsinya sekali lagi.
Arion Ivander adalah kerabat dari keluarga sang ibu. Bisa dibilang lelaki yang mengenyam pendidikan teknologi informasi di univertas tersebut adalah sepupu jauhnya. Mempertimbangkan jarak tempat Arion menuntut ilmu dengan kantor kepolisian metropolitan tempatnya berkerja yang berdekatan, Delvin menawarkan tempat tinggal untuk anak itu. Karena umur keduanya yang hanya terpaut tiga tahun, suasana keakraban cepat terbentuk. Bahkan Delvin menolak Arion untuk memanggilnya kakak.
"Kami sedang menyelidiki aplikasi tersebut." Akhirnya Delvin memberanikan diri untuk melanggar prosedur, yang sebenarnya sudah seringkali ia lakukan. Pria yang sudah putus asa menjalin cinta itu hanya membocorkan beberapa informasi. Arion memiliki pemikiran yang cerdas dan telah sedikit banyak membantu pekerjaannya sebagai polisi. Tanpa sadar Delfin telah menceritakan seluruh kasus yang ia selidiki di musim dingin.
YOU ARE READING
ASAP (DELAY ON GOING)
Mystery / ThrillerSebuah surel misterius diterima oleh kantor polisi metropolitan di komputer yang berada dalam jaringan server tertutup. Opsir Delvin bekerja keras melacak si pengirim surel yang ia yakini memiliki hubungan dengan kasus hilangnya seorang polisi
