POV Alice
"Rantih?!" Seketika aku terlonjak dari ranjang, kala ayah berteriak pada bunda.
"Apa yang terjadi?" lirihku dalam hati, tak biasanya ayah berkata kasar pada bunda.
Aku bangkit dari ranjang, berjalan hingga ke ambang pintu. Terdengar jelas keributan yang terjadi luar, benar ayah dan bunda tengah bertengkar kala aku lihat dari celah pintu.
"Aku cape hidup miskin, mas," ucap bundaku seraya pergi meninggalkan ayah yang wajah sudah memerah menahan amarah dan tanpa diduga air matanya turun begitu saja. Aku tak pernah lihat ayah menangis seperti itu.
Tubuhku runtuh seketika. Rasanya begitu sakit kala setiap ayah pulang aku harus menyaksikan perselisihan mereka, hanya karena ayah tak pernah membawa uang banyak, atau mungkin karena hal lain. Aku tak pernah mengerti arah pembicaraan mereka.
"Ayah." Aku beranikan diri menghampiri ayah yang tengah tertunduk di lantai.
"Alice, anak ayah udah bangun?" ucapnya dengan tersenyum yang membuat hatiku bagaikan tersayat sembilu.
"Ayah," teriakku seraya memeluknya.
"Alice, jangan nangis sayang. Maafin ayah, yah! Ayah belum bisa bisa bahagiain Alice."
Tak mampu untukku berkata-kata, aku hanya bisa menangis semakin kencang seraya menggelemkan kepalaku dalam pelukannya.
"Ayah, jangan tinggalin Alice" lirihku disela-sela tangis yang hampir reda.
"Alice jangan nangis, yah sayang. Ayo makan, ayah udah masak buat Silvi."
Aku bukan gadis kecil yang tak mengerti dengan keadaan keluarga aku benar-benar paham yang telah terjadi dengan keluargaku. Dan rasanya menyakitkan, kala harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa keluargaku tak benar-benar rukun.
"Ayah, gak makan?" saat kulihat ayah hanya duduk menemaniku dimeja makan, seraya menatapku penuh rasa bersalah. Dapat aku lihat kegelisahan di wajahnya yang amat begitu tampan di mataku. Dan dahinya berkerut pertanda banyak beban yang singgah dipikirannya.
"Ayah udah makan kok," ucapnya seraya mengelus kepalaku lembut.
"Ayah bohong yah? Ayah gak mungkin makan duluan, sebelum Alice makan." Aku tahu itu, dia ayah yang tak pernah menghabiskan makannya seorang diri.
"Udah makan berdua aja bareng Alice." Segera aku duduk disampingnya dengan menyerahkan sendok padanya.
Rasanya begitu nikmat. Saat menikmati sepiring nasi goreng berdua bersama ayah. Aku bersyukur, ayah begitu menyayangiku.
___
POV Rantih
"Rantih, kenapa kamu masih mendekati lelaki itu?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir suamiku.
"Mas, kamu udah miskin mas. Aku gak mau hidup susah." Aku benar-benar muak jika terus hidup dalam kemiskinan ini.
"Apa kamu lupa, apa yang pernah lelaki itu perbuat padamu dulu?"
"Mas aku udah gak peduli. Toh, dia mau menerima aku lagi."
Yah aku tak pernah lupa perbuatan bajingan itu kepadaku. Namun, aku tak bisa lari dari yang namanya uang. Setidaknya lelaki itu harus mati ditangan 'ku.
"Lalu bagaimana dengan Alice, Rantih?"
"Mas aku sudah muak yah. Anak itu hanya benalu bagi hidupku. Lagian dia sudah besar dan pantas tau apa yang ibunya perbuat," ucapku dengan penuh penekanan.
"Rantih?!" bentak mas Burhan padaku, dengan wajah penuh amarah
"Apa yang salah? Toh, benarkan dia hanya benalu bagiku. Udah deh mas jangan munafik. Kamu bangkrut karena benalu itu."
"Aku capek hidup miskin, mas."
Segera aku berlari pergi dari hadapannya. Menyusuri jalan ramai yang terasa seorang diri bagiku. Kakiku lelah, aku duduk di halte bus di kota itu. Sesekali mataku menyusuri tempat tiap tempat yang dulu aku singgahi sewaktu kecil.
[25 tahun yang lalu...
"Mamah...."
Teriak anak gadis perempuan berusia 5 tahun itu. Ia tak tahu jalan pulang, dan harus kemana ia mencari ibunya. Entah kenapa ibunya begitu marah saat ia ingin bermain bersama sepupu sebayanya.
Entah karena apa ibunya membawa kejalan dan meninggalkan seorang diri didepan ruko yang sudah lama tutup. Berhari-hari ia mengusir jalan dan kembali ke ruko berharap ibunya datang menjemputnya.
Harap hanya tinggal harap kala dia berakhir hidup di rumah panti.]
Tanpa aku duga air mataku sudah mengalir begitu saja, membayangkan masa kecilku yang tak pernah tahu bagaimana rasanya hidup dengan kasih sayang orang tua. Setiap hari hanya pukulan yang aku dapatkan. Begitukah mendidik seorang anak?
'Alice' kenapa anak itu harus hadir dalam celah hidupku dan membawaku dalam curang kemiskinan dan menyusahkanku. Harusnya aku mendidiknya dengan cara ibuku, agar dia tahu sakitnya jadi aku.
Seketika aku tersadar dari lamunanku, saat ponselku tiba-tiba berbunyi.
"Halo"
["..."]
"Aku di halte"
["..."]
"Aku tunggu yah, bye."
ESTÁS LEYENDO
Aku adalah Gadis Benalu
Novela JuvenilBagaimana kiranya aku bisa terlahir menjadi benalu bagi ibuku sendiri?
