Sorrowful Day, Beautiful Life.

54 8 2
                                        

Suasana hari itu tidak terlalu cerah, pun tidak mendung. Membuat aku yang sedang merasakan kepiluan membayangkan begitu tenangnya jika melihat deburan ombak sendirian.

Ditemani musik yang berjudul "Beautiful " dari salah satu soundtrack drama Korea Selatan yang pernah aku tonton. Walaupun sebenarnya akhir-akhir ini aku tidak terlalu menyukai musik, jika mendengarkan musik terlalu lama kepalaku akan terasa berat dan perutku mual, entah apa sebabnya. Padahal sebelumnya hampir setiap malam aku menyumbat telingaku dengan earphone.


Aku mendengarkannya hanya karna aku menyukai salah satu bagian dari liriknya yang berbunyi sorrowful  day dan dibagian lainnya berbunyi beautiful Life. Ya, aku berharap bahwa apa yang sedang aku alami ini hanya sebuah hari yang menyedihkan ditengah kehidupan yang indah, walaupun ternyata hari yang menyedihkan itu berjalan dengan berkepanjangan.

Selesai shalat dzuhur aku melajukan motor dengan kecepatan sedang, menikmati angin jalanan sesaat sebelum aku sampai di salah satu pantai yang dekat dengan kediamanku. Disepanjang jalan kulihat raut-raut wajah dengan kelelahan yang menumpuk, dan pikiran yang kalut. Ternyata yang sedang merasakan kepiluan tidak hanya aku.

Setelah kurang lebih 15 menit di perjalanan akhirnya aku sampai. Kebetulan hari ini bukan weekend, jadi tempat ini tidak terlalu ramai.

Aku memilih tempat yang paling sepi dari yang sepi.
Sebuah pondok kecil bertiangkan bambu tanpa dinding ku pilih sebagai naungan, sehingga angin yang ternyata cukup kencang saat itu berhasil menerbangkan ujung-ujung jilbabku.

Aku menunduk menatap pasir-pasir yang singgah di kaki ku karna terbawa angin, kuputar lagu (beautiful) yang dibawakan oleh salah satu penyanyi yang berasal dari Negri Ginseng tersebut.

Tanpa terasa air mataku sudah mengalir menyusuri pipiku. Aku menghapusnya, namun kepiluan itu semakin menyesakkan.
Akhirnya dia terjatuh lagi dan lagi. Aku membiarkannya kali itu, membiarkan semua kesedihan dihatiku mengalir bersama air mata yang terbuang.

Dari belakang punggung, aku mendengar langkah kaki seseorang sedang berjalan ke arahku. Dengan spontan Aku menghapus air mata yang masih mengalir cukup deras, takut jika orang itu melihatku dalam keadaan yang begitu menyedihkan. Apa yang akan dia fikirkan nanti? Terlebih jika ternyata kami saling mengenal, mungkin akan ada banyak pertanyaan yang akan dia ajukan.

"Ranum ya? "

Aku menoleh ke arahnya, melihat siapa pemilik suara itu. Yang jelas dia adalah laki-laki dengan suara yang familiar bagiku.

"Pak Daniel? Iya Pak betul, saya Ranum"

Ternyata dia adalah guruku saat di SMA dulu. Selama 2 tahun berturut-turut Pak Daniel juga menjadi Wali kelasku, tepatnya dikelas 10 sampai kelas 11.

"Kamu lagi main? Kok sendirian? Di jam segini lagi"

"Hehe.. Lagi pengen sendiri aja Pak. Mmmh, Di jam segini gimana ya Pak? "

Jujur saja suasana cukup canggung saat itu, hubungan kami sebagai guru dan murid bisa dikatakan tidak terlalu dekat. Hanya sebatas tau saja bahwa Pak Daniel adalah guruku dan aku muridnya, aku cukup bingung memilih jawaban apa yang pantas dan sopan untuk aku katakan.

Entahlah aku memang tidak sedekat itu dengan guru-guru saat sekolah dulu. Berbeda halnya dengan teman-temanku yang lain. karna bagiku terlalu dekat dengan guru itu beresiko, karna aku adalah manusia yang gak bisa ngerem mulut kalau ngerasa udah akrab sama seseorang. Jadi aku menghindari apa yang bisa membuat aku menyesal di kemudian hari.

"Iya. Kan biasanya orang-orang pilih waktu sore atau pagi, kalau pagi biar bisa berenang dan kalau sore biar bisa foto-foto sama sunsetnya"

"Oalah, nggak Pak. Kebetulan aja lagi pengen. Cuaca siang ini cukup bagus kok Pak. Nggak terlalu panas dan nggak mendung juga,"

ucapku mulai melepaskan kecanggungan.

"Oh iya, Bapak sendiri kenapa?"

"Kenapa gimana?"

"Kenapa cuman sendiri? Terus kenapa pilih waktu ini?"

Saat ini kira-kira usia Pak Daniel sekitar 30 tahunan, atau lebih? tapi sepanjang pengetahuanku, pak Daniel belum menikah. Aku tidak tahu percisnya, aku hanya mengira-ngira saja.

Selain sebagai guru, yang aku tau Pak Daniel juga seorang penulis blogg, banyak karya epic yang dia tuangkan disana, aku juga sering mengunjungi bloggnya. Selain pintar dan jago nulis Pak Daniel juga cukup tampan, tinggi semampai, dan hidungnya yang mancung cukup membuat siswi disekolahku menjadikannya sosok suamiable atau boyfriend material. Begitu kata mereka, tapi aku tidak pernah punya pikiran kesana. Bukan apa-apa aku hanya bersikap realistis Kalaupun aku suka, Pak Daniel gak mungkin balas perasaanku. Haha

"Oh itu, sama kayak kamu. Bapak juga lagi pengen sendiri. Bapak fikir pantai di jam segini bisa diandalkan untuk hal itu"

"Tapi sekarang bapak sama saya loh,"

Jawabku berusaha mencairkan sedikit suasana.

"Hahaha Tadi sebenernya saya duduk di warung sendirian, cuman gak sengaja liat kamu lewat. Saya ngerasa kalau wajah kamu familiar"

"Dan ternyata?"

"Dan ternyata Ranum, si penulis puisi
Mading"

Mungkin karna aku masih bisa dibilang freshgraduated, baru lulus 2 tahun yang lalu jadi Pak Daniel masih ingat sama aku.

Akhirnya siang itu kami larut dalam obrolan yang panjang. Dia menanyakan banyak hal. Mulai dari kuliah dimana, kerja dimana, kesibukan sekarang apa, sedangkan aku hanya menjawab dengan jawaban yang sama yakni,

"belum ada"

Benar-benar memalukan, begitu tidak produktifnya kah aku? 

Sampai tidak terasa adzan ashar berkumandang. Air mata yang ku pikir akan mengalir deras dalam waktu yang cukup panjang ternyata tertahan oleh kehadiran Pak Daniel.

Saat itu Kulihat Pak Daniel berdiri dan menepuk-nepuk celana panjangnya yang dipenuhi dengan pasir.

"Ranum Bapak pamit duluan yaa. Sudah ashar, kamu juga harusnya pulang. Biar nggak telat asharan nanti"

"Oh iya Pak, Silahkan. Ranum juga mau pulang kok Pak, mau asharan dirumah" Jawabku mempersilahkan.

Pak Daniel berlalu pergi mendahuluiku, dia melajukan motor maticnya hingga punggungnya menghilang dari pandangan, karna melewati belokan.

*******

RANUMWhere stories live. Discover now