Johnson Anne, ketua polisi yang dinyatakan meninggal 17 januari 2010. Bersama kedua putrinya, Moona Anne dan Ambar Anne. Meninggal karena kecelakaan mobil saat akan menghadiri pesta ulang tahun putri kecilnya di Bandung.
"Starla.."
Starla Anne, putri terakhir dari keluarga Anne. Tersadar dari lamunan singkat yang selalu menyayat hatinya. "Kenapa Bun?"
"Temen-temen udah dateng." Bundanya, Sisca Andayani Anne, memegang pundak putrinya.
Starla menepis pelan lengan bundanya, ia menggeleng cepat. "Starla kan gak suka dirayain, Bun."
Sisca menghela nafasnya, "Bunda tau Star, tapi ini sweet seventeen kamu masa gak dirayain.'' ia menggenggam lengan Starla, mencoba membujuknya agar mau.
Starla menggelengkan kepalanya lagi. "Starla gak mau bunda, gak perlu dirayain segala."
"Iya bun, gak perlu!"
Bukan Starla, bukan juga Sisca. Itu satu-satunya anak lelaki di keluarga Anne, yang merupakan anak tertua. Selisih 3 tahun dengan Starla.
Langit pramono Anne, hanya seorang anak angkat, untuk memancing Sisca yang saat itu sulit untuk hamil. Memang aneh, tapi banyak yang begitu. Mengangkat anak habis itu hamil. Itu terjadi pada Sisca.
"Ngerayain ultah itu pembunuh sama aja ngerayain kematian Ayah, Ambar sama Moona! Seolah-olah kalian suka mereka mati!"
Pembunuh, itu yang selalu tersimpan dalam setiap kata yang keluar dari mulut Langit untuk Starla. Starla selalu dianggap penyebab kematian ayah dan saudari-saudarinya.
"Langit! Jaga bicara kamu!" Sisca menunjuk Langit saat melihat perubahan ekpresi Starla yang terlihat jelas. Lagi-lagi, Starla dibuat murung oleh Langit.
S yang paling merasa kehilangan sosok Ayah karena kedekatannya dengan sang Ayah yang begitu erat. Dan ia juga selalu menyalahkan Starla untuk kematian ayah dan saudari-saudarinya.
Langit membenci Starla, singkatnya begitu.
"Kak Langit bener kok, Bun. Starla gak mau merusak suasana, seharusnya kita berdoa ke makam ayah bukannya ngerayain ulang tahun Starla."
Langit tersenyum miring. "Cuih, gue sama bunda yang harusnya kesana. Kehadiran lo gak pernah diinginkan sama mereka!"
Starla terdiam. Kepalanya menunduk, ia kesal sebenernya tapi tak berani melawan. Starla anak paling penurut, paling baik dan tak pernah bertingkah. Langit itu kakaknya, walau bukan kakak kandung tapi dia tetap kakaknya. Dan bagaimana pun Starla harus menghormati kakaknya, orang yang lebih tua darinya.
"Langit udah! Kamu ini, bicara yang lembut sama adik kamu! Kenapa harus membentak terus, bunda gak pernah ngajarin itu ke kamu ya Langit!" Sisca geram, ia mengerti kenapa Langit seperti itu tapi ia tak pernah tega melihat Starla selalu disalahkan.
"Emang bener kan bun? Starla yang udah ngebuat Ayah, Ambar sana Moona meninggal. Kalau aja dia dulu gak maksa mereka dateng, mereka gak akan meninggal!" Langit langsung pergi, setelah mengucapkan kata-kata yang selalu membuat hatinya Starla sakit.
Starla tersenyum miris. "Bunda sama Kak Langit duluan aja ke makamnya, entar Starla nyusul."
Sisca menggelengkan kepalanya. "Seenggaknya kita makan-makan dulu, kasihan temen-temen kamu yang udah dateng."
"Iya Bunda, nanti Starla temuin mereka. Bunda susul kak Langit ya bun." Sisca mengangguk menanggapi permintaan dari putrinya. Ia selalu salut pada Starla, selalu tak ingin melihat siapapun tersakiti walau dirinya sendiri merasa sakit.
