Pertemuan
Pesawat mendarat dengan sangat mulus di tengah terik matahari pagi. Aku bahkan tak sadar bahwa pesawat yang kunaiki sekarang ini bersama dengan kakak ku kak Arga sudah berhenti dan beberapa penumpang sudah turun dari pesawat. Aku menguap sambil meregangkan otot-ototku lalu bangkit meninggalkan kursi penumpang. Para pramugari cantik sudah menunggu kami di depan pintu keluar. Mereka memberi salam kepada kami. Tapi suaranya tak begitu terdengar. Ini perjalanan pertamaku menggunakan pesawat. Telingaku seperti kemasukan air. Berdengung dan tak bisa mendengar dengan baik. aku melangkah keluar pesawat mengikuti kak Arga sambil menyeret koper kecilku. Aku melihat sekitarku, ini bandara kedua yang ku datangi. Setelah bandara tempatku terbang pastinya. Orang-orang berjalan searah dengan kami. Beberapa cleaning servis justru pergi ke arah sebaliknya. Kami menuju ke tempat pengambilan barang. Aku masih sibuk memperhatikan sekeliling. Bandara ini lebih besar dari bandara sebelumnya, bandaranyapun lebih ramai dan luas. Bangunannya terlihat sangat mewah dan beberapa turis juga terlihat lalu lalang di tempat itu. aku tersenyum melihat mereka. Membayangkan betapa menyenangkannya bisa bertemu dengan orang-orang baru nantinya.
Ini adalah perjalanan pertamaku. Setelah lulus dari SMA, dan di terima di perguruan tinggi disini, aku langsung berangkat kesini bersama kak Arga yang juga punya kerjaan disini. Ini mungkin saja perjalanan pertamaku, tapi bagi kak Arga ini sudah seperti pergi ke rumah tetangganya. Ia sudah terbiasa melakukan perjalanan. Hidupnya diisi dengan petualangan, bapak memberikannya kebebasan mencari jati dirinya sendiri. Selama itu baik, bapak tak pernah sedikitpun bertanya dan protes tentang apa yang kak Arga lakukan. Dan itu cukup menjadi alasan bapak melepas kami berdua di tempat ini. Kak Arga akan menjaga dan memandu ku selama kami berada disini. Walaupun pada dasarnya ia juga baru pertama kali kemari. Ah aku lupa, kami memang pernah kemari. Saat aku masih kelas 2 SD. Tapi itu tak terhitung. Karna kami bahkan lupa apa yang terjadi dan kami juga hanya 2 hari berada disini bersama bapak. Walaupun aku tak menyangka 2 hari itu sudah mengubah hidupku sedemikian hingga.
"gea, itu tas kamu. Ambil cepet. Kita masih harus cari mobil lagi loh buat cari alamat kontrakan kita." Aku segera mengambil tas yang dari tadi berjalan di depanku. Kami keluar bandara dan mengambil salah satu taxi yang terparkir di depan bandara. Kak Arga membantu pengemudi taxi mengangkat barang-barang yang kami bawa selama penerbangan. Aku melihat sekeliling bandara. Bandara itu lebih ramai dua kali lipat dari bandara di kotaku sebelumnya. Orang-orang berlalu lalang, ada yang saling berpelukan, ada yang saling melambai, ada pula yang sedang berfoto-foto selfi. Aku tersenyum sebelum masuk kedalam taxi. Taxi itu melaju menembus kerumunan dan keluar dari bandara sebelum kami menyadarinya. Pengemudinya bersenandung membunyikan musik cukup keras. Ia cukup ramah, sejak tadi ia mengajak kami bercerita. "kalian baru pertama kali ke kota ini?"
"saya sudah dua kali kesini pak, tapi saat pertama kali kami masih sangat kecil." Kak Arga menjawab pertanyaan pak taxi itu mewakili ku.
"oooh, pantas saja adikmu itu masih malu-malu sekali" aku mengangguk tersenyum
"hahaha.. dia sedang jetlag pak. Aslinya dia tidak bisa berhenti bicara" aku menyikut kak Arga yang sibuk sekali menjelaskan tentangku pada orang baru di kota ini. Ia hanya tertawa sambil mengacak rambutku. Sopir taxi itu pun ikut tertawa. Mereka bercerita banyak topik pembicaraan. Mulai dari kebiasaan orang sini sampai begal di malam hari yang sangat rawan. Aku meringis mendengarnya sambil terus menatap gedung-gedung yang menjulang tinggi selama perjalanan kami. Kami sampai terjebak macet beberapa kali karna banyaknya kendaraan yang keluar disiang hari ini.
Berselang 50 menit kami akhirnya sampai di perumahan yang akan kami tinggali. Laju mobil taxi yang kami naiki mulai melambat sambil terus mencari nomor rumah kami. Tak jauh dari pintu gerbang kami menemukan alamat yang kami cari. Mobil itu berhenti bersamaan dengan ponselku yang berbunyi "pika-pika-pikaaaachu-pi-pika-chuuuuu!!" dengan sangat keras. Nama 'mama' tertera di layar ponselku. Aku keluar dari mobil sambil mengangkat telpon mama.
YOU ARE READING
Belian's Tree
Romancehei, Dosen Galak itu suamiku!! kami bahkan tak pernah bertemu lagi setelah kami di nikahkan selama delapan tahun yang lalu. dia si paman kaki panjang yang sudah melindungiku selama 8 tahun pernikahan kami. kami bahkan punya perbedaan umur 10 tahun...
