Semua berawal ketika keponakanku membawa seekor kucing jantan lucu dan imut berwarna orange ke rumah. Sekilas, kucing itu tampak biasa saja seperti kucing-kucing lainnya, tapi aku merasakan hal yang aneh dan berbeda pada kucing itu ketika melihatnya...
Bocah berumur sepuluh tahun itu tampak iba ketika melihat seekor kucing jantan berwarna orange yang tampak kumel di rerumputan halaman belakang rumahnya. Tidak ada yang tahu itu kucing milik siapa, entah datangnya darimana tiba-tiba saja kucingku itu ada disana.
Dengan kedua mata berbinar Arjuna mendekati kucing itu perlahan, namun kucing orange itu mundur dan tampak ketakutan saat melihat Juna semakin mendekatinya.
"Nissss," ucap Arjuna mencoba membujuk kucing itu agar mendekat dengan panggilan untuk kucing pada umumnya. "Sini," sambung Arjuna lembut sembari tangannya bergerak melambai-lambai pada kucing itu.
Dan ... Ajaib!
Kucing itu menurut dan kini melangkah mendekat pada Arjuna yang langsung menggendongnya tanpa rasa jijik. Di elusinya dengan sayang bulu kucing orange itu yang sangat lembut.
Dengan perasaan bahagia Arjuna membawa kucing yang ia gendong ke dalam rumah. Arjuna pun lantas membawa kucing orange itu ke dalam kamar mandi dan berniat untuk memandikannya. Tapi, baru saja terkena air sedikit kucing itu lari setelah mencakar lengan Arjuna yang langsung menjerit kesakitan.
Alika yang mendengar suara jeritan anak kecil pun langsung panik dan buru-buru keluar dari kamarnya. Ketika suara jeritan itu kembali terdengar Alika mengenalinya, itu adalah suara jeritan keponakan cowoknya. Alika mendengar suara jeritan Arjuna berasal dari kamar mandi, lantas ia pun segera melangkah kesana.
"Ya ampun! Sayang, kamu kenapa?" tanya Alika khawatir melihat keponakannya yang menangis.
Arjuna menunjukkan salah satu tangannya yang bekas cakaran kucing orange tadi, mata Alika mendelik sempurna melihat tangan sang keponakan. Alika mengamati dengan teliti luka yang di dapat Arjuna.
"Ini bekas cakaran kucing?" tanya Alika yang di angguki Arjuna, "kucing milik siapa? Seingat Tante, kita tidak melihara kucing."
Arjuna mengangguk membenarkan ucapan Alika, "tadi saat bermain di halaman belakang, Juna melihat seekor kucing jantan berwarna orange, Tan." kata bocah itu mengatakan yang sejujurnya.
"Kucing orange? Di halaman belakang?" Arjuna mengangguk lagi, "kucing milik siapa itu?" Arjuna menggeleng.
"Tidak tau, tapi kerena warnanya cantik Juna membawanya masuk ke dalam rumah."
"Dan berniat untuk memandikannya?" Arjuna nyengir ketika Alika begitu benar menebak apa yang tadi ingin di lakukannya.
Alika geleng-geleng kepala tak habis pikir dengan sang keponakan kecilnya. "Sayang, kucing itu takut air dan tidak mandi. Jelas saja kamu di cakarnya sampai seperti ini."
"Maaf Tante," lirih Arjuna menunduk sedih.
Alika tersenyum melihat perasaan bersalah yang di miliki Arjuna, dan pasti keponakannya itu berpikir jika ia tengah marah saat ini.
"Ayo, biar Tante obati lukamu." ajak Alika dengan lembut.
Sejenak Arjuna terperangah, kaget karena tak percaya dengan reaksi Alika yang sama sekali tak marah. "Tante gak marah?" tanya Arjuna hati-hati.
Alika menyipitkan matanya pada Arjuna, "oh, jadi Juna suka lihat Tante Lika marah ya."
"Enggak!" sahut Arjuna dengan polosnya.
"Sekarang katakan pada Tante, dimana kucing itu?" Arjuna menggelengkan kepalanya tanda tidak tau karena memang setelah habis di cakar tadi Arjuna tidak melihat kemana arah perginya si kucing orange tersebut. Dan Alika menebak jika kucing itu pastinya sudah pergi dari rumahnya.
*****
Saat malam hari menjelang dan waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dengan mulut yang menguap beberapa kali Alika memutuskan untuk tidur. Ia membaringkan tubuhnya di single bed yang berukuran tak terlalu luas, kemudian memejamkan matanya yang tak berapa lama langsung di sambut oleh dunia mimpi.
Dalam mimpinya Alika melihat sesosok pria dengan badan kekar tengah berdiri di depan jendela kamarnya yang terbuka. Angin malam menerpa kain hordeng dan juga surai panjangnya yang berwarna hitam legam, namun sama sekali tak mengusik pria itu yang masih setia membelakangi Alika. Dalam hatinya Alika sangat penasaran dengan wajah pria itu, apakah tampan? Atau jelek? Ataukah mungkin menyeramkan bahkan sangat mengerikan?
Tiba-tiba saja Alika bergidik ngerih, bulu kuduknya meremang tinggi merasa takut pada sosok itu.
"H-halloo," ucap Alika berusaha menyapa pria itu dengan kebingungan. "Si-siapa kau?" tanya Alika dengan suara bergetar dan terbata.
Kentara sekali jika Alika tengah di liputi ketakutan yang luar biasa. Yang anehnya malah sama sekali tak memberikan efek apapun pada pria itu yang masih setia dengan posisinya
Ya Tuhan! Aku takut, siapa sebenarnya pria ini? batin Alika dalam mimpinya.
"Hei, kau tuli ya!" bentak Alika yang sudah tak tahan pada situasi ini, persetan dengan pria itu yang mungkin saja memang beneran setan.
"Jawab aku! Siapa sebenarnya kau ini, huh?!" ulang Alika bertanya sekali lagi.
"Aku ada untuk mengawasimu, mulai saat ini." kata pria itu dengan suara beratnya. Terdengar sangat jantan dan maskulin sekali. Membuat diri Alika terpesona untuk beberapa saat sebelum ia kembali tersadar.
Apa dia bilang? Dia ada untuk mengawasiku mulai saat ini? Apa dia sedang bercanda?!
"Tidak cantik, aku mengatakan yang sebenarnya dengan sangat serius karena ... Kau milikku!"
Deg!
Tbc....
Gimana part ini? Suka gak?
Baca, vote dan komen ya kesayanganku 😘
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Minta doanya juga ya buat si oren yang sekarang sudah tenang di alam barunya. 😢😘