Hai. Namaku Rudi. Lengkapnya Muhammad Rudi. Namaku simpel, bukan? Kuharap kalian dapat mengingatnya dengan mudah. Setidaknya, mungkin itu yang dipikirkan orang tuaku ketika memberiku nama itu. Padahal, aku sempat berharap punya nama tengah yang keren seperti "Jackson", "James", atau "Jeremy" barangkali, atau sesuatu yang dimulai dengan huruf J lainnya. Oke, sudahlah.
Aku keturunan suku Sunda asli. Aku tinggal di daerah kota yang tidak kota-kota amat. Aku suka sekali menonton dan membaca buku. Mungkin itu sebabnya aku bisa menulis buku dan memiliki selera humor yang aneh. Aku tinggal bersama kedua orang tuaku dan seekor~maksudku, seorang adik yang baru berusia 3 tahun. Usiaku sendiri hampir menginjak 19 tahun. Itu saat aku menulis buku ini. Omong-omong, judul bukunya lumayan keren, ya?
The Small Print, tidak terdengar seperti merek perkakas kantor kan? Dan selanjutnya, Kisah Cinta Rudi. Oke. Sebagian besar cerita di dalam buku ini memang berisi tentang cinta. Cinta yang aku bahas di sini bukanlah cinta murahan seperti kisah antara tiga orang sahabat yang saling menyukai satu sama lain, yang kemudian salah satunya divonis tak bisa hidup lama-lama sehingga cerita itu dipenuhi dengan drama. Aku sih, suka ide itu. Tapi, tidak terima kasih.
Kisah ini juga tidak mengangkat tema religi, seperti ketika ada seorang pria jalanan dengan brewok dan tato jatuh cinta kepada wanita alim yang berhijab. Lalu pria itu mendadak berubah menjadi "ustadz" dan berhasil menaklukkan si wanita baik-baik. Gak, deng. Aku benci yang satu ini.
Maksudku ayolah, semudah itukah seorang pria menjadi ustadz dengan begitu cepat sebagai dalih mendapatkan seorang wanita? Setahuku, untuk menjadi ustadz tidak semudah itu. Mereka belajar ilmu agama selama bertahun-tahun dan berupaya keras menjadi seorang ahli ibadah. Hal tersebut nampaknya amat berat, mengingat mereka akan menjadi panutan masyarakat. Maaf, aku mulai melantur.
Intinya, kalau kalian menginginkan cinta penuh drama yang berakhir dengan pelukan dan kecupan, atau kisah sepasang remaja religius yang saling mendoakan sambil curi-curi pandang, maka kuperingatkan saja. Kalian membaca buku yang salah.
Di sini, kau harus tahu bahwa kisah cinta tidak mesti tentang perempuan (atau cowok ganteng) melulu. Ada berbagai jenis cinta di dunia ini. Mulai dari keluarga, pekerjaan, sosial, agama, hingga caramu memperlakukan kucing peliharaanmu. Semua itu tak terlepas dari yang namanya cinta.
Mungkin aku bukanlah seorang pakar cinta. Namun aku pikir, aku sudah lumayan cukup mengenal banyak hal tentang cinta. Aku sadar, Aku tidak akan pernah cocok kalau harus menjadi seorang pemeran utama dalam kisah telenovela yang berisi adegan-adegan aduhai tentang sepasang kekasih. Asal kau tau saja, Aku bukanlah pangeran kaya. Aku tidak sekeren Justin Bieber. Kulitku tidak semulus Jung-Kook atau Jimin BTS (Aku tidak terlalu mengenal mereka, tapi sahabatku ngefans berat dengan mereka.) Aku juga bukan pengendara motor jadul yang suka tawuran dan pandai melontarkan kata-kata dalam puisi romantis yang indah nan menyayat hati (Aku membicarakanmu, Dilan. Dan, makan tuh puisi.)
Selain itu, pengalamanku dengan para wanita tidak bagus-bagus amat. Aku punya beberapa kenalan wanita cantik ~nanti aku perkenalkan kalian dengan mereka. Tapi aku yakin, tak ada satupun dari mereka yang menyukaiku. Kami hanya sebatas berteman dan.. Yap, begitulah.
Bagaimana dengan mantan? Semasa SMP dulu (yang kusebut sebagai masa jahiliyahku) aku pernah memacari beberapa wanita. Bukan wanita-wanita yang keren, sih. Itupun hanya sebatas "Hai, kamu cantik. Aku suka kamu. Kita pacaran, yuk?" Kemudian si wanita berkata "Oh, boleh tuh, aku juga baru diputusin, nih." Belum pernah tuh, aku jalan berduaan, bermesraan, kemudian dengan mudahnya berkata, "Sungguh, wahai belahan jiwaku, aku mencitaimu karena Allah. Aku akan akan berdoa agar terus bisa bersamamu sampai ajal menjemputku." (Adakah yang merasa mual di sini? Kalau ada, ayo kita keluarkan bersama-sama. Hueeek.)
Pokoknya, begitulah. Saat itu pacaran hanya kuanggap main-main saja. Sampai suatu saat~ Hmm, kupikir alangkah baiknya kuceritakan itu lain kali saja. Hal itu terlalu banyak mengingatkanku akan zaman kebodohanku dan membuat banyak penyesalan diantaranya. Nanti saja kuceritakan. Harap bersabar, pembacaku yang budiman. Lagipula, cinta sejati akan datang pada saat yang tepat bersama orang yang tepat. Iya, kan?
Baiklah, sampai mana kita tadi? Oh, iya. Kehidupan ini, khususnya kehidupanku, tak pernah luput dari yang namanya cinta. Kau pasti pernah mendengar kata-kata bijak seperti, "Sesuatu yang kau lakukan dengan cinta hasilnya akan sangat luar biasa." Belum pernah dengar? Oke, itu hanya karanganku saja.
Asal kau tahu ya, itulah yang sebenar-benarnya kurasakan. Sesuatu yang berawal seperti "Ih, mereka kenapa seperti itu sih, gak ada kerjaan," menjadi "Hey, ternyata tidak buruk juga," sampai "Wow, aku tak akan pernah meninggalkan hal ini." Luar biasa, bukan?
Pokoknya, cinta adalah energi yang dapat mengubah segala keadaan disekitarmu, yang entah seberapa buruk keadaannya, menjadi sesuatu yang terasa indah. Selain itu, terkadang cinta seperti alunan musik K-Pop yang membuat kita ingin berjingkrak-jingkrak saking bahagianya (Serius, nih. Temanku yang K-popers itu terlalu banyak mengisnpirasiku.) Terkadang seperti alunan keras ala Linkin Park yang membangkitkan semangat nan membara. Terkadang juga terasa amat lembut menyentuh hati bagai lantunan suara Nissa Sabyan. Kalau saja aku adalah seorang filsuf yang bisa menjelaskan makna terdalam tentang cinta, akan kutuliskan secara lengkap sekarang juga agar kalian semua paham. Namun, apa mau dikata. Pokoknya, cinta itu "Satu Rasa dalam Sejuta Bahasa." (Ungkapan yang bagus, kawan!)
By the way, selain berisi kisah cinta diriku sendiri, dalam buku ini aku akan mengisahkan beberapa orang hebat yang secara teknis telah mengajarkanku berbagai hal tentang cinta. Namun tetap saja, di sini akulah yang akan menjadi pemeran utamanya.
Omong-omong, perkenalan yang bagus, kan? Kuharap kalian akan menyukai kisah hidupku ini, syukur-syukur kalau kalian dapat memetik hikmahnya. Pihak dari penerbit bilang, kalau 3 bab pertama dari bukumu menarik, kemungkinan besar pembaca akan menyelesaikan membaca bukumu sampai akhir. Nah, berhubung sudah kusimpan magnet di bab pertama ini. Aku yakin kalian akan tertarik. Kalian tidak sadar kan, di mana aku menyimpan magnet itu? Baiklah, selera humorku memang payah. Intinya, selamat membaca dan semoga penggalan kisahku ini setidaknya dapat menginspirasi kalian semua...
(Bismillah.. Ini tulisan pertamaku. Bagaimana komentarnya? Mohon saran dan masukannya ya. ☺)
ŞİMDİ OKUDUĞUN
The Small Print : Kisah Cinta Rudi
RomantizmKalau kalian mengharapkan kisah cinta penuh drama yang berakhir dengan pelukan dan kecupan, atau kisah sepasang remaja religius yang saling mendoakan sambil curi-curi pandang, maka kuperingatkan saja. Kalian membaca buku yang salah. Di sini, kau har...
