00

24 1 0
                                        

Libur sekolah menjadi salah satu momen siswa yang tidak terlupakan dan selalu di nanti-nanti.

Awalnya Sisil mengira musim libur akan membuat Ia bebas dari yang namanya tugas sekolah, tapi kenyataannya malah merasa kesepian.

Gadis dengan rambut sebahu di gerai bebas itu menatap indah langit senja di taman dekat komplek rumahnya. Udara di sini cukup bersahabat, tidak terlalu panas dan tidak terlalu mendung.

Terhitung sudah dua minggu Sisil tidak ke sekolah. Masih ada 3 hari lagi buat ke rutinitas seperti biasanya, harus ekstra menunggu akan hari itu tiba.

"Gue heran, biasanya kalau liburan seperti ini gue ngerasa bahagia. Tapi ini, malah sebaliknya." Ucap Sisil sambil mengayunkan kakinya. "Ah iya, gue lupa nanyain kabar mereka. Mana ga bawa handphone lagi."

Sisil melihat matahari sudah mulai terbenam, yang membuat Ia langsung beranjak dari sana untuk pulang ke rumah. Takut, Mamah nya bakal khawatir jika Ia pulang larut malam hari ini.

Ketika ingin menyebrang jalan, gadis itu hampir saja tertabrak sepeda motor yang melaju dengan cepat di depannya. Untung saja, Sisil mengetahui hal tersebut dan langsung menghindar.

"Huft, hampir aja gue ketabrak."

Sisil melihat dari kejauhan sepeda motor tersebut lalu mengingat hari, ternyata hari ini adalah hari Jumat. Sisil bergegas kembali melanjutkan jalannya menuju ke rumah.

Malam hari tiba, Sisil dan keluarganya sedang makan malam. Suasana begitu tenang dan hanya ada suara sendok serta garpu yang berbunyi.

"Besok malam kamu bisa ikut dengan kami, Nak?" Tanya seorang pria paruh baya berusia sekitar 45 tahun, Hendra.

Sisil menoleh ke Ayahnya. "Boleh, Yah. Emang kita mau kemana, tumben ngajak Sisil." Celutuknya sambil mengunyah makanannya.

"Bukan acara formal kok, Nak. Hanya pertemuan keluarga kita dengan keluarga sahabat Ayah kamu, kebetulan mereka udah lama ga ketemu." Jawab seorang wanita paruh baya, Ibunya Sisil, Rina.

Sisil mengangguk paham, "ok deh Bu. Sisil akan ikut."

Hendra dan Rina tersenyum mendengar ucapan Sisil dan menyetujui untuk ikut bersamanya esok.

===

Tak terasa, hari telah berganti. Kini Sisil di buat bingung dengan tingkah laku Rina yang membawakannya banyak gaun indah.

"Ini buat apa sih, Bu? Gaun sebanyak ini untuk apa?"

Rina mengambil satu dress yang berwarna maroon selutut lalu menempelkannya tepat di depan Sisil.

"Ini cocok. Kamu pakai yang ini aja, Nak."

"Ini terlalu mewah, Bu. Sisil pakai yang itu aja ya, Bu." Tunjuk Sisil pada dress yang berwarna putih tulang, terlihat simpel dengan potongan sederhana. Menurutnya pakaian itu tidak akan membuat dirinya terlalu mencolok di acara Ayahnya.

"Engga, kamu pakai dress yang sudah Ibu pilihkan. Ibu tunggu kamu di bawah, ga pakai lama ya Ci" Setelah mengucapkan itu, Rina keluar dari kamar Sisil tanpa mendengarkan respon anaknya.

Sisil mendengus kesal, dengan terpaksa Ia pun memakai dress yang sudah di pilihkan Ibu tersayangnya itu.

Dengan polesan make up yang natural dan rambut yang Ia gerai terlihat sederhana namun mempesona, Sisil pun keluar dari kamarnya dan ikut bergabung bersama Ayah dan Ibunya yang sudah siap.

"Nah 'kan, kamu terlihat cantik dengan gaun ini."

"Emang anak Ibu cantik." Celutuk Sisil yang membuat Rina tertawa kecil.

"Udah, kita berangkat aja sekarang."

"Reyhan ga ikut, Yah?" Tanya Sisil ketika tidak melihat keberadaan adiknya itu.

"Engga. Dia ada acara sama teman-temannya, jadi ga bisa ikut sama kita."

"Andai Sisil tau, bakalan nolak ikut dengan kalian. Ini 'kan acara Ayah dan Ibu pasti di sana rata-rata para orang tua, dan Sisil yang sendiri masih remaja." Sisil mengerucutkan bibirnya, Ia berharap agar tidak ikut bersama kedua orang tuanya.

Rina tersenyum kemudian membukakan pintu mobil dan menuntun anaknya masuk ke dalam mobil, "kamu ga sendiri kok, ntar juga ada ada anak sahabat Ayah kamu disana."

Sisil hanya pasrah, sudah pasti Ia tidak bisa menjawab perkataan Ibunya. Setiap berdebat atau apapun itu dengan Rina, Sisil selalu saja kalah dan itu membuat Rina tersenyum geli.

"Udah, Bu. Kasian Sisil, mukanya di tekuk gitu. Kayak keong yang sembunyi di cangkang." Tawa Rina dan Hendra pun pecah yang membuat Sisil mengerucutkan bibirnya.

"Ayah ih, malah ngedukung Ibu."

Tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun tiba di salah satu restoran mewah. Ramai pengunjung mulai berdatangan untuk makan malam disini.

Setelah memarkirkan mobil, mereka bertiga berjalan masuk dan tiba-tiba ada seorang pelayan yang mendatangi mereka.

"Dengan keluarga Pak Hendra?" Tanya pelayan itu.

Hendra mengangguk, "betul, saya sendri."

"Silahkan ikut saya, Pak."

Mereka pun mengikuti pelayan itu dan memasuki sebuah ruangan VIP.

Setelah kepergian pelayan itu, Sisil melihat Hendra yang sedang bersalaman dengan seorang pria paruh baya, tidak terlalu tua.

Mungkin sahabat Ayah. Pikir Sisil dalam hati kemudian tersentak ketika Rina menyuruhnya untuk duduk.

"Ah iya, Bu."

"Ini anak kamu ya, Rin?" Tanya seorang wanita yang berpenampilan modis sambil tersenyum ke arah Sisil.

Rina mengangguk mengiyakan perkataan Melinda.
"Iya, dia anak aku. Ci, kenalin dia Tante Melinda."

Sisil berdiri kemudian menyalimi Melinda. "Hai Tante, aku Sisil." Ucap Sisil sopan, kemudian beralih menyalimi seseorang yang berada di samping Melinda.

"Halo, Om. Aku Sisil."

"Anak baik, sama kayak Ayahnya." Ucap Reno.

"Iyalah, anak siapa dulu." Balas Hendra.

"Anak kamu ga datang ya, Mel?" Tanya Rina yang membuat semua pusat perhatian tertuju kepadanya.

"Katanya 5 menit lagi udah sampai. Maklum Jeng, kota padat jadi macet."

"Oh iya. Sambil nunggu dia, kita pesan makanan dulu ya." Saran Hendra yang langsung di setujui Reno, Melinda dan Rina.

Sisil? Dia hanya diam menyimak pembahasan para orang tua di depannya ini. Jika bisa mengulang waktu, Sisil bakal menolak untuk ikut.

"Assalamu'alaikum, maaf saya telat."

Semua perhatian tertuju ke arah pintu, tepat berada di belakang Sisil yang membuat Ia terdiam di tempat.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 08, 2022 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Friendzone | Teman Rasa PacarStories to obsess over. Discover now